
Jaya kedua tersenyum kecil. Para Asosiasi Hunter rupanya telah menyebarkan berita tentang Pil Obat dan Kristal Merah dengan sangat cepat. Bahkan bisa menarik perhatian banyak orang yang ingin datang untuk membelinya atau hanya sekedar ingin melihat saja.
"Oh, begitukah. Aku baru tahu. Apakah Nona Wulan berniat untuk ikut andil dalam pelelangan itu?" Tanya Jaya Kedua.
Derap rombongan Prajurit dan gerobak kereta bergerak melaju menyusuri arah yang di tunjukkan Jaya Kedua.
"Kalau memungkinkan aku ingin membeli Kristal Merah kalau harganya masih mampu untuk ku jangkau dan tidak terlalu tinggi. Tapi kurasa sepertinya itu sungguh mustahil." Jawab Wulan sedikit tidak punya harapan. "Ku dengar, pihak Kerajaan akan datang juga untuk menawar barang itu."
"Bahkan sampai pihak keluarga kerajaan?" Tanya Jaya Kedua mengulang perkataan. "Hehehe,"
Wulan tidak paham ekspresi Jaya Kedua yang aneh. Setengah senang tapi juga banyak khawatirnya.
"Kalau kau datang ke sana untuk apa?" Tanya Wulan penasaran.
"Oh, aku ada bisnis kecil. Mencoba mengais keberuntungan langit di sana. Siapa tahu bisa dapat ikan kecil di kolam yang keruh,"
Jacky mencerna topik pembicaraan dalam benaknya. Jaya seolah menyimpan banyak rahasia darinya. Dia lebih baik mengikuti dan diam menunggu intruksi arahan Jaya. Apalagi berurusan dengan bangsawan ningrat kaum elite. Sembunyi diam di dalam batu lebih baik, dari pada sesumbar mencari perhatian, itu malah bisa menambah beban. Bisa duduk dan berbincang saja, ini sudah termasuk keberuntungan baginya.
Putri yang duduk menunggu di dekat pohon, tiba-tiba melihat gerombolan Prajurit Wulan datang.
Patrik yang mengendarai kuda di depan terbelalak.
"Putri Sekar?!" Katanya. Dia buru-buru turun dari kuda dan membungkuk memberi hormat setengah badan.
'Teman Jaya yang butuh bantuan pertolongan, mungkinkah adalah Putri Sekar. Anak dari Jenderal Besar.' Gumam Patrik dalam hatinya.
Putri tersenyum lebar. Sepertinya sinar harapan telah ada di depannya. Kini dia tidak perlu lagi harus menunggu orang misterius yang ingin membantunya.
"Kebetulan sekali. Aku butuh bantuan. Jika sesampai di Kota Benteng Asosiasi Hunter, nanti aku akan memberi kalian hadiah. Berdirilah," Kata Putri. "Berilah pertolongan pertama kepada Pamanku yang terluka. Dan bawalah aku ke kota dengan selamat,"
"Baik, tuan Putri." Jawab Patrik. Dia menegakkan badannya kembali. Lalu dia memandang anak buahnya. "Bantu tuan Putri dan antar naik ke gerobak kereta."
"Kita akan bergegas kembali mencari tempat yang aman. Jalur ini sangat rawan dengan Monster. Semua tetaplah waspada!" Teriak Patrik serius. Keputusannya sangat sigap. Dia tidak punya waktu untuk menanyakan apa yang terjadi kepada Putri Sekar.
"Mari putri, kita akan bergegas lagi. Di tempat ini masihlah tidak aman," kata salah seorang Prajurit menghantarkan Putri Sekar Berjalan.
__ADS_1
"Benar. Lebih baik kita keluar dari sini terlebih dahulu," jawab Putri Sekar.
Putri Sekar di antar untuk masuk ke dalam gerobak kereta. Di sana ada Wulan, Jaya Kedua, dan Jacky.
"Kamu?!" Kata Putri. Melihat Jaya Kedua dengan teramat kaget.
"Eh...Putri Sekar?!" Wulan juga kaget, melihat Putri Sekar dengan keadaan yang tampak kacau dan membawa satu orang yang terluka.
"Hai. Kau masih menunggu, ya. Ku kira kau akan pergi tidak akan menerima ajakan tawaranku." Jawab Jaya Kedua dengan senyum ringan.
"Jadi ini, temanmu?" Tanya Wulan dan Putri sekar bersamaan ke arah Jaya Kedua.
Putri Sekar saling pandang dengan Wulan yang merasa pertanyaannya sama.
"Duduklah dulu. Nanti aku jelaskan," kata Jaya Kedua santai.
Perjalanan di lanjutkan kembali, ketika Putri Sekar masuk ke dalam gerobak kereta.
Meja tengah di singkirkan untuk tempat perawatan Paman Yoga. Salah seorang Prajurit mengobati dengan membalutkan perban dan menyembuhkannya menggunakan kekuatan Aura mental dengan kedua tangannya.
