
Hari beranjak tengah malam. Rombongan Prajurit Wulan memutuskan istirahat setelah menemukan ada sebuah tempat yang tepat.
"Lapor, sejauh radius dari jarak 1 kilo meter, tidak ditemukan tanda-tanda adanya Monster." Lapor salah seorang Prajurit kepada Patrik.
"Tetap perketat pengawasan. Kita sudah keluar dari jalur aman, sesuatu bahaya bisa saja terjadi kapan saja. Atur pergantian pos penjagaan seperti biasanya. Keamanan Nona Wulan adalah prioritas utama." Tegas Patrik memberi arahan.
Melihat kondisi Putri Sekar, itu telah memberikan gambaran peringatan yang jelas.
Seorang Putri dari seorang Jenderal Besar, tentu mempunyai pengawal dan Prajurit hebat dalam mengawal perjalanannya. Tapi kenapa mereka bisa terserang hingga keadaanya sangat memprihatinkan. Ini perlu waspada untuk mengenali bahaya.
"Jangan sampai kita mendapatkan bencana seperti yang menimpa Putri Sekar," kata lirih Patrik dengan sorot matanya yang tajam.
"Baik," jawab Prajurit itu mengangguk semangat. Dia bergegas pergi bersama kudanya.
Patrik lalu turun dari kudanya, mendekat ke pintu gerobak kereta.
"Nona Wulan, kita akan memutuskan untuk beristirahat di sini." kata Patrik hormat. Menundukkan salah satu lututnya ke tanah. "Apakah anda tidak masalah?"
"Baiklah, Patrik. Pergilah untuk mempersiapkan yang lainnya," jawab Wulan dari dalam gerobak kereta.
Patrik berdiri, lalu memerintahkan mempersiapkan untuk saatnya beristirahat. Para Monster Kuda, di jejer untuk di istirahatkan dan di beri makan. Beberapa, alat masak di keluarkan untuk membuat makanan.
Jacky dan Jaya keluar ingin untuk bisa membantu persiapan juga.
"Bolehkah aku membantumu untuk membuat masakan?" Kata Jacky yang semangat ingin membantu. Dia mendekati seorang Prajurit Koki yang sedang bertugas memasak.
"Eh, tidak perlu, tuan. Ini bisa membuat tanganmu nanti kotor." Jawab Prajurit Koki seakan takut. Karena Jaya dan Jacky adalah teman Putri Sekar. Tentu mereka akan di anggap adalah seorang bangsawan sekelas Putri Sekar. Itulah anggapan semua Prajurit Wulan.
__ADS_1
Ketika saat di mintai pertolongan untuk membantu salah satu teman yang terluka, dan yang di tolong ternyata adalah Putri Sekar. seorang anak dari Jenderal Besar, yang mempunyai kuasa lebih tinggi dari pada Wulan. Status Jenderal Aji Saka dan Jenderal Besar adalah strata yang beda kelas dalam tingkat ke bangsawanannya.
"Haiya, tidak masalah. Jangan panggil aku tuan segala. Namaku Jacky. Aku juga seorang rakyat biasa seperti kalian." Kata Jacky santai dengan senyum ringan. Dia langsung menyambar daging dan pisau. "Aku suka memasak. Apa yang akan kita buat malam ini?"
Prajurit Koki itu tidak bisa berkilah untuk menghentikan niat Jacky yang tulus ingin membantu.
"Baiklah, kita akan membuat Daging Kuah Soto Santan. Dan makanan penutupnya Daging asap bumbu bakar." Kata Prajurit Koki dengan langsung menyiapkan beberapa alat panci dan wajan yang di keluarkan dari Kantong Ruang.
Beberapa tatakan api kemudian di buat. Dan meletakkan alat memasak di atasnya.
"Oke. Soto? Aku suka Soto. Apalagi kalau Soto daging ayam. Hem, mantap jiwa. Bagaimana dengan minumannya?" Kata Jacky merajang bebarapa bahan sayur dan rempah-rempah di atas papan kayu.
"Minumannya adalah Teh Sosro daun Herbal. Kau tidak perlu untuk membuatnya. Temanku yang akan membuatnya." Jawab Prajurit Koki. Dia mulai menabur bahan yang telah siap ke dalam panci besar, itu air santan.
Jaya Kedua duduk di dekat api unggun sambil menunggu makanan siap saji. Di sana ada Wulan, dan Putri sekar yang duduk bersebelahan, Jaya tepat berada di depannya. Dan para Prajurit yang lain duduk melingkar dalam balutan cahaya api unggun. Tapi duduk mereka mempunyai jarak sedikit jauh untuk bersebelahan dengan Wulan dan Putri Sekar.
"Jadi namamu, Jaya. Siswa dari Sekolah Hunter di Kota Bulengreng. Dari keluarga bangsawan mana kamu?" Tanya Putri Sekar dari belakang punggung Jaya Kedua.
