Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Tarkan


__ADS_3

Jaya Kedua menelan ludah. Sedikit gugup dan ada banyak kecemasan merayap di belakang punggungnya. Dia berkata,


"Apakah kau pikir aku akan takut padamu?"


Tarkan tersenyum tipis, matanya sedikit menyipit menunjukkan keangkuhannya.


"Majulah. Kau bisa mencoba untuk menyerangku. Akan ku tunjukkan perbedaan kekuatan Kegelapan antara dirimu dan diriku." Tarkan melambaikan tangannya, menantang kepada Jaya Kedua.


"Baiklah," jawab Jaya Kedua.


Kekuatan Tarkan begitu misterius. Jaya Kedua tidak begitu banyak mengetahui tentangnya. Jika Tarkan adalah orang yang kembali dari masa depan dan mempunyai kekuatan Kegelapan yang hampir mirip dengannya. Ini adalah kesempatan untuk mengetahui dan menguji kekuatannya Tarkan. Selain itu, kekuatan Tarkan juga terasa sama dengan Monster Beruang Tingkat Level 4.


Jaya Kedua maju menyerang dengan mendorong Pedang Hitamnya ke tubuh Tarkan. Ujung Pedangnya terhenti menusuk tepat di dada tubuhnya. Seolah serangannya tak bergeming, tidak mempengaruhinya sama sekali.


Jaya Kedua melompat mundur, melancarkan serangan Teknik Pedang, mengibaskan tebasan dengan membentuk 100 garis pedang.


Seratus Tebasan Pedang!


Tarkan hanya merentangkan tangannya menyambut seluruh serangan itu untuk mengenainya. Dan tanpa tergores ataupun terluka sedikitpun oleh serangan. Tarkan mengusap debu asap kecil, bekas serangan di dadanya dengan santai.


Jaya Kedua mengernyitkan alisnya. Dia keluarkan Teknik Pedang dengan energi Aura yang menguatkan serangan dan energi Kegelapan untuk menyerang secara bersamaan.


Kilatan Bergemuruh!


Tiga garis berbentuk sabit energi Hitam menyerang. Tarkan tersenyum sinis membiarkan tubuhnya di serang.


"Apakah cuma ini seranganmu? Ini bahkan tidak bisa untuk menggelitik tubuhku. Berikanlah serangan terkuatmu, Jaya." Sindir Tarkan.


Jaya Kedua tertegun. Serangannya itu tak bisa melukainya meski telah dialiri energi Kegelapan dan Aura. Dia merenung sesaat memandang Tarkan yang santai dan tenang.


'Apakah aku harus menggunakan energi gabungan, antara Kegelapan dan Aura itu? Ini belum saatnya...' Gumam Jaya Kedua dalam hatinya.


Jaya Kedua di tangan kirinya mengeluarkan Tongkat Hitam lancip di ujungnya, yang terbentuk dari energi Kegelapan. Dia melompat menerjang lagi ke depan mengarah ke Tarkan untuk menusuk tubuhnya. Tapi Tongkat Hitam itu malah patah ketika membentur tubuh Tarkan.


Sekali lagi Jaya melompat mundur.


Tubuh Tarkan keras dan kuat. Serangan energi Kegelapan dan Aura tidak berpengaruh kepadanya.

__ADS_1


'Apakah ini adalah perbedaan tingkat level kekuatan atau apa? Mungkinkah pemahaman energi kekuatan Kegelapan?' Kata Jaya kedua menggelengkan kepalanya dalam hati seakan tak percaya serangannya tak berpengaruh.


"Tsk… Sungguh mengecewakan. Ku kira kau bisa sedikit menghiburku untuk bertarung. Ternyata kau sama seperti semut-semut yang lainnya." Kata Tarkan dengan raut wajah malas.


"Terimalah serangan ini, kalau kau masih bisa merasa senang setelahnya." Jawab Jaya Kedua tersenyum masam.


"Ayo, tunjukkanlah kepadaku. Kerahkah semua kekuatan Kegelapanmu!" Teriak Tarkan dengan senyum cuek yang mengejek.


Jaya Kedua tanpa ragu lagi ingin melakukan penggabungan energi. Tidak ada pilihan lain baginya. Dia mengerahkan Energi Kegelapan dan Aura ke dalam Pedang Hitamnya. Dia fokus mengarahkan energi dengan memejamkan matanya.


Tiga garis Pedang membentuk serangan dengan energi Hitam bercampur putih emas. Melayang menebas udara. Ini adalah serangan terkuat Jaya yang tidak bisa ditangkis dengan apapun.


Tarkan menerima serangan itu. Tanpa terjadi apa-apa ke tubuhnya. Seolah tebasan tiga garis itu hanyalah angin kecil yang menerpa tubuhnya.


