
Barry memberikan dua gelas minuman kepada Jaya Pertama. "Semoga berhasil," katanya pelan. Lalu, Jaya Pertama pergi ke sudut ruang meja tempat Prisca berada.
"Boleh aku menemani duduk di kursi ini?" Kata Jaya Pertama tersenyum ramah, dia menyodorkan salah satu gelas minuman kepada Prisca, tetapi tidak direspon, dan menaruhnya di atas meja. "Itu minuman Wine, kudengar dari Barry kau menyukainya."
Prisca memandang Jaya Pertama dengan dingin. Melirik curiga ke dalam gelas minuman. "Lakukan sesukamu." Lalu Prisca mengambil gelas minuman itu dan mengendusnya, baunya tercium seperti Wine. Minuman alkohol yang terbuat dari anggur yang berkualitas tinggi. Kemudian dia meneguk pelan, mendengus lega, merasakan nikmatnya minuman Wine.
"Aku dengar kau ingin berburu Spider Monkey?" Tanya Jaya Pertama. Dia langsung duduk di kursi kosong, di seberang meja Prisca.
"Ya. Aku punya urusan yang belum selesai dengannya. Apa maumu?" Kata Prisca bertanya kasar. Matanya menyipit melirik ke arah Jaya Pertama.
"Perkenalkan, namaku Jatra. Sungguh kebetulan, aku juga sedang ingin berburu monster itu," kata Jaya Pertama memasang ekspresi wajah tersenyum. Jarinya mengetuk meja pelan.
"Lalu... " Kata Prisca pelan, kepalanya menunduk. Nada bicaranya masih dingin. Dia terhanyut dalam lamunan kosong.
"Aku tidak mengetahui letak sarangnya, maukah kau bekerja sama denganku untuk membunuhnya?" Tanya Jaya Pertama. "Aku telah mendengar ceritamu dari Barry, katanya, kau satu-satunya orang yang selamat dari monster itu"
Mata Prisca sesaat melebar terkejut. Rumor tentang dirinya memanglah sudah menyebar di ketahui oleh banyak orang. Namun itu bukanlah alasan yang membuatnya terkejut. Tetapi, kini akhirnya, dia menemukan orang yang ingin mau melakukan Raid terhadap monster Spider Monkey.
Sebab setelah lama menunggu dan mencari Raid untuk membunuh monster Spider Monkey, tetapi dia tidak kunjung menemukannya. Tidak ada kelompok yang ingin melakukan Raid untuk melawan monster tersebut. Itu karena, di wilayahnya tidak ada sesuatu yang cukup berharga, sekaligus Spider Monkey adalah monster misterius yang sangat kuat. Dan akhirnya, kini ada orang yang menawarkan untuk Raid melawan monster tersebut.
Prisca lalu mengangkat kepalanya. Matanya penuh harap. "Berapa pasukanmu?"
__ADS_1
Sedikit ragu untuk menjawab. "Itu, aku tidak mempunyai pasukan." Kata Jaya Pertama sambil menggelengkan kepala.
Prisca menghela lemas. Seakan tertimpa oleh harapan palsu, setelah sekian lama penantiannya berharap. Dia mendengus kembali menunduk. Melawan Spider Monkey tanpa pasukan adalah tindakan kesia-siaan. Dia jelas paham tingkat ancaman kekuatan Spider Monkey. "Kalau begitu sebaiknya kau hentikan saja niatmu. Tak peduli kau tingkat level 6 atau tujuh, selama tidak mempunyai pasukan yang cukup. Kau tidak akan bisa membunuhnya. Monster Spider Monkey, bukanlah monster yang bisa kau lawan dengan kekuatan saja."
Prisca meneguk gelas minuman Wine, jempolnya mengusap bibirnya yang lentik, sisa dari air Wine.
