
Di tengah perjalanan menuju Putri, Jaya Kedua dan Jacky, menemui sekelompok Hunter yang sedang menunggang Monster Kuda. Mereka mengawal sebuah gerobak kereta yang di tarik dengan seekor Monster Kuda.
Kehadiran Jaya Kedua dan Jacky menghentikan perjalanan mereka.
"Permisi boleh aku minta tolong," kata Jaya Kedua dengan nadanya sopan. "Seseorang dari kami sedang terluka. Dia berhasil kabur dari serangan Monster. Maukah kau membantunya untuk menyembuhkan,"
Seorang pemimpin kelompok yang menunggang kuda, menghampiri Jaya Kedua.
"Siapa kalian? Dan dari Kota mana kalian berasal?" Tanya pemimpin itu, yang wajah dan posturnya begitu tegas.
"Kami dari Kota Bulengreng, namaku Jaya," Jawab Jaya Kedua. Lalu menunjuk ke arah Jacky. " Dan ini, Jacky."
"Kalian terlalu muda. Kenapa kalian bisa berada di sini? Seharusnya kalian tidak boleh berada di daerah sini." Lanjut tanya dia.
"Kami ada keperluan untuk pergi ke Kota Benteng Asosiasi Hunter." Jawab Jaya Kedua santai.
Pemimpin itu menyipitkan matanya, sedikit penasaran. "Keperluannya?"
Seseorang menjulurkan kepalanya di balik jendela kereta roda. Wajahnya cantik dan bening dengan rambut yang rapi.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi, Patrik?" Katanya mencoba mengetahui penyebab perhentian perjalanannya.
Dengan kudanya, peminpin kelompok, yang dipanggil Patrik, dia langsung menggeser tungangannya untuk bergerak berada ke samping gerobak kereta.
"Ini nona, ada seseorang pemuda yang meminta tolong. Salah satu temannya katanya sedang terluka akibat serangan Monster. Dia dari kota Bulengreng," jawab Patrik lirih dan sopan. "Apakah kita harus menolongnya, nona Wulan?"
wanita yang di panggil Wulan memasang wajah penasaran, lalu menjawab.
"Oh, baiklah. Tolong saja dia."
__ADS_1
"Tapi, nona. Hamba khawatir kalau ini adalah jebakan, tipu muslihat musuh untuk menjebak kita. Di tempat Hutan Monster, segala pembunuhan dan kematian adalah sesuatu hal yang biasa terjadi."
"Jangan terlalu banyak berpikir. Siapa tahu dia memanglah sedang kesusahan. Coba kau suruh dia untuk masuk ke dalam keretaku. Aku bosan sendirian terus di kereta ini selama perjalanan. Aku penasaran Monster yang sedang di hadapinya,"
"Ha .... nona, itu,"
Wulan cepat-cepat memasukkan kembali kepalanya yang menjuntai keluar dari balik jendela kereta roda. Patrik pasrah menuruti perintahnya.
"Jangan buat aku mengulangi perkataanku, lagi." Kata Wulan yang terdengar dari dalam kereta.
"Baiklah, nona."
Patrik mendatangi Jaya Kedua untuk menunjukkan kemana arah temannya berada. Setelah itu jaya Kedua dan Jacky di tuntun untuk masuk ke dalam gerobak kereta. Patrik mengajaknya bicara.
"Ku peringatkan kau," katanya dengan melempar sorot mata tajam. "Jika kau berani macam-macam dengan Nona kami. Akan ku pastikan untuk membunuhmu pertama kali. Mengerti!"
"Aku mengerti. Terima kasih atas bantuannya." Jaya kedua tersenyum ringan. Membungkuk dengan salam yang tulus.
Di dalam kereta, Jaya Kedua dan Jacky duduk bersebelahan. Ruang di dalam kereta lumayan lebar, terdapat dua kursi panjang dan di tengahnya ada meja melingkar. Mereka berdua pun memperkenalkan dirinya masing-masing kepada Wulan. Mereka menjelaskan bahwa dirinya berasal dari kota Bulengreng dan seorang Siswa dari Sekolah Hunter, Bulengreng.
"Namaku, Wulan. Ternyata kalian juga dari Sekolah Hunter yang di buat oleh ayahku. Ini benar-benar kebetulan." Kata Wulan dengan senyum cerah.