"Jadi, apakah ini yang kau namakan  seranganmu? Bukankah ini terlalu lemah, Jaya." Kata Tarkan kecewa. "Sepertinya kau masih belum mengenal dan menyadari kekuatan Ananta dalam tubuhmu. Akan ku tunjukkan kekuatan Ananta yang sejati kepadamu..."


Tarkan membuat Pedang dari Darah Hitam yang keluar dari tangannya. Warnanya hitam yang kemerahan. Pedang itu hanya di pegang.


Jaya kedua bersiap dengan posisi bertahan bersama Pedang Hitamnya.


Dalam satu kedipan mata, seluruh sekitar tiba-tiba terjadi banyak tebasan. Seluruh hutan, pohonnya tertebas menjadi beberapa bagian. Tebasan itu jarak diameter serangannya melingkup seperti lingkaran yang areanya lebih satu Kilometer.


"I—ini. Kekuatan apa ini? Serangan apa ini?" Tanya Jaya Kedua yang tertegun dengan jantung berdebar.


"Inilah kekuatan Ananta yang sejatinya. Bahkan tanpa perlu aku menghunuskannya. Aku sudah dapat menebas ke area yang ku inginkan." Jawab Tarkan cuek dan menyingkirkan Pedangnya menghilang menjadi asap hitam yang memudar.


"Sungguh sia-sia jika kamu harus berada di Tanah yang telah ditinggalkan ini. Bergabunglah denganku, aku akan menunjukkan Tanah Jawa bagi manusia yang sebenarnya. Itu adalah Tanah Dwipa Jawa. Dan aku pun bisa merekomendasikan kamu untuk bergabung dengan Bangsa Asoka,"


"Aku tidak mengerti maksudmu. Kenapa aku harus mempercayaimu. Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan  Bangsa Asoka. Dan aku tidak minat bergabung dengan sesuatu yang tidak aku kenal. Bahkan kau saat ini pun masih belum bisa untuk mengalahkan aku,"


Tarkan memegang kepalanya dengan menunduk ke bawah dan tertawa.


"Belum katamu? Sepertinya kau masih belum sadar akan perbedaan kita, ya." Kata Tarkan terkekeh.


Dia menjulurkan tangannya ke depan. Sebuah energi Kegelapan membentuk sebuah Tombak dari tangannya, lalu Menghilang.


Jaya terkejut melihat Tarkan.

__ADS_1


"Ahhh..." Sebuah Tombak tiba-tiba menancap menembus ke paha kaki Jaya Kedua yang datang dari bawah belakangnya. Dia menekuk lutut kakinya ke tanah.


Tombak itu lalu hilang dan muncul di tangan Tarkan.


Jaya Kedua bingung dengan serangannya yang aneh. Dia juga merasakan sedikit kesakitan karena Tombaknya menembus cukup dalam ke pahanya.


Tarkan menjilat darah Jaya Kedua yang berada di Tombaknya, yang bekas menusuk paha.


Mata Aurora Tarkan berdengung dengan dua lingkarannya yang berubah. Kemudian iris matanya berubah, ada tiga bentuk simbol tetes darah yang cembung ke bawah dan lancip ke atas. Ketiganya melingkar dengan warna Hitam. Pupil dan lensa irisnya berwarna merah darah. Dan bagian luar putih matanya berwarna gelap hitam.


Tarkan menusukkan Tombaknya ke telapak tangan kirinya sendiri. Dengan senyum senang.


Keanehan terjadi. Tangan Jaya Kedua merasakan kesakitan.


"Ahh..." Jaya kedua menatap Tangan kirinya gemetar terasa kesakitan seperti tertusuk sesuatu.


Tidak ada darah atau bekas luka. Tapi rasanya mendecak sakit.


"Kenapa tanganku yang merasa sakit?" Kata Jaya Kedua yang melihat Tarkan yang menusuk tangan kirinya sendiri.


****


Jaya Asli.


Di tempat Jaya yang Asli, di sebuah Gua. Saat ini yang tengah duduk bersila dengan menggenggam jari kedua tangannya yang membentuk sebuah Segel tangan.


Tiba-tiba, tangannya merasakan denyutan kesakitan di telapak tangan kirinya.


"Tanganku juga merasakan kesakitan? Apa maksudnya ini?" Tanyanya terkejut yang melihat tangan kirinya juga gemetaran.


Jaya telah mengawasi tiga Klon Bayangan utamanya. Dia mengamati semua perkembangannya. Yang pertama saat ini berada di Asosiasi Hunter. Yang kedua sedang bertarung dengan Tarkan. Dan ketiga perjalanan pergi ke Paman Sam.


Tak terduga, pertarungan Klon Bayangan Keduanya, bisa berdampak ke tubuh utama. Dia mencoba merenung membaca suasana yang terjadi.


****


Tarkan tersenyum melengkung lebar.

__ADS_1


"Saat ini apakah kau sudah menyadarinya, Jaya. Tubuh utamamu pasti terluka juga bukan?" Kata Tarkan yang Mata Aurora-nya mendesing aneh.


__ADS_2