
Paman Yogi melihat keadaan Paman Yoga yang terkapar, emosinya terbakar. Paman Yoga tubuhnya banyak mengeluarkan darah di kepalanya, sampai matanya tak sadarkan diri. Tangan Paman yogi dengan cepat lalu mengecek keadaan detak jantungnya.
"Syukurlah, dia masih hidup..." Kata Paman Yogi melepas rasa khawatirnya. "Tapi kondisinya dia sangat kritis..."
"Putri! Sebaiknya anda pergi dari sini, dengan cepat! Biar aku yang menghalanginya!" Teriak Paman Yogi yang campur aduk, marah, takut, dan khawatir begitu kalut.
"Bawa juga Paman Yoga bersamamu. Aku akan mengulur waktu agar kalian bisa kabur." Tambah Paman Yogi. Dia mengepalkan tangannya, menggigit bibir, dan menegangkan seluruh tubuhnya.
Putri sedang tampak memikirkan sesuatu, menghela nafas, matanya sedikit panik.
Paman Yogi dengan cepat mencoba menghiburnya.
"Jangan khawatirkan diriku, atau tentang pengorbanan para prajurit pengawal yang telah gugur. Semua yang telah mati akan bangga, selama tuan Putri bisa selamat dari musibah ini. Karena nyawa tuan Putri adalah prioritas kami semua."
Putri meneteskan air mata dan menghampiri Paman Yoga. Lalu dia menyandarkan tangannya Paman Yoga ke bahu lengan untuk mengangkat tubuhnya. Dia mengerti maksud perkataan Paman Yogi.
"Baiklah, Paman. Ku serahkan padamu," kata Putri yang mulai berdiri membawa Paman Yoga yang terluka tak sadarkan diri.
"Beruang keparat! Majulah! Akulah lawanmu!" Teriak Paman Yogi, dia berdiri dengan memasang kuda-kuda menyerang.
Putri membawa Paman Yoga untuk segera berlari melarikan diri.
Tetapi Monster Beruang tiba-tiba bicara.
"Kekeke.... Kau pikir bisa melarikan diri dariku. Serahkan Putri itu kepadaku, maka aku akan mengampuni nyawamu."
Monster Beruang itu lalu tangannya mengeluarkan sesuatu aneh. Bentuknya cairan kental, bagai darah tapi berwarna hitam pekat. Dari sela-sela tangannya, darah hitam itu menyebar dan masuk ke dalam mayat-mayat yang bergelimpangan.
Mata Paman Yogi terkejut karena Beruang itu ternyata bisa bicara. Padahal tingkat kekuatannya belum tahap level 5. Selain itu, dia melakukan sesuatu yang aneh pula.
"K-kau, ternyata kau bisa bicara?" Tanya Paman Yogi. Berpikir sesaat tentang rentetan kejadian. Dia hanya mengincar Putri saja sebenarnya dari awal. "Apa tujuanmu menyerang kami. Kenapa kau menyerang Putri? Apakah kau tidak takut dengan kematianmu sendiri?"
Semua mayat yang tergeletak sekejap mulai bergerak-gerik bangkit dari kematiannya. Tubuhnya yang awalnya penuh luka kini beregenerasi menutup dengan sendirinya. Matanya hitam pekat. Kini semua berdiri dan mulai berlari pergi untuk mencegah Putri melarikan diri.
Putri tercengang. Pikirannya penuh kebingungan dan banyak hal yang tak masuk akal masuk ke dalam kepalanya. Pertama, Monster Beruang aneh yang tidak bisa mati. Kedua, Monster itu bisa bicara, padahal seharusnya tidak bisa. Ketiga, kini orang-orangnya yang mati bisa bangkit hidup bergerak kembali.
__ADS_1
Monster Beruang membuat pedang besar yang terbuat dari darah hitamnya yang memadat di tangannya.
"Yang seharusnya bertanya itu adalah aku. Beraninya kamu menghalangiku. Apakah tidak takut dengan kematianmu sendiri," jawab Monster Beruang.
Paman Yogi sedikit gemetar di tangannya yang memegang pedang. Saat ini dirinya di kepung oleh berbagai prajurit yang mati. Jalan melarikan diri untuk Putri pun terhalang.
Dalam sekejap, Monster Beruang melompat bergerak cepat, mengangkat pedangnya dengan tinggi di depan Paman Yogi. Pedangnya dialiri tenaga yang menggebu.
"Matilah kau prajurit pengawal!" Teriak Monster Beruang.
Sedikit terkejut, Paman Yogi bersiap menangkis karena merasa tidak bisa menghindar.
"Sial..." katanya mengeluh. Paman Yogi mengeluarkan kekuatan jiwa Anantanya, dia menembakkan peluru karet dari mulutnya.
Putri matanya melirik melihat ke arah Paman Yogi yang akan terkena tebasan.
Serangan karetnya tak berpengaruh ke tubuh Monster Beruang. Dan tebasan pedangnya kini jatuh dengan vertikal dari atas ke bawah. Ledakan terjadi.