"Kau terlalu merendahkan dirimu. Kenyataan bahwa kau yang telah menyelamatkan ku dari bencana itu. Tidak peduli, kau gelandangan atau bangsawan. Aku akan membalas jasa budimu itu. Sebagai keluarga Arya, kami semua mempunyai prinsip keluarga untuk tidak ingin menanggung beban hutang kepada siapapun. Bahkan, hutang nyawa harus di bayar dengan nyawa juga." Kata Putri Sekar. "Katakanlah apa permintaanmu, maka aku akan mewujudkannya selagi aku bisa dan mampu untuk melakukannya,"
Wulan hanya diam menyimak pembicaraan. Dia berpikir, amat penasaran dengan sosok Jaya yang di depannya.
"Jangan terlalu di pikirkan, itu hanyalah kebetulan semata. Tidak selamanya yang namanya kebaikan itu harus di balas kebaikan. Cukup kau syukuri saja, bahwa saat ini kau masih bisa hidup dan baik-baik saja. Nikmatilah. Lagi pula aku lebih penasaran dengan alasan mengapa Monster itu mengincarmu?" Kata Jaya Kedua. "Tidak, lebih tepatnya. Bukan Monster. Tapi orang itu?"
Jaya memandang kobaran api yang meliuk, membayangkan kekuatan Kegelapan Tarkan yang begitu tidak bisa diukurnya.
Putri Sekar terkejut dalam duduknya. Dia berdiri dan berjalan mendekat ke samping Jaya Kedua, menoleh memandanginya.
__ADS_1
"Siapa orang itu?" Tanya Putri Sekar penasaran.
Jaya kedua melirik jarak wajahnya Putri Sekar yang cukup dekat dengannya.
"Eee...kau bahkan tidak tahu musuh yang mengincarmu?" Tanya Jaya Kedua menyipitkan matanya.
Putri Sekar menggeleng kepalanya. "Tidak, beritahu, siapa dia? Apakah kau tahu identitasnya?"
Jaya kedua menghela nafas. Dia memang perlu menyebutkan nama musuhnya Putri Sekar untuk mengetahui petunjuk alasan Tarkan menyerangnya.
"Dia, Tarkan. Apa kau mengenalnya?"
"Tarkan?" Putri Sekar coba mengingat nama di ingatannya yang tampak kosong.
"Dialah yang mengendalikan Monster Beruang untuk menyerangmu. Aku hampir mati untuk menghadapinya. Jika kau tidak mengenalnya maka aku takkan lagi untuk membahasnya. Tapi lain kali berhati-hatilah, mungkin dia masih mengincarmu,"
"Aku tidak punya musuh yang bernama Tarkan. Mungkinkah jika dia di kirim oleh seseorang yang ingin membunuhku,"
Putri Sekar merenungkan peringatan Jaya Kedua. Menunduk dengan pikiran yang dalam.
"Bagaimana kau bisa selamat? Beberapa Prajurit Mati yang di kendalikannya seharusnya menyerang kalian." Tanya Jaya Kedua. "Aku tidak bisa mencegahnya saat itu,"
"Itu, semua berkat Paman Yogi. Para Prajurit Mati juga memiliki kekuatan yang sama dengan Monster Beruang aneh itu. Penyembuhan regenerasi tubuhnya yang sangat cepat. Kami terkepung, putus asa untuk melawan. Paman Yogi mengeluarkan banyak senjata pengecoh untuk bisa melarikan diri, tapi tetap saja kami terkejar dan kembali terkepung."
"Paman Yogi lalu mengeluarkan Kertas Mantra Peledak, dan menjebak semua Prajurit Mati dengan Jurus Ananta miliknya. Dia melakukan bunuh diri untuk menyelamatkanku. Setelah itu, semua Prajurit Mati juga ikut mati."
Jaya kedua mengangguk mengerti. Untuk mengalahkannya makhluk yang di kendalikannya ternyata perlu menghancurkan seluruh tubuh yang di kendalikannya.
__ADS_1
"Tapi tetap saja aku berhutang budi kepadamu. Tadi aku di jelaskan oleh Wulan tentang permintaan bantuanmu. Kaulah yang mengarahkan para Prajurit Wulan untuk menyelamatkanku dengan alasan untuk membantu teman yang terluka. Aku mengerti alasanmu itu. Tanpa bantuanmu, mungkin aku masih berkeliaran tidak jelas di hutan. Aku berterima kasih dengan setulusnya,"
"Aku akan memperkenalkan diriku dengan benar. Namaku Putri Sekar. Aku adalah anak dari Jenderal Besar Aryani, Keluarga Arya. Penguasa salah Ibu Kota simbol Pertahanan, yaitu Ibu Kota Kalijogo." Kata Putri Sekar. "Jasamu akan aku ingat. Katakan permintaanmu aku akan membalas budimu,"