Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Lencana


__ADS_3

Jaya asli terbangun dari pingsannya. Dia telah mengalahkan Ular Suto Brajan dengan menguras banyak tenaga Aura dan jiwa Anantanya. Sebab, penyatuan dari dua energi yang dilakukan Jaya itu membentuk sebuah energi baru. Dan itu adalah energi yang masih dia belum ketahui.


Energi itu, kekuatannya sangatlah kuat dari tingkatan energi Aura dan Jiwa Ananta. Jika tanpa kekuatan dari energi baru itu, kemungkinan Jaya yang akan kalah. Karena pertarungan dengan Ular Suto Brajan sangatlah sengit. Tidak ada cara baginya untuk mengalahkannya.


Hanya saja, setelah membunuhnya, Jaya langsung pingsan. Dia hanya bisa mempertahankan energi baru itu cuma 5 menitan saja. Pemahaman dan tubuh fisiknya masih belum mumpuni untuk menggunakannya.


Saat ini dia berada di dalam sebuah gua yang besar. Di sana ada dua Klon bayangannya yang tengah berjaga menunggunya.


"Di manakah ini?" Jaya melihat ke sekitar gua. Ada begitu banyak keanehan di dalamnya. Seperti bekas tebasan pedang yang banyak dan ada sepasang pintu yang besar.


"Ini ada di dalam gua air terjun. Setelah kau pingsan, kami membawamu ke lubang besar di tengah air terjun. Kami sudah mencoba untuk membuka pintu di sana, tetapi sepertinya itu tidak bisa dibuka tanpa adanya kunci." Jawab salah satu Klon bayangannya.


"Pintu itu juga terlalu misterius dengan tulisan bahasa yang tertera. Selain itu disini adalah tempat yang bagus untuk bersembunyi. Kami telah memasang beberapa mantra segel pelindung...." Terangnya lebih lanjut.


"Begitukah … baiklah kalau begitu aku akan memulai pengontrolan Klon bayangan dari sini..." jawab Jaya.


****


Tempat bayangan Jaya Pertama.


"Jadi kekuatanmu adalah dapat menghentikan gerakan lawan dan berpindah dengan cepat, ya...." Kata Sucipto sembari menyerang Jaya Pertama dengan gerakan tangan dan kakinya.


Mereka bertarung dengan berpindah tempat seperti angin yang bertabrakan di udara. Gerakan mereka berdua begitu cepat.


"Apakah cuma ini saja kekuatanmu? Aku tidak begitu yakin. Kau pasti masih menyembunyikannya..." Sindir Sucipto yang mulai serangannya bertambah cepat dan bertenaga.


Namun begitu Jaya Pertama di serang sampai bertubi-tubi dengan tendangan dan tinju Sucipto. Semua serangan Sucipto tidak berdampak apapun. Malah, di sekitar arena ruang tiba-tiba hancur dan pecah berantakan.


"Hoo … apakah itu adalah jurus kekuatanmu yang lain?"


"Ya, ini adalah jurus yang dapat memindahkan dampak serangan tubuh menjadi keluar berpindah ke tempat lain."


"Baiklah … kurasa ini sudah cukup. Tapi sepertinya kekuatan Anantamu belum mencapai Awakening..." kata Sucipto puas menguji kekuatan Jaya. "Aku tahu kau masih menyembunyikan trik lain dan beberapa jurus Anantamu. Tapi tes pertarungan ini hanyalah menguji daya tempur bukan pertarungan hidup dan mati..."


"Terima kasih telah menahan diri. jika tidak, mungkin akulah yang akan kesusahan..." jawab Jaya menundukkan dirinya mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Haha … tak perlu begitu. Dengan kekuatanmu saat ini setidaknya kau bisa pergi ke medan energi ke tingkat kacau ataupun ekstrim. Kau lulus untuk menjadi Hunter,"


"Terima kasih, senior." Jaya masih mengepalkan tinjunya ke depan.


"Apakah kau sudah menentukan untuk bergabung pergi ke Klan mana?"


"Saya masih belum memutuskan dan masih bergerak mandiri..."


"Begitukah? Dengan tingkat level 4, kau mestinya tidak akan kesulitan untuk menentukan Klan mana yang akan kau tuju. Tapi ingat, harap rahasiakan kekuatan Anantamu itu..." kata Sucipto dengan senyum ringan.


"Terima kasih atas saran senior..."


Tak lama di sebuah ruang tempat Sucipto, Jaya diberi lencana Hunter dengan peringkat B. Sebuah lencana yang dapat untuk pergi menjelajahi ke tempat medan energi kacau atau pun ekstrim. Jaya pun dijelaskan oleh Sucipto tentang berbagai hal.


"Di cabang distrik timur ini setidaknya ada 10 klan dan 5 sekte. Setiap klan biasanya mempunyai jumlah pasukan seratus hingga seribuan. Sedangkan sekte berjumlah seribu sampai lima ribuan. Mereka semua ada yang dinaungi jenderal dan ada yang independen."


"Hm … begitukah. Terima kasih atas informasinya. Maaf kalau merepotkan, apakah anda mempunyai seorang kenalan untuk seorang Alkemis? Saya ingin berbisnis dengannya..."


"Seorang ahli Alkimia ya. Bisnis apa yang ingin kau lakukan?" Sucipto memegang dagu dengan jarinya. Sedikit penasaran tentang bisnisnya dan mencoba mengingat kenalannya.


