Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Ular Besar


__ADS_3

Proses penyaluran energi saat ini begitu kuat hingga seolah membakar seluruh tubuhnya. Dahi Jaya berkeringat dengan wajah pucat. Prosesnya berbeda dengan sebelumnya. Yang saat ini malah menimbulkan rasa yang begitu sangat menyakitkan.


"Uuuhh … ini berbeda dengan sensasi ketika saat menerobos level 3 … ini sangat berat dan menyakitkan..." Jaya berpikir dalam renungnya.


Uap energi hitam membungkus Jaya dalam meditasinya. Perlahan-lahan, kekuatan energi dan fisiknya menguat. Namun, alam pikirannya menjadi lebih rumit. Ada pemahaman baru yang harus dipahami tentang tubuhnya.


"Tubuh manusia terdiri dari bentuk lapisan dalam dan luar. Luar adalah bagian fisik atau disebut raga. Dan itu adalah tempat untuk penyimpanan energi Aura."


"Sedangkan lapisan dalam adalah bagian jiwa. Dan ini adalah tempat pusat energi jiwa dalam wadah kekuatan Ananta. Namun, kenapa aku merasakan ada lapisan lain, seperti lapisan alam yang terhubung dengan pikiran dalam tubuhku..."


"Bukankah seharusnya manusia hanya memiliki dua alam dalam tubuhnya, yaitu alam raga dan jiwa. Apa maksudnya dengan ada lapisan alam yang terhubung dengan pikiran?"


Jaya bingung memahami keadaan kondisi tubuhnya yang sekarang. Di kehidupan sebelumnya, dia juga tidak pernah menemui hal yang seperti ini dalam kultivasinya. Ada sesuatu hal yang baru diketahui di tubuhnya saat ini, tapi dia tidak mampu untuk memahaminya.


Jaya hanyut dalam perenungan, sembari tubuhnya kini telah menerobos ke tingkat level 4 tahap pembentukan. Dia menerobos hingga tiga kali berturut dengan cepat. Namun, pemahamannya tentang tubuhnya belumlah bisa dimengerti.


Hanya sebagian yang kasat mata saja yang dia pahami. Seperti kekuatan Ananta dan fisiknya yang kini telah menguat. Tapi jauh di kedalaman pemahaman tubuhnya masih ada sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh ketidak mengertiannya. Itu bagai alam pikiran yang berada dalam tubuhnya.


Dalam ruang hampa kekosongan pada dimensi pemahamannya. Saat ini ada tiga bola energi cahaya yang terang benderang.  Mereka berwarna hitam, kuning, dan putih. Hitam adalah alam jiwanya. Kuning adalah alam raganya. Dan putih ini masih menjadi misteri bagi Jaya.


Semakin dia ingin mencoba untuk menyerap memahami energi putih, maka semakin sakit pikirannya. Sebab ketiga energi itu bagai bentuk kesadaran yang tercermin dalam energi di tubuhnya. Ada pertarungan batin yang harus dia lakukan untuk bisa memahami dan menyerap energi putih tersebut.


Dan jika dia kalah dalam pertarungan itu, maka tubuhnya akan diambil alih oleh energi putih tersebut.


"Terlalu beresiko jika aku harus melakukan penyerapan pemahaman sekarang. Setidaknya kekuatanku saat ini sudah meningkat. Aku akan memahami energi putih itu nanti dengan perlahan..." Gumam benak Jaya.

__ADS_1


Jaya membuka matanya dalam meditasinya.


"Hm … sekarang kekuatan Ananta meningkat dengan cukup pesat. Kekuatan Jurus Pemikat Kegelapan mempunyai efek baru. selain menghentikan gerakan lawan dan menyerap dalam bentuk benda, ini bisa berubah menjadi makhluk atau energi kabut hitam dalam jarak radius 1 km."


"Dan Jurus Penyerapan Kegelapan, selain mampu menyerap kekuatan, jiwa, dan ingatan. Kini akhirnya meningkat lagi,  dengan dapat menyerap energi serangan dan meningkatkan untuk mengembalikan serangan..."


"Jurus Nafas Kegelapan, yang awalnya hanya untuk berpindah tempat sejarak 1 km dan memindahkan sesuatu dalam jarak 1 km. Saat ini bertambah, dapat memindahkan sebuah serangan yang diterima oleh tubuhku, untuk berpindah ke tempat terbuka dalam jarak 1 km sebagai dampak serangan di tubuhku...."


"Jurus Seribu Kegelapan, kini jumlahnya bertambah empat dan menjadi sepuluh bayangan yang bisa diciptakan. Dan Jurus perubahan kegelapan, selain dapat merubah dirinya menjadi bentuk lain. Kini aku bisa pula merubah sosok orang lain untuk menjadi bentuk yang kuinginkan...."


