
"Jangan berhenti!!" Teriak suara keras Jaya Kedua. "Tetap maju! Maju terus ke depan..."
Dia melemparkan bom asap jauh ke arah depan, tepat ke tempat area anak kecil. Lalu dengan pedang Auranya, dia bergerak melompat-lompat melayang menjadikannya pijakan untuk maju ke depan dengan cepat. Sebagian yang melihat seperti sedang memandang ada orang yang berjalan di atas udara.
"Ah!"
Patrik tertegun. Jaya Kedua melompat di udara dengan pedang Aura untuk melewatinya.
"Hei, apa yang kau lakukan bocah?!" Tanya Patrik.
"Aku akan mengurus semua yang berada di depan. Kalian tetaplah maju, tunggu aba-abaku. Lalu majulah dengan secepat mungkin!" Jawab teriak Jaya Kedua yang dirinya semakin terus maju duluan.
Beberapa Prajurit kebingungan melihat tindakan Jaya Kedua. Patrik juga merasakan hal yang sama. Tidak mengerti apa yang dimaksud Jaya Kedua. Tindakannya penuh memberikan banyak tanda tanya.
Sebagian Prajurit bertanya kepada Patrik.
"Ketua, apa yang dimaksud dengan bocah itu?"
"Sialan. Bocah bodoh!!"
"Dia memang bocah kurang ajar. Beraninya dia bertindak seenaknya dan membuat bom asap di depan."
"Ketua apa yang harus kita lakukan?"
Patrik menoleh ke wajah para Prajurit yang sedang kebingungan. Dia kembali melihat punggung Jaya Kedua yang terus maju. Pilihan Patrik terpecah, antara menyelamatkan anak kecil atau tetap maju menerobos ke depan. Ini adalah skema jebakan yang dipersiapkan oleh monster Jackal.
Jika dia berhenti untuk menyelematkan anak kecil. Kemungkinan mereka akan langsung diserang dan dikepung. Tetapi, kalau tidak, dia masih harus melawan barisan monster Jackal yang menunggunya di belakang.
Namun kini jalan di depannya yang masih lumayan jauh, terhalang oleh kabut asap yang diciptakan Jaya Kedua. Pikirannya yang merenung untuk menemukan solusi semakin menjadi rumit.
Sesaat matanya dia melebar.
"Hmph!!" Gumam Patrik.
'Aku paham. Jadi dia ingin mengacaukan barisan depan dengan mengkaburkan penglihatan dan sambil menyelamatkan anak kecil.' Kata Patrik dalam hati berpikir yang tidak menduganya.
"Yosh. Dengarkan!! Kita akan menerobos dengan formasi menyerang." Teriak suara Patrik yang lantang menggelegar. "Pasukan sayap kiri dan kanan akan bergabung ke barisan depan. Kita fokuskan pengawalan dengan terpusat di depan,"
"Jangan dibingungkan oleh jumlah monster yang mengejar atau menunggu di depan. Tujuan kita adalah menerobos mereka!" Tambah teriak Patrik semangat.
"Eeeh!" Kata Prajurit yang terkejut. Tidak mengerti rencana dari Patrik.
__ADS_1
Mereka semua pun mengatur ulang formasi mengikuti arahan komando Patrik. Dan kini gerobak kereta di sampingnya tidak ada lagi Prajurit yang menjaga.
Patrik berencana melakukan serangan yang terus maju ke depan. Meski dikejar, dari samping dan belakang, jarak monster Jackal masihlah melebar. Tentu tidak akan masalah jika di depan dapat diterobos dengan cepat.
Semua tergantung dari Jaya Kedua yang telah maju duluan.
Jaya Kedua masuk ke dalam kabut asap. Dengan cepat, dia mengaktifkan kekuatan Ananta kegelapan. Tangannya menjadi gelap, lalu dengan Jurus Nafas Kegelapan, dia berpindah cepat ke tempat anak kecil.
"Baiklah sekarang dengan begini aku tidak masalah menggunakan kekuatan Ananta." Kata Jaya Kedua. Dia melihat tujuh anak kecil yang menangis di depannya.
"Kakak, tolonglah kami!!"
"Tolong kami!!"
"Huuuaaaa"
Mereka semua menangis dengan berlinangan air mata. Raut mukanya tergambar jelas penuh ketakutan dan kesedihan. Rambut, pakaian, tubuhnya, semuanya berantakan, seakan terkena teror dalam hidupnya.
Jaya Kedua mengaktifkan Aura mental, mendeteksi energi di tubuh anak kecil. Tidak ada tipuan di dalam tubuh mereka. Namun Jaya Kedua masih tidak terlalu percaya. Bisa jadi, Jackal telah menyiapkan sesuatu jebakan untuknya lewat anak-anak kecil tersebut.