"Ohh … resep pembuatan obat pil?" Mata Sucipto kembali terkejut mendengar perkataan Jaya Pertama. "Apakah kau orang yang dalam mitos?"


"Maksudnya?" Jaya Pertama bingung.


"Apakah kamu adalah orang yang hidup kembali...." Jawab Sucipto lirih mendekat ke wajah Jaya.


"Eee … i-itu..." Jaya bingung harus menjawab apa. Sucipto adalah instruktur Asosiasi Hunter yang baik dan ramah kepadanya. Bahkan tempat distrik di asosiasi ini pun semua pelayanannya sangat ramah. Tidak ada diskriminasi antar golongan kaya ataupun miskin.


Selama mereka mempunyai kekuatan dan ingin menjadi Hunter, semuanya akan disambut oleh mereka. Sebab, pendirian Asosiasi Hunter adalah untuk mengalahkan para monster yang mengancam kelangsungan hidup manusia. Dia sejajar dengan status kerajaan yang mendirikan banyak ibu kota di wilayahnya.


Jaya Pertama kaget dalam hatinya, bagaimana Sucipto bisa mengetahuinya. Bahkan sebelumnya, kekuatan Anantanya juga, dia bisa langsung mengenali dengan sekali lihat.


'Apakah dia mempunyai hubungan dengan kekuatan bangsaku?' gumam Jaya.


"Yah … kalau kau tak ingin mengatakannya tidak masalah. Itu hanyalah rumor mitos yang selalu beredar di kalangan bangsawan kerajaan. Bahwa, bangsa Asoka bisa kembali ke masa lalu dengan kekuatan Anantanya...." Keluh Sucipto santai walau sedikit tegang.

__ADS_1


"Sebab, aneh jika akan ada orang yang ingin berbisnis pembuatan pil obat untuk waktu sekarang. Aku hanya asal menebaknya saja..." tambah Sucipto.


"Eh i-itu … sepertinya tidak." Jawab Jaya.


"Hmm … begitu ya … kurasa mitos memanglah mitos. Baiklah, jika kau memang ingin berbisnis itu, maka aku akan membantumu. Karena selama ini, para Alkemis juga telah banyak mengalami banyak penurunan dalam hal pembuatan pil obat. Maka sangat jarang jika ada resep obat diciptakan..." Terang Sucipto. "Apakah kau mempunyai master pil obat?"


"Yah, bisa dibilang begitu." Jaya mengelus belakang lehernya mencoba memasang muka bohong. "Tapi dia hanya memberikan amanat kepadaku untuk tidak memberitahukan identitasnya kepada siapapun..."


"Resep apa yang ingin kau bisniskan?"


"Resep pil obat penerobos energi dan pil obat pembersih energi..." Kata Jaya Pertama santai. Lalu wajahnya sedikit cemas, "Aku ragu untuk yang satunya, ini adalah pil obat pembangkit Ananta..."


"Pil pembangkit kekuatan Ananta?!" Sucipto gemetar mengulang perkataan Jaya Pertama.


"Yah … walau tidak seratus persen. Namun jika meminumnya secara rutin, itu akan berhasil merangsang kekuatan Anantanya untuk terbangun dengan cepat...."


"Ahh jadi begitu. Baiklah. Baiklah. Bagaimana kalau kau ku perkenalkan dengan ketua Asosiasi Hunter kota ini saja. Dia adalah penguasa di kota benteng ini. Disini, dialah yang berwenang mengelola bagian tempat seperti Alkimia, pelelangan dan Asosiasi Hunter."


"Jika bisnis resep obat seperti itu maka ini adalah sebuah bisnis skala besar, tidak bisa dianggap sepele. Ini akan mempengaruhi banyak hal untuk di kerajaan Manikmaya. Akan lebih bagus jika kau mengatakannya langsung kepada ketua. Mungkin dia bisa membantumu dalam mengembangkan bisnis itu..."


"Terima kasih … kalau begitu saya akan merepotkan senior..."


"Kamu tunggulah disini. Aku akan menemui ketua terlebih dahulu..."


Lalu, Sucipto pergi meninggalkan Jaya Pertama di ruangannya sendirian. Dia melangkahkan kaki ke ruangan ketua Asosiasi Hunter. Begitu sampai, ketua sedang mengurusi berkas dan ada banyak berkas yang menumpuk di samping mejanya.


"Ketua … ketua … ada berita bagus!" kata Sucipto semangat buru-buru masuk.


Seorang perempuan berdehem menghentikan langkah Sucipto yang ingin bergegas ke depan meja ketua.


"Ada apa kau kemari Sucipto?" Tanya perempuan yang sedang berada di meja lain. "Jangan terlalu berisik disini, ini bukanlah ruang yang seenaknya kau datangi..."


"Begini nyonya Lastri, aku mau melapor kepada ketua. Ada seseorang yang menawarkan bisnis yang sangat bagus dan menarik..." Jawab Sucipto lembut.


"Hm. Apakah kamu tidak tahu? Ketua saat ini sangatlah sibuk … cepatlah katakan bisnis apa itu? Kita tidak mempunyai waktu untuk mengurusi para bangsawan ningrat siapapun saat ini..." Jawab Lastri tegas, dan dia juga sedang mengurusi sebuah berkas di mejanya. "Banyak dunia Mayantara yang perlu kita awasi saat ini. Pergerakan mereka semakin hari telah semakin banyak..."

__ADS_1


__ADS_2