Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Hadiah Jackal


__ADS_3

Patrik dan pasukannya terus berjalan melaju mengawal gerobak kereta yang berada di tengah. Dengan menyerang ke depan, Patrik sesekali melihat ke belakang. Semua keadaan masih dalam keadaan aman. 


Hingga akhirnya Patrik menembus gerombolan puluhan Jackal yang menyerang dari depan. 


"Terbuka!" teriaknya Patrik yang kini telah tidak ada Jackal di depannya.


Sekejap, lolongan suara Jackal terdengar sangat keras. Suaranya tidak jelas dari mana arahnya. Patrik menghiraukannya, menoleh ke kanan, kiri serta bagian atasnya. Tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan. 


Namun puluhan gerombolan Jackal gerakannya mulai berbeda, mereka sejenak berhenti bergerak, lalu tidak menyerang. Dan mereka malah beralih untuk berlari membuntuti dari samping, seperti mengapit formasi pengawalan. Dan monster Jackal yang di belakang pun juga sama. Mereka hanya berlari membuntuti dengan cuma mengejar. 


"Hah? Mereka tidak lagi menyerang?" kata seseorang yang di sayap kanan sedang siaga akan membalas serangan. 


"Tetap fokus. Awasi saja terus!" kata seseorang yang mengingatkannya. "Terus bergerak. Jangan ada yang menyerang..."


"Tch, apa yang mereka rencanakan!" keluhnya. Dia mengawasi monster Jackal dengan tatapan aneh. 


Gerakan monster Jackal begitu mencurigakan. Meski, mereka tidak menyerang, tetapi monster Jackal memberikan tekanan mental kepada Prajurit yang sedang mengawal.  


Salah seorang yang melaju berdekatan dengan Patrik, melaporkan keadaan. 


"Ketua, mereka tidak lagi menyerang. Ini aneh," ujarnya. "Apa ini tidak masalah?" 


Patrik tidak segera menjawab. Tatapannya lurus ke depan dengan kosong. 


"Tetap pertahankan saja formasi kita. Jangan melakukan tindakan yang gegabah. Pengawalan adalah prioritas kita," jawab Patrik dengan serius setelah menutup matanya sebentar. 


Lalu Patrik mengaktifkan Aura mental untuk memindai keadaan sekitarnya. Dia menyadari sesuatu tentang keanehan tersebut. Ternyata di samping dan di belakang Pasukannya telah banyak Jackal yang bersembunyi dengan sambil mengejar di balik pepohonan yang tidak jauh. 


"Tsk.... sungguh merepotkan. Apa mereka ini benar-benar ingin menekan dengan kepungan?" Tanya Patrik pada dirinya sendiri. "Berarti harusnya mereka telah menyiapkan sesuatu di depan untuk menghadang. "


Patrik mengamati dan menganalisa pergerakan mereka dengan sangat mudah, dia bisa jelas membaca niatnya. Monster Jackal ingin mengepung dan menyerang Patrik dan pasukannya untuk memaksa berhenti berlari. Hanya saja, penentunya adalah sesuatu yang akan berada di garis depan nantinya. 


Apakah mereka bisa tertahan dan berhenti maju ke depan. Apakah masih bisa terus melaju ke depan. Di garis depan nanti itulah yang menentukannya. Sebab, berhenti berlari sebentar saja, ini sama halnya akan menentukan nasib pelarian pengawalannya.


Formasinya akan mudah diserang dan akan terjebak dalam bentrokan kepungan. Suasana ini membuat Patrik merasa sedang beradu strategi dengan seseorang. 

__ADS_1


"Jangan kira aku tidak bisa membaca serangan pergerakan strategimu. Ayo tunjukkanlah seranganmu yang sebenarnya. Aku pasti bisa berhasil lolos dari sini," gumam Patrik. 


Semua Prajurit yang mendengar Patrik juga merasakan hal yang sama. Mereka mengerti sepenuhnya tentang posisinya yang sedang dijepit dari tiga penjuru. 


"Sial. Jaraknya masih cukup jauh." Keluh seseorang yang berdekatan dengan Patrik. "jika terus begini, keadaanya akan menjadi buruk. Entah apa yang sedang menunggu di depan." 


Jaya Kedua yang berdiri di atas gerobak kereta, dia juga mengamati situasi keadaan. 


"Sepertinya para monster Jackal ini ingin membuat perangkap jebakan." Katanya dengan menoleh ke sekitar dan mengaktifkan Aura mental. "Baiklah, aku akan mencoba teknik baru untuk menyerang mereka yang membuntuti terlebih dahulu."


Jaya Kedua mengaktifkan segel dari kedua tangannya. Sebuah energi Aura keluar dari tubuhnya seperti asap angin. Perlahan mereka menyatu dengan berputar hingga membentuk sebuah pedang. 


