
Wulan menoleh ke sumber asal suara. Dia melihat sosok yang tidak asing. Seorang perempuan cantik dengan pakaian sutra dan beberapa pengawal di belakangnya. Dia berjalan mendekati Wulan. Jacky tidak senang merasakan kehadirannya. Dia menanyakan kepada Wulan. "Siapa dia, nona?"
"Susan... Dia sepupuku," jawab Wulan dengan mukanya yang malas. "Lebih baik ayo pergi,"
Begitu akan hendak pergi, Susan menatap menyeringai kepada Wulan, "apakah kau akan pergi begitu saja? Tidak kusangka aku akan menemuimu disini, Wulan."
"Maaf, aku punya urusan lain." Wulan langsung memalingkan wajahnya cuek dan mengajak Jacky untuk segera pergi. Wulan merasakan firasat buruk, jika dia harus berhadapan lama dengan Susan. "Tidak ada hal baik jika bersamanya,"
"Apakah begitu tata krama menyapa kepada seseorang yang lebih tua darimu?" Kata Susan menyorot dingin. "Mungkinkah ayahmu tidak mengajari tentang itu? Oh, pantas. Dia menjadi Jenderal yang dibuang."
Wulan memutar tubuhnya membelakangi Susan sambil mengepal tangannya dengan tegang. Dia marah ketika ayahnya menjadi bahan sindiran dirinya. Jika bukan karena pengaruh ayahnya Susan, Wulan mungkin sudah akan langsung menyerang Susan dan menghajarnya.
"Tentu, pergilah. Aku tahu. Tunas yang busuk pasti menghasilkan buah yang busuk pula." Susan memancing emosi Wulan, sambil tangannya melambai untuk mengusir. Lalu, Susan memanggil resepsionis yang berada di dekat Wulan. "Hei, pelayan Asosiasi Hunter, aku ingin menyewa penginapan yang terbaik di kota ini."
Susan kembali tersenyum menyeringai lebar dan berkata, "dan jangan berikan penginapan kepada mereka." Susan menunjuk ke arah Wulan. "Jika dia ingin menyewa, aku akan membayar dua kali lipat dari harga yang ditawarkannya. Aku ingin tahu, dimanakah dia akan tidur malam ini. Mungkin di tempat gang sampah adalah tempat yang cocok baginya,"
Wulan menunduk berat dan terdiam. Susan adalah salah satu anak dari Jenderal Besar Taka, kakak dari Jenderal Aji Saka. Mereka memanglah berasal dari Klan yang sama dari bangsa Arya. Namun, sikap keluarga mereka kepada Jenderal Aji Saka sangat begitu direndahkan.
Wulan tidak bisa berkata apa-apa jika harus menghadapinya, selain menghindarinya. Sebab, itu akan mempengaruhi reputasi ayahnya.
Dan resepsionis bingung dengan keadaannya mereka yang bersitegang. Dia tidak tahu harus berpihak kepada siapa.
Jacky mengerti sedikit dan berkata kepada resepsionis, "hei, kita jadi pergi atau tidak? Bukankah katamu tadi, ketua Asosiasi Hunter sudah menyiapkan tempat bagi kami..."
Resepsionis terdiam mengamati situasi dan mengangguk. Dia tersadar akan tugasnya. "Baik, maaf. Oke, kita pergi. Mari saya antar ke tempat anda?"
__ADS_1
Jacky tersenyum kecil, "tenang nona Wulan. Jangan khawatir soal penginapan," Jacky memutar badannya dan mengabaikan Susan. Mereka berdua lekas pergi.
Susan terkejut, dan senyum jahatnya terhapus dari wajahnya. "Hei, pelayan. Apakah kau tidak mendengar dari perkataanku tadi. Jangan berikan mereka itu penginapan, sebab aku akan membayar dua kali lipat dari penginapan yang mereka sewa..."
"Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya. Itu di luar wewenang saya untuk memutuskan," jawab resepsionis. Dia berkata dengan wajah senyum ramah yang dipaksa. "Soalnya saya hanya menjalankan tugas. Jika anda ingin mencari penginapan, silahkan pergi ke meja kasir. Nanti akan ada seseorang yang akan membantu mengarahkan anda,"
Resepsionis pun langsung melangkah pergi ke depan mengantar Wulan dan Jacky ke suatu tempat penginapan mengabaikan Susan.
"Apa?! Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku. Oh, oke begitu. Baik .... aku akan mengingatkanmu ya, aku, Susan, anak dari Jenderal Besar Taka. Kau pasti akan menyesal nanti." Teriak Susan yang hatinya meletus marah karena diperlakukan tidak baik.