Sebab, aneh jika ada anak kecil yang diculik di sini. Memang, jarak lembah ini dengan jalur aman sangatlah dekat. Tapi bagaimana bisa mereka menculik anak kecil. Dari mana mereka mendapatkannya, karena anak kecil sangatlah jarang ditemukan bisa berada di hutan monster. Meskipun di jalur aman sekalipun.
"Kalian tahanlah sakit ini sebentar, jika tidak ada masalah. Nanti aku akan menyelamatkan kalian," kata Jaya Kedua. Dia menggunakan Jurus Pemikat Kegelapan untuk membuat sebuah paku hitam kecil dari bawah bayangannya.
Paku Hitam tersebut lalu menusuk kepada mereka semua. Kemudian Jaya Kedua mengamati energi mereka semua lewat aliran energi yang diserapnya. Ternyata ada enam diantaranya memiliki energi monster.
"Kurang ajar, beraninya kalian ingin bermain trik denganku," kata Jaya Kedua lirih melotot.
Dia memfokuskan menutup matanya, energi jiwa kegelapannya menyelimuti semua tangannya dengan mengepul, mengatupkan kedua tangannya dan memindai semua dalam jarak radius 1 Km.
Jurus Nafas Kegelapan : perpindahan tempat!
Dalam sekejap dia memindahkan satu anak kecil ke dalam gerobak kereta. Dan sebagian yang lain dan para monster yang di belakangnya yang jaraknya sekitar 200 meter, langsung di pindahkan ke tempat lain.
"Majuuu!" Teriak Jaya Kedua dalam kabut asap. Dia lalu menghentikan kekuatan Anantanya untuk surut dari tangannya.
Patrik yang mendengar dari kabut asap. Matanya menyorot tajam. Tidak diduga, aba-abanya Jaya Kedua begitu cepat setelah dia masuk ke dalam kabut asap.
"Semuanya!! Percepat langkah kita. Kita akan menembus langsung ke depan!! Jangan berhenti atau melambat!"
"Hooaa"
__ADS_1
Semua Prajurit pun langsung mengikuti berlari dengan melaju kencang mempercepat langkah kudanya masing-masing. Debu tanah mengepul dalam deru derap kaki kuda mereka. Mereka mengangkat senjata untuk melakukan serangan.
Jackal Kyou dan semua ratusan bawahannya tiba-tiba terlempar di jarak sekitar 1 Km.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa aku berpindah disini?!" Tanya Jackal Kyou yang bingung. Dia berada di hutan yang kosong.
Semua para monster Jackal yang lain pun juga merasa bingung.
"Sialan!" kata Jackal Kyou. Dia lekas berbalik mencari energi mangsanya. Ternyata jaraknya telah menjauh.
"Manusia kurang ajar!" teriaknya menatap ke atas langit dengan penuh marah.
Di dalam gerobak kereta yang melaju.
Wulan terkaget di depannya ada anak kecil perempuan.
"Ha?" Kata anak kecil. Dia celingukan gelisah dan khawatir.
"Eh? Kenapa ada kecil tiba-tiba di sini?"
"Itu, itu, pasti kekuatan dia." Jawab Putri Sekar matanya tertegun. Itu hampir sama seperti saat ketika dia dulu tiba-tiba menghilang. "Jaya, dia pasti yang telah memindahkannya ke sini."
"Jaya?" ulang kata Wulan. Dia menatap anak kecil itu dengan aneh. "Apa yang sedang terjadi?"
Anak kecil itu mengusap ingus tangisnya. Dia lalu duduk memandangi semua dengan tatapan dingin penuh ketakutan. Menjauh, dan merangkul kedua kakinya yang ditekuk dengan tangannya. Dia diam tak menjawab.
Sedangkan Patrik yang menerobos ke dalam kabut asap dan terus maju ke depan. Dia merasakan aneh. Para monster Jackal tidak ada yang menghalangi jalannya.
"Ketua! Monster Jackalnya tidak ada. Jalannya benar-benar terbuka tanpa ada monster sama sekali!!" Kata seseorang.
"Apa sebenarnya yang terjadi di depan tadi?"
"Apakah bocah itu telah melakukan sesuatu?"
"Tidak peduli, apa yang terjadi. Yang jelas kini kita bisa pergi dengan tenang!"
"Percepat langkah kita!! Ini kesempatan yang bagus untuk melarikan diri!!" Jawab Patrik yang matanya juga ikut terkejut.
Dan dia tidak akan menyiakan peluang tersebut. Semakin jauh jarak monster Jackal dengannya. Maka peluang keselamatan dirinya untuk melewati lembah akan besar. Bahwa ini merupakan kemenangan dirinya yang bisa lolos dari serangan monster Jackal.
'Jaya? Sepertinya dia memiliki kekuatan Ananta yang unik. Tidak mungkin dia bisa memindahkan ratusan monster di depan dengan kekuatan Aura. Pasti dia menggunakan bantuan kekuatan Ananta. Tapi kekuatan Ananta apa itu?' Tanya Patrik penuh penasaran dalam hatinya.
__ADS_1