"Ini adalah teknik pedang tingkat bumi dari Ketua Suwarto. Namanya, Teknik Tarian Seribu Pedang." Kata Jaya Kedua dengan pelan dan senyum kecil. 


Sebuah delapan pedang yang terbentuk dari energi Aura telah selesai. Mereka semua berdiri di belakang punggung Jaya Kedua. Dengan mengarahkan tangannya bersama dua jari telunjuk dan tengah, beberapa pedang Aura bergerak melayang di udara dengan meliuk-liuk. 


Syuut! 


Beberapa mereka melesat pergi melayang dengan cepat, dan langsung menusuk menuju tubuh para monster Jackal, yang berada di sebelah berlari mengejar. 


Monster Jackal tertusuk oleh pedang Aura di leher atau di jantung. Tepat mengenai bagian vital semua. Begitu selesai, pedang Aura berpindah menyerang ke monster Jackal yang lainnya. Setelah itu kembali melayang di sekitar Jaya Kedua.


Prajurit yang melihat serangan itu sontak kaget. Mereka memutar kepalanya menatap ke arah Jaya Kedua yang bersama pedang Auranya. Serangannya Jaya Kedua memberikan kesan yang dalam kepada Prajurit di sekitar.


Kata seorang Prajurit yang merasa senang dan terkejut. Monster yang mengejarnya perlahan dibunuh. 


"Apa?! Serangan apa yang dilakukan itu? Pedang Aura?" 


"Yah, bagus. Hebat,"


"Dia? Siapa dia sebenarnya? Bukankah itu adalah teknik kelas tinggi?"


Salah seorang Prajurit berteriak untuk memperingatkan. 


"Hei! Jaya! Sebaiknya kamu kembalilah ke dalam. Jangan buang energi Auramu dengan sia-sia!"

__ADS_1


"Jangan pikirkan aku! Teruslah berlari untuk mengawal. Aku akan menjaga dan melengkapi kekurangan kalian." Jawab Jaya Kedua. Dia masih terus menyerang dengan pedang Auranya ke monster Jackal. 


"Itu.... "Prajurit itu tidak bisa membalas ketika berbalik melihat monster Jackal yang mati dalam mengejarnya. 


"Biarkan saja dia. Serangannya juga bagus untuk mengurangi jumlah musuh." Jawab seseorang Prajurit yang meyankinkannya. 


Akhirnya dia membiarkan Jaya Kedua yang berdiri di atas gerobak kereta untuk menyerang monster Jackal.


Pedang Auranya Jaya Kedua memporak porandakan para monster yang mengejar. Dan itu membuat gerakan mereka lambat dalam mengejar. Mental para Prajurit sebagian tersenyum kecil karena kembali bersemangat. 


Sesuatu yang berada di garis depan akhirnya muncul. Di sana ada tujuh anak kecil yang terikat di tiang batang pohon dengan tertancap di tengah jalan. 


"Tolong.... Lepaskan aku!"


"Aahhhh.... Aku tidak ingin mati!"


"Tolong! Tolong! Tolong! Seseorang tolonglah kami!" 


Mereka semua menangis dan berteriak tersedu-sedu untuk meminta bantuan. Tubuhnya terikat oleh sebuah tali sambil meronta-ronta. Umurnya mereka mungkin sekitar 7-6 tahunan semua. 


Dan selain itu, tidak jauh darinya, ada gerombolan yang sekitar seratusan lebih monster Jackal yang menunggu. Mereka membuat sebuah barisan pasukan dengan membawa senjata semua. Inilah sesuatu yang di khawatirkan oleh Patrik.


"Apa?! Kenapa ada juga anak kecil disana! Sialan!!" Geram Patrik terkejut dengan masih terus maju ke depan. Dia sedikit pilu harus membuat keputusan.


Beberapa Prajurit yang melihat ikut terkejut. 


"Bagaimana mungkin mereka bisa menculik anak-anak kecil di sini?!" 


"Ah, tercela. Beraninya mereka melakukan sesuatu yang seperti ini.... "


"Oi, oi... Bukankah keadaannya ini semakin buruk?.... "


Jauh di belakang sebuah barisan monster Jackal. Jackal Kyou tersenyum menyeringai sambil mengangkat tongkat kapaknya di bahu. 


"Nah, kini apa yang akan kau lakukan? Berhentilah, biarkan aku membunuh kalian semua. Sebab, kalian pasti akan berhenti untuk mengambil hadiah kecil dariku." Kata Jackal Kyou dengan senyumnya yang dingin. "Kalian tentu menyukai hadiah anak-anak kecil bukan?"

__ADS_1


__ADS_2