Boom!
Serangan tebasannya Monster Beruang di hentikan oleh seseorang, yaitu Jaya Kedua, dengan pedang hitamnya. Paman Yogi jatuh duduk ke tanah menatap takjub dengan seseorang yang tepat berada di depannya.
"Kau, Monster aneh untuk jenis kekuatan Monster. Sepertinya kau bukan Monster." Kata Jaya Kedua menyeringai menatap Monster Beruang. "Tebakanku, benar, kan?"
"Hah! Bagaimana kau bisa muncul tiba-tiba?" Tanya Monster Beruang.
Jaya mengayunkan Pedang Hitamnya dengan kuat, hingga membuat tangan Monster Beruang yang memegang pedang terpelanting. Dengan tendangan kaki yang dialiri energi Aura, Jaya Kedua melempar Monster Beruang jauh ke belakang. Dan terjatuh mendarat ke tanah.
Dalam sesaat, Paman Yogi dan Putri terkejut secara bersamaan. Tiba-tiba ada orang yang datang untuk menolongnya.
"Kau." Kata Jaya Kedua menunjuk ke arah Paman Yogi yang terdiam membatu dengan Pedang Hitam.
"Ya?" Jawab Paman Yogi, penasaran dengan nama pemuda yang menyelamatkannya.
"Pergilah. Dia bukanlah lawanmu. Aku disini bukan untuk menyelamatkanmu atau membantumu. Aku punya urusan pribadi dengannya." Kata Jaya Kedua dengan wajah masa bodoh. Dia lalu mengalihkan pandangan ke arah Monster Beruang.
__ADS_1
"Apakah kau tahu Monster apa itu?"
"Pakailah otakmu. Kau pikir Monster bisa melakukan itu dengan tingkat levelnya yang sekarang. Dia mungkin bisa jadi adalah musuhmu yang telah kau singgung. Jadi pikirkanlah, siapakah musuhmu yang saat ini sedang mengincarmu. Dan pergilah dari sini, jangan banyak tanya!"
Paman Yogi berdiri. Dia tersadar akan sesuatu dan merenung. Penjelasannya Jaya Kedua seolah masuk akal, jika menganggap Monster Beruang itu bukanlah Monster. Karena tidak ada Monster aneh dengan tingkat levelnya yang masih rendah.
"Kau, kau, hahaha. Menarik. Bagaimana kau bisa menebak diriku?" Kata Monster Beruang yang kini tangan kirinya memegang wajahnya. Gerakannya kini berubah seolah itu tingkah manusia.
"Baru-baru ini aku menemui ada kasus tentang seseorang yang kehilangan kesadaran pikirannya. Dan saat aku mengamati pertarungan sedari tadi, aku merasa kasus itu ada sangkut pautnya denganmu." Jelas kata Jaya Kedua santai.
"Apakah kau adalah orang yang menyadarkan seseorang yang kehilangan kesadaran itu?"
Jaya Kedua tercengang.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Jaya Kedua penasaran.
"Hahaha… Menarik! Jadi, kamulah orangnya yang membebaskan Bonekaku tanpa sepengetahuanku."
"Ho… Jadi apakah kau adalah orang yang memiliki energi aneh itu?"
"Kali ini akan ku pastikan kau untuk membayarnya karena telah merusak salah satu Bonekaku!" Sahut Monster Beruang menyeringai. Tangan kirinya memberikan aba-aba ke depan. "Serang!"
Prajurit yang mati mulai bergerak untuk menyerang Putri. Paman Yogi yang sedari diam mendengar perbincangan. Kini bergegas ke arah Putri yang sedang terancam di keroyok bersamaan.
"Cih, padahal sudah kubilang pergi." Kata Jaya kedua mengecap lidahnya. "Jurus Nafas Kegelapan: perpindahan tempat,"
Putri, Paman Yoga, dan Paman Yogi, dalam sekejap berpindah ke tempat lain yang tak jauh dengan jarak tidak lebih dari 1 KM.
Pada Prajurit yang mati berhenti bingung karena sasarannya menghilang. Mereka semua celingukan melihat sekitar. Monster Beruang pun juga ikut terkejut. Keberadaan ketiga orang tadi tiba-tiba menghilang dari pandangan yang tidak ada di sekitarnya.
"Baiklah sekarang tinggal kita berdua. Tunjukkanlah dirimu yang sebenarnya?!" Kata Jaya Kedua tersenyum ringan.
Lalu dia mengeluarkan energi kegelapan untuk menyelimuti dirinya. Bara kepulan asap hitam di tangannya meluap keluar dan sebagian di tubuhnya ditaburi oleh gas asap hitam. Energi kegelapan telah keluar memancarkan kekuatannya.
Mata Monster Beruang kembali melotot lebar dengan mulut menganga. Dia tercengang dengan Jaya Kedua.
__ADS_1
"Ha… ternyata kau orang yang sama denganku rupanya. Orang yang kembali dari masa depan. Sang pengguna kekuatan kegelapan..." Kata Monster Beruang.