"Situasi macam apa ini Jaya? Ini seperti kandang macan," kata Jacky lirih. "Apa yang sebenarnya kau rencanakan, siapa Putri Sekar yang di katakan Nona Wulan?"
"Aku juga tidak tahu. Anggaplah seperti biasa, tidak terjadi apa-apa. Jangan terlalu berpikir berlebihan."
Jacky menghela nafas. Menggeleng pasrah.
"Ini butuh waktu lama untuk bisa pulih sepenuhnya. Keadaannya benar-benar kritis, sangat buruk. Sebaiknya di bawa ke Prajurit Medis dengan kemampuan yang baik, ketika nanti sampai tiba di kota. Biar dia bisa ditangani dengan lebih baik. Saat ini aku hanya bisa membantunya menyembuhkan luka luarnya saja. Tapi, luka dalam yang dia alami ini sungguh lebih parah dari pada luka luarnya." Kata Salah seorang Prajurit yang mengobati Paman Yoga. Dia begitu fokus mengobati.
"Aku mengerti." Jawab Putri Sekar yang menatap Jaya Kedua penuh misterius.
"Entah Monster apa yang bisa membuat seorang tingkat Level 5 bisa sampai seperti ini. Benar-benar keajaiban jika Putri Sekar bisa lolos dari serangan Monster seperti itu. Ini pastilah Monster tingkat level 6 atau tingkat level 7. Tapi aneh jika ada Monster tingkat seperti itu lepas dari Dunia Mayantara. Berarti, bisa jadi, ini akan ada Perang Gelombang Monster..." Kata Prajurit yang menerka membayangkan apa yang terjadi dengan Putri Sekar.
Keberadaan Monster tingkat tinggi biasanya sangat di awasi pergerakannya di Dunia Mayantara. Jika mereka menguasai Medan energi Dunia Mayantara, dan lepas keluar, kemungkinan buruknya adalah Perang Gelombang Monster.
"Bukan, Monster itu tidaklah tingkat level 6 atau level 7. Dia hanyalah Monster tingkat level 4. Dan memiliki kekuatan aneh."
__ADS_1
"Apa?!" Prajurit tersebut meneteskan keringat di dahinya, yang mengobati Paman Yoga dengan kedua tangannya menyentuh perutnya.
Ada bentuk energi setengah lingkaran yang mendesing di kedua tangannya. Dia mentrasferkan kekuatan Aura mental untuk memperbaiki aliran darah yang berantakan dan energi yang kacau di tubuh Paman Yoga. Luka luar di tubuhnya, perlahan membaik bergenerasi mengeluarkan asap tipis.
"Sungguh mustahil ada Monster yang seperti itu?" tukas Prajurit memasang senyum seolah tak percaya.
Wulan dan Jacky sudah mengetahui itu dari cerita Jaya Kedua. Mereka tidak terlalu terkejut lagi ketika mendengarnya.
"Apakah itu Monster atau bukan. Faktanya kelompok Prajuritku telah mati semua, dan hanya menyisakan aku dan Pamanku. Tidak ada yang dari Prajuritku untuk bisa melawannya, atau pun mencegahnya." Kata Putri yang matanya dingin penuh kesedihan. Dia menatap Jaya Kedua.
"Ha...Lalu bagaimana anda bisa selamat dan bagaimana nasib Monster itu?"
"Ada seseorang yang bisa mencegahnya dan melawan Monster itu sendirian. Dan akhirnya membuatku bisa melarikan diri. Setelah itu, entah bagaimana seseorang itu bisa selamat, dan keadaanya pun masih tampak sehat saat ini..."
"Hm...Apakah dia adalah seorang Master? Ataukah Jenderal? Lalu apakah dia berhasil membunuh Monster itu?"
"Tidak. Dia bukanlah Master ataupun Jenderal. Dia hanyalah pemuda biasa. Aku sendiri juga ingin tahu siapa sebenarnya pemuda itu? Dan bagaimana nasib Monster itu?"
Prajurit yang mendengar jawaban Putri Sekar merasa aneh.
Jaya tersenyum kecil. Putri Sekar sebenarnya membicarakan dirinya.
Wulan bertanya kepada Jaya Kedua dengan penasaran untuk memastikan sesuatu. "Apakah dia adalah seorang temanmu yang katanya sedang terluka di serang Monster?"
Jarinya Wulan menunjuk ke arah Putri sekar.
"Teman?" Ulang Putri Sekar bingung mengernyitkan dahinya.
"Apakah Putri Sekar tidak mengenalnya?" Tanya Wulan dengan nada lembut.
Jaya kedua buru-buru menjawab untuk sedikit menjelaskan.
"Ha, yah. Sebenarnya kita itu bukan teman. Hanya kebetulan bertemu di tengah hutan. Dan aku membantunya saat menemukan dia sedang dalam keadaan kesulitan," jawab Jaya Kedua menggaruk rambutnya dengan ujung jari. Mencari alasan yang tepat.
'Jadi dia namanya Putri Sekar. Siapa dia ini?' Tanya Jaya Kedua dalam batinnya.
__ADS_1