Jaya Kedua melongo terpana oleh pesonanya. Karena kecantikan Wulan begitu asri dan betah di pandang, di lihat dari dekat. Jacky pun merasa sama. Bau ruangannya juga harum menyebrak hidung dan menambah suasana nyaman. Mereka terdiam tanpa kata-kata selain menikmati pemandangan indah dari pesona Wulan.
Wulan berdeham, merasa di pandang terlalu lama, oleh mereka. Membuang pandangannya ke arah lantai. Pipinya memerah agak malu.
Jaya kedua tersadar dan menyenggol Jacky yang juga membatu. Dia lalu kelabakan menggaruk kepalanya yang merasa malu.
"Ah...Maaf, jika kurang sopan karena menatap nona terlalu lama." Jaya Kedua mengelus belakang lehernya. Dan tersipu malu yang telah tanpa sadar menatap Wulan begitu lama.
__ADS_1
Sepertinya dia telah melakukan kesalahan dalam berinteraksi. Ruangan pun diam tanpa percakapan. Terputus gara-gara tingkah alami pria yang sedang terpesona.
"Anu, e ... Apa maksudnya dari Sekolah yang dibuat oleh ayahmu?" Jaya Kedua coba memulai memancing topik pembicaraan.
"Em, Sekolah Hunter di Bulengreng yang membuat adalah ayahku, Aji Saka." Kata Wulan santai. Menatap lantai, ragu-ragu menjawabnya. Kedua jari ibu jempolnya bermain naik turun. "Tapi aku tidak boleh masuk ke sana,"
Sontak Jaya Kedua dan Jacky terkaget, keduanya berpose dengan gaya aneh. Jaya Kedua terkejut, bahwa ternyata Jenderal Aji saka mempunyai seorang anak perempuan. Dalam kehidupan sebelumnya, sepengetahuannya, dia memang punya anak, tapi jarang untuk di perlihatkan. Karena itu bisa menjadi ancaman kelemahan Jenderal Aji Saka, begitulah gosip yang dulu di ketahuinya.
Bahkan ada pula yang mengatakan, bahwa anaknya telah mati saat waktu umurnya muda. Kematiannya tidak jelas apa penyebabnya, setelah itu membuat Jenderal Aji Saka menjadi garang dan hebat. Dan dia di juluki, sebagai salah satu Monster Hunter.
"A—apakah kau adalah anaknya, Jenderal Aji Saka?" Tanya Jaya Kedua matanya tercengang. Memandang ekspresi Wulan.
"Iya,"
"Eeeeeeee" Kata mereka berdua tambah terkaget bersamaan.
"Apa? Kenapa kaget?"
"Tidak, tidak, ini, bbenar-benar sungguh kehormatan bisa, bisa duduk di depan Nona wulan," kata Jacky yang baru menyadari posisi siapa sosok di depannya ini. Dia langsung membungkukkan 60 derajat badannya. "Ini hanyalah kesalahan kami, yang tidak mengenali anda dari awal. Maafkan atas kesalahan kami dan kelancangan kami yang tidak sopan tadi,"
Wulan merasa kikuk dan kaku. Diperlakukan seolah orang yang di takuti. Padahal, itu hanyalah karena kepamoran ayahnya yang hebat.
"Ah, tidak perlu begitu. Lagi pula memang jarang ada yang bisa menemuiku, jadi wajar kalau kalian tidak mengenalku." Jawab Wulan anggun dengan tenang.
"Dan aku malah senang jika ada seseorang yang bisa ku ajak bicara dalam perjalananku ini. Dari pada duduk sendirian, itu sangat membosankan," tambahnya Wulan. "Ku dengar kalian sedang di serang Monster. Bisakah kau ceritakan itu kepadaku?"
Jaya Kedua menceritakan Monster Beruang aneh yang menyerang kelompok Putri. Banyak kematian yang terjadi akibat serangan itu. Wulan yang mendengarnya sedikit ngeri mengetahuinya. Jacky ikut menyimak mendengarkan, mengangguk paham.
"Lalu, kenapa Nona Wulan ingin pergi ke kota Benteng Asosiasi Hunter?" Tanya Jaya Kedua.
__ADS_1
"Kau belum dengar kabar di kota Bulengreng? Baiklah aku akan memberitahuimu. Asosiasi Hunter di cabang Timur membuat berita yang ramai dan heboh untuk diperbincangkan. Sebuah Pil obat dan Batu Kristal akan di lelang saat ini. Jadi banyak orang yang ingin melihat dari kabar tersebut." Jelas Wulan. "Kurasa di pelelangan nanti akan ada banyak yang bertarung untuk memperebutkannya,"