Wulan tersenyum tipis. Dia tak menyangka akan terjadi hal yang seperti ini.
Mereka tiba di sebuah bangunan penginapan bertingkat yang berada di samping dekat gedung Asosiasi Hunter. Fasilitas di penginapan tersebut sangat banyak, seperti pemandangan, taman, banyak kamar, dan pelayan pembantu. Semua suasana tempat itu bagai Mansion kecil yang mewah.
Resepsionis membisikkan untuk memberikan laporan kepada ketua Asosiasi Hunter tentang Jacky dan Wulan yang mengaku sebagai teman Jaya dan masalah tentang Susan.
Ketua Asosiasi Hunter mengangguk mengerti dan dia berkata.
"Jadi, kalian adalah teman Jaya. Perkenalkan, namaku Suwarto. Akulah yang mengelola di wilayah Asosiasi Hunter ini. Aku sungguh ingin sekali bertemu dengan Jaya. Baiklah, karena kalian datang diperintah olehnya untuk datang ke sini. Anggaplah penginapan ini sebagai rumah kalian sendiri."
"Terima kasih..." kata Jacky. Matanya penasaran dan lanjut berkata. "Penginapan ini sungguh besar. Apakah anda yakin, ini dipersiapkan untuk Jaya?"
"Haha ... tidak perlu berterima kasih. Aku hanya menjalankan tugasku. Karena, Jaya belum datang, maka aku rasa, aku harus undur diri pergi ke tempat lain terlebih dahulu." Kata Ketua Suwarto. Dia beranjak berdiri. "Tolong kabari, jika Jaya telah datang kemari. Nikmati saja waktu luang kalian disini dengan nyaman."
Sekejap mata, Ketua Suwarto langsung menghilang dari tempatnya.
__ADS_1
Jacky membuang pikiran yang tidak bisa dipercayainya. Tidak disangka, temannya Jaya bisa menjalin hubungan dengan seorang ketua dari Asosiasi Hunter. Dia hanya menggelengkan kepala takjub untuk bisa menerima kenyataan.
"Nona Wulan, kurasa sekarang anda tidak perlu memikirkan tentang masalah penginapan," kata Jacky tersenyum kecil.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Awalnya aku ingin mengantarmu untuk sampai ke sini. Lalu kemudian aku akan menyewa salah satu tempat penginapan di kota ini. Tetapi sepertinya akulah yang telah tertolong di sini," Kata Wulan lirih dan matanya tertegun. "Aku berhutang rasa terima kasih kepada Jaya,"
Setelah itu, beberapa saat kemudian prajurit Wulan pun datang ke penginapan. Dan Jacky memilih salah satu kamar untuk memulai kultivasinya kembali. Dia mulai menyerap energi dari batu Kristal.
Dan semua yang berada di penginapan diperlakukan istimewa oleh pelayan pembantu.
Dengan tiba-tiba, Jaya Kedua telah datang ke tempat penginapan menggunakan jurus Ananta kegelapannya. Dia berada di depan penginapan dan bergegas masuk. Sebelumnya dia memanglah telah mengetahui tentang penginapan yang dipersiapkan untuknya, dari Jaya Pertama.
Dia bertemu beberapa prajurit Wulan yang berjaga di depan.
"Tuan Jaya," kata Prajurit Wulan yang begitu langsung mengetahuinya. "Nona Wulan telah menunggu anda,"
Jaya Kedua tersenyum santai, "oh. Dimanakah dia sekarang?"
Prajurit itu pun mengantar ke tempat Wulan berada, setelah itu dia pergi. Dan saat ini Wulan sedang melakukan kultivasi di sebuah tempat terbuka yang berada di taman.
Jaya Kedua memeriksa tingkat kekuatan level Auranya Wulan, dengan Aura Mental. Matanya menyala, dan dapat melihat perkembangannya. "Jenius ... hampir mencapai tingkat level empat. Tinggal satu tahap lagi, mungkin dia akan bisa menembusnya."
Saat berkultivasi, tubuh Wulan berubah begitu bening dan putih, bagai kristal yang mengkilap. Energi Aura seperti es menyelimuti tubuhnya dengan embun yang tipis. Wulan begitu fokus menyebarkan energi ke seluruh tubuhnya.
"Anak Jenderal Aji Saka, sepertinya memiliki bakat luar biasa. Tanpa bantuan obat dan berbagai barang tertentu. Dia telah sampai di tingkat seperti ini." gumam Jaya Kedua dalam hati. Dia terkesan dengan perkembangan kultivasi Wulan. Itu bukanlah sesuatu yang bisa ditemui dimanapun. "Mungkinkah dia anak yang terlahir dengan Aura Raja?"
__ADS_1