Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Misi


__ADS_3

Mendengar perkataan Paman Sam, Jaya Ketiga sedikit tercengang. Dia tidak berpikir bahwa informasi akan sangat begitu penting perannya. Bahwa artinya informasi itu sangatlah menentukan dalam membawa dampak bahaya atau manfaat bagi banyak kehidupan orang. 


Jaya Ketiga dapat menangkap bayangan bagaimana informasi itu dapat digunakan. Hal itu bagai kebenaran yang bisa dimanipulasi atau bisa pula tetap dibiarkan apa adanya. Dan semua itu tentu tergantung dari sudut pandang bagi yang bisa memanfaatkannya. 


Jelas ini bukanlah tentang tipu muslihat saja. Namun sesuatu pertarungan yang ditentukan lewat, siapa yang lebih cepat dan praktis dalam melakukan gerakan. Atau bagaimana mengalahkan musuh dengan tanpa harus mengotori tangannya sendiri. 


"Lalu misi informasi apa yang ingin Paman berikan padaku?" Tanya Jaya Ketiga mengangguk mengerti. 


Paman Sam tersenyum tipis seolah merencanakan sesuatu demi keuntungannya. "Carilah informasi tentang mengenai masalahku dengan keluarga Melati." Jawab Paman Sam, dia menyilangkan tangannya di depan dadanya yang kekar.


"Baru-baru ini aku melakukan kontak dengan mereka. Tetapi, karena tidak ada kesepakatan dalam bisnis, aku curiga mereka akan melakukan sesuatu yang merepotkan." Kata Paman Sam yang menghembuskan nafas tidak senang. Lalu raut wajahnya berubah cerah.


"Tugasmu sederhana. Cari informasi apa itu masalahku dengannya. Kedua, carilah informasi tentang kelemahannya keluarga Melati. Ketiga, bunuhlah pengawalnya yang selalu menjaga ketua kepala keluarga. Dan waktumu hanya sebatas dalam tiga hari," lanjut kata Paman Sam. Salah satu tangannya menunjukkan jari tiga. 


"Ini adalah klue informasi kecil dariku. Meski kau tidak berhasil sekalipun, itu tetap bukan menjadi masalah bagiku. Dan selain itu, jika kau gagal. Kemungkinan aku juga sudah pergi dari wilayah kota di sini," jelas Paman Sam, suaranya terdengar santai tanpa beban.  


Jaya Ketiga harus mengakui, sepertinya dia mendapat ujian permintaan aneh dari Paman Sam. Dia benar tidak mengerti tentang masalahnya yang akan dihadapinya ini. Namun, ada beberapa keuntungan juga baginya jika menyelidiki dan menyerang keluarga Melati baginya. Sebab, dia juga mempunyai masalah dengan mereka. 


"Aku mengerti," jawab Jaya Ketiga mencoba bersikap tenang. "Lalu   jika aku berhasil, apakah Paman akan membawaku masuk ke dunia Brandal?"


Paman Sam tersenyum kecil. Seakan dia meremehkan bahwa nanti Jaya pasti akan gagal. "Ya, tentu. Tetapi sebagai anak buahku," katanya. 


Paman Sam lalu mengangkat dagunya ke atas dan berkata. "Karena, tanpa nama status tersebut kemungkinan kau tidak bisa bergabung. Ada beberapa aturan baru yang telah diciptakan di dunia Brandal. Bahwa kini untuk mencari seorang anggota perlu ada beberapa persyaratan," Paman Sam melanjutkan. 

__ADS_1


"Tapi kau tidak perlu memikirkan tentang hal tersebut terlebih dahulu. Untuk sekarang, tidak perlu mencemaskan masalah mengenai dunia Brandal. Yang terpenting adalah, apakah kau bisa menyelesaikan tugas yang kuberikan itu dalam waktu 3 hari," kata Paman Sam terkekeh sinis. Dia lalu menatap Jaya Ketiga dengan sorot dalam.


"Perlu kau ketahui, ini peringatan saja dariku. Anggap saja hadiah informasi kecil. Ancaman yang akan menunggumu ketika nanti menjalankan tugas ini. Bahwa, pengawal keluarga Melati, setidaknya mereka semua adalah tingkat Aura level 5 dengan kekuatan Ananta. Dan jumlah mereka semua ada tujuh, biasanya mereka selalu bergerak secara bersama-sama. Sebaiknya kau tidak meremehkannya, jika tidak ingin mati muda. Gagaga..." Paman Sam tertawa kecil. 