Jaya mengangguk mengerti, paham maksud dari peringatan Prisca. "Baiklah, kalau begitu, aku akan pergi tanpamu. Tapi... bisakah kau memberitahukan dimana letak sarangnya?" ujar Jaya Pertama. "Aku tidak peduli urusanmu dengan monster itu. Balas dendam, atau apapun itu. Satu hal yang jelas, aku ingin memburunya,"
Prisca terdiam sebentar, matanya meluncur menatap jijik. "Ha... Apa kau gila? Melawannya sendiri! Apa kau ingin mencari mati dengan menjadi pahlawan kesiangan?" Kata Prisca menyepelekan niat Jaya Pertama. Nadanya terdengar pelan, sekaligus sinis. "Baru kali ini aku menemukan Hunter idiot yang sepertimu. Dari semua Hunter yang ku kenal, kaulah orang yang paling naif. Jika memang ingin bisa mengalahkan monster Spider Monkey dengan seorang diri. Sebaiknya tinggalkan pesan-pesan terakhir untuk keluargamu sebelum pergi,"
Jaya Pertama mengamati wajahnya Prisca dengan seksama. "Siapa yang bisa tahu hasilnya nanti, sebelum mencoba. Daripada hanya duduk diam dan menunggu keajaiban, bukankah itu sama saja, dia telah mati sebelum bertarung." Sindir Jaya Pertama. Dia merasa tidak senang jika diremehkan. "Kalau menunggu 'andai' bisa menyelesaikan jawaban, waktu tidak akan pernah bisa bergerak maju ke depan. Dia akan berhenti, sama seperti orang yang masih setia menunggunya... bagai mayat hidup yang ingin bisa hidup kembali,"
Jaya Pertama menenggak semua minuman di gelas dan berdiri dari tempat duduknya. Sepertinya dia merasa tidak ada gunanya mengajak orang yang masih terjebak dengan masa lalu kelam. Itu hanya akan menambah beban baginya, begitulah pikirnya.
Prisca membalas tatapan Jaya Pertama dengan sengit. Wajahnya begitu menegang, lalu melempar ke arah lain. Dia tidak mempunyai kata-kata yang tepat untuk membalas perkataan Jaya Pertama. Sebab, itulah kenyataan pahit yang sedang dialami Prisca.
Jaya Pertama lekas berjalan meninggalkan meja Prisca dan pergi ke arah meja, tempat Barry. Badannya sedikit merasakan efek alkohol, terhuyung sedikit tapi tidak mabuk.
"Yo, bagaimana kawanku Jatra?" Kata Barry. Dia melihat muka masam dari Jaya Pertama.
"Apa, apa kau tahu sarangnya Spider Monkey?" Tanya Jaya Pertama, memiringkan wajah dengan mengerutkan keningnya. Telunjuk jarinya naik turun mengarah ke Barry.
__ADS_1
"Tentu. Aku tahu letak arahnya. Tapi apakah kau sudah menemukan kelompok?" Kata Barry. "Ya, itu jika kau sudah bertekad memburunya,"
"Belum..." kata Jaya Pertama lirih.
Prisca duduk termenung memikirkan perkataan Jaya Pertama, dia begitu bimbang untuk menentukan pilihan. Kata-kata Jaya Pertama seakan menyayat hatinya. "Apa bocah itu tidak tahu apa itu yang namanya kengerian monster. Melawan dan menunggu, apa bedanya. Toh, itu berarti hasilnya sama."
Ingatannya masih terngiang jelas tentang pembantaian yang dilakukan oleh Spider Monkey, tangannya mulai gemetar sedikit. Meneguk Wine kembali, menghilangkan ketakutannya, dan mendengus mengeluarkan nafas kesal. Tapi, dia merasa tidak bisa hanya terus menunggu untuk mencari harapan balas dendamnya dengan duduk selamanya.
"Lari... Teruslah hidup, katamu." Kata Prisca lirih, kepalanya tertunduk lesu. Dia mengulang perkataan salah satu temannya yang telah mati. Dia mengumpulkan tekadnya di pundak. "Apa itu Hunter?" Dia mempertanyakan kembali dirinya sendiri. Sedikit lama, hatinya tiba-tiba tersadar akan sesuatu.
"Ya, benar. Kamilah yang seharusnya memburu mereka, memangsa mereka, dan membunuh mereka." Kata Prisca. Dia mengambil pedangnya di meja. Menggenggam erat, seakan tekadnya ingin tersalurkan dalam pedang. Tatapannya melihat punggung Jaya Pertama yang sedang mengobrol bersama Barry. "Akulah yang akan membalaskan kematian teman-temanku,"
Prisca berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Jaya Pertama.
"Kau, namamu Jatra," kata Prisca menatap Jaya Pertama, yang telah berdiri berada di sampingnya.
"Ho... Apa kau ingin menceritakan kisah sedih dari Spider Monkey? Lupakan, aku tak tertarik." Tangannya Jaya Pertama acuh mengibaskan. Bahkan dia tidak menaruh pandangan sekalipun kepada Prisca. "Aku telah membuat keputusanku sendiri. Dan tanpa kau beritahu tempat sarangnya, Barry tahu tempat letak arahnya."
"Ya, kan Barry?" Tambah Jaya Pertama.
Prisca menatap sebentar ke arah Barry.
__ADS_1
Barry tersenyum ringan, mengangkat bahu.
Prisca membuka mulutnya terdiam sebentar dan berkata, "oke kau benar. Menunggu bukanlah jawaban. Tapi, menyerang tanpa rencana juga bukanlah sebuah solusi jawaban. Aku telah membuat keputusan. Bahwa aku akan ikut untuk membantumu membunuh Spider Monkey."