Jaya lekas berdiri beranjak dari tempat duduknya setelah menggumam merasakan perubahan kekuatan anantanya. Dia merasa lega dengan peningkatan Jurus-Jurus Anantanya.


"Huft...rasanya ini luar biasa. Meski tidak ada Jurus baru, tapi peningkatan Jurusnya ini sangatlah banyak. Kurasa aku harus pergi dari sini, untuk mencari gua," kata Jaya yang ingin pergi dari tempat batu air terjun.


Tiba-tiba dari tengah air terjun keluar sebuah kepala Ular besar yang membelah air terjun. Dia menatap Jaya dengan mata yang menyala merah. Di dekat lehernya ada dua tangan yang menyilang.


Sontak Jaya tertegun kaget dengan kehadiran sosok yang tidak disadarinya itu.


"Hah!?" Jaya mendongakkan kepalanya ke atas, ternyata ada lubang besar di tengah air terjun. Itu adalah tempat Ular untuk menunjukkan dirinya.


"Siapapun yang masuk wilayahku akan mati!" Teriak Ular yang langsung mulutnya menganga lebar untuk menyerang Jaya.


Ular itu memberikan tekanan energi yang kuat hingga tubuh Jaya untuk sebentar tak mampu bergerak.


"Jurus Nafas Kegelapan!"

__ADS_1


Jaya dalam sekejap berpindah ke tepi danau air terjun. Ular itu terkamannya meleset hingga menghancurkan bebatuan air terjun.


"Sial … bagaimana bisa ada Ular disini?!" decak Jaya dengan matanya yang sengit.


"Kurang ajar! Kau bisa menghindari seranganku!" Geram Ular yang matanya marah mengangakan mulutnya kembali.


Kepala Ular besar itu berwarna hitam dengan corak merah di sekitar lehernya. Ada beberapa tanduk yang merekah di sirip telinganya yang tebal. Jaya menyadari bahwa monster Ular ini setidaknya adalah monster tingkat level 5 ke atas.


"Pantas aku tak bisa merasakan keberadaan Auranya disini. Jika dia bisa berbicara dengan bahasa manusia, dia pasti level tingkat ke 5 ke atas atau lebih … ini benar-benar buruk!" Keluh Jaya dalam hatinya.


Lalu dari dahi Ular itu keluar energi yang terbang ke langit. Kemudian, energi itu menyebar dan melingkar membuat kurungan. Jaya merasakan akan ada situasi yang pelik.


"Kau mempunyai Jurus aneh. Tapi kali ini kau tidak akan kubiarkan lolos dari serangan lagi..." Ular itu berkata dingin untuk ingin segera menyantap mangsanya.


"Senior Ular besar, aku tidak mempunyai masalah denganmu. Kenapa kau ingin membunuhku?"


"Seekor mangsa tidak perlu untuk bertanya alasan dihadapan predatornya. Karena kau sudah masuk ke wilayahku, maka kau akan menjadi santapan makananku. Aku Suto Brajan, tidak akan pernah membiarkan buruannya untuk lepas!"


"Tercela! Baiklah marilah kemari kalau kau bisa untuk memakanku!" Jaya tidak bisa mengelak lagi untuk menghindari pertarungan.


Monster yang memiliki kesadaran diri biasanya dia bisa diajak untuk kompromi sebelum bertarung. Mereka acap kali pilih-pilih untuk menentukan makanannya atau untuk memulai bertarung. Kecerdasan mereka berbeda dengan monster yang kesadarannya belum terbuka.


Ular Suto Brajan kemudian mulutnya mengeluarkan sinar energi dan menyemburkannya secara acak. Itu adalah bola beracun yang disebar ke seluruh kurungan yang dibuatnya. Jaya mengeluarkan pedangnya dan menciptakan dua bayangan dirinya.


"Sekarang kau akan mati di kurungan penjara ini!" Teriak Ular Suto Brajan. "Inilah akibatnya jika memasuki wilayahku!...."

__ADS_1


"Hooh … apakah kau pikir dirimu sudah menang?" Jaya bibirnya melengkung. "Jurus Penyerapan Kegelapan!"


Tangan kanan jari Jaya yang berubah menjadi berwarna hitam dengan energi gelap yang berputar-putar seperti kipas. Itu menyerap seluruh racun yang tersebar di udara, kemudian masuk ke dalam pusaran tangan Jaya. Setelah itu, warna hitam dengan energi gelap berpindah ke tangan kiri Jaya.


__ADS_2