Jaya Ketiga wajahnya terasa pahit mendengarnya. Level dia masihlah tingkat 4, melawan tujuh orang dengan kekuatan Aura tingkat level 5 dan kekuatan Ananta. Tentu itu bukanlah tugas yang mudah. Dia merasa posisinya sedikit sulit untuk menyelesaikan misi tugas. 


"Bagaimana dengan ketua kepala keluarganya?" Tanya Jaya Ketiga penasaran dengan sesuatu yang akan menjadi targetnya. 


"Ho... Kau mulai waspada rupanya." Kata Paman Sam memandang rendah Jaya Ketiga. 


"Baiklah, aku akan memberitahumu. Orang yang mereka kawal itu, dia berada pada tingkat level tujuh dengan kekuatan Ananta, tipe binatang Singa. Namanya, Tora. Dia adalah kepala keluarga Melati. Dan sebaiknya kau jangan sampai ketahuan darinya saat menyerang pengawalnya. Sebab dia telah mencapai kekuatan awakening Ananta. Melawan dia, kau hanya akan mencari mati saja." 


"Awakening Ananta?" Ulang kata Jaya Ketiga.


Melihat ekspresi Jaya Ketiga yang kecut, mungkin nyalinya akan ikut menciut. Ini juga berarti, dia akan bisa kehilangan seseorang yang mungkin akan menjadi anak buahnya. Paman Sam pun lalu menjelaskan,


"Kekuatan awakening Ananta berbeda dengan Ananta biasa. Saat kau telah bisa mencapai tingkat level awakening Ananta, kekuatan jiwa Ananta akan bisa keluar dari tubuh. Dan dia akan menjadi kekuatan baru yang selalu mendampingi pemiliknya."


"Bagi awakening Ananta, kekuatan Ananta biasa hanyalah seekor semut di hadapannya. Meski jika memiliki kekuatan tingkat Aura yang sama sekalipun, tetapi kekuatan Ananta biasa dengan tingkat awakening Ananta, itu bagai langit dan bumi perbandingan kekuatannya."


Jaya terhenyak dalam diam dan menelan ludah. Pandangan Paman Sam jelas begitu serius untuk memberikan peringatan kepadanya.


****

__ADS_1


Di suatu tempat lain. 


Di sebuah daerah wilayah kediaman keluarga Melati. 


Berada di kedalaman ruang keluarga yang tersembunyi. Ada tiga orang yang sedang mengadakan rapat dalam meja yang berbentuk bundar. Ruangannya begitu tertutup, hanya ada cahaya lampu yang menyinari. 


Ya, diam-diam setiap orang pasti telah mulai memasang sesuatu rencananya. Bagai tikus di keramaian kota. Memeras isi kepalanya untuk menggapai jalan tujuannya. 


"Bagaimana situasinya Tora? Sebaiknya memberikan kabar yang bagus. Apakah kau sudah menemukan seseorang pembunuh bayaran yang bisa  diandalkan." Tanya seseorang dengan rambut yang mekar berantakan bagai siluet kepala singa. Suaranya begitu tenang dan dingin penuh ketegasan. 


"Belum, ketua. Begitu susah untuk mencari siapa yang mau diajak kerja sama." Jawab salah seorang yang dipanggil Tora. 


Seorang yang lain, dengan tampang wajahnya yang muda. Ekspresinya dingin. Ada tato kecil, garis yang melengkung memutar di bawah salah satu matanya. Dia berkata, "Ketua Taro, kenapa tidak biarkan kita saja yang bergerak."


Tora sontak terkejut, dengan tawaran dari seseorang itu. 


"Tuan Sengkuni, itu terlalu berbahaya jika anda menunjukkan identitas anda terlebih dahulu sebelum rencana awal kami ini berhasil. Lagipula saya, telah membuat janji lain dengan seseorang yang berada di dunia Brandal. Mungkin kali ini, aku bisa menemukan seseorang yang tepat untuk menjalankan tugas tersebut," kata Tora, dia gelisah memperhitungkan tentang rencananya. 


Ruangan terdiam sebentar. 


"Benar. Hmp... Apa yang telah dikatakan oleh Tora tersebut. Sebaiknya, tuan Sengkuni menunggu waktu yang tepat." Kata orang yang rambutnya seperti kepala Singa, dan dipanggil Taro. 


"Apakah organisasi kegelapan telah membuat gerakan saat ini?" Tanya Taro dengan wajah datar. 

__ADS_1


"Yah, masih belum, sih. Tapi jika kalian merasa kerepotan untuk mengurus sesuatu, aku akan ringan tangan untuk membantumu." Jawab seseorang yang bernama Sengkuni. "Aku sangat bosan untuk berdiam diri terus. Jika melihat Tarkan yang selalu bisa bebas bermain-main, itu sangat membuatku iri."


__ADS_2