
Ruangan gelap begitu hening. Setelah Sengkuni mendadak ingin menunjukkan kekuatan dirinya.
"Badai perang akan segera datang di tanah ini. Bersiaplah." Kata Sengkuni mendekap tangannya. Mulutnya menyeringai dingin. "Banyak yang nantinya akan mati dan sedikit yang bisa bertahan hidup. Tak ada beda antara besok atau sekarang, panggung kematian pasti akan mengejar siapapun. Aku harap kalian bisa jadi bagian salah satu yang selamat."
"Em..." Jawab Taro mengerutkan dahinya. "Kami mengerti."
"Masa yang damai atau masa yang penuh kekacauan, perang selalu ada. Aku akan kembali lagi menemui kalian dalam waktu tiga bulan. Jika masih belum bisa menguasainya, mungkin aku sendiri yang akan turun tangan." Kata Sengkuni. Dia lalu menghilang dengan menjadi kabut asap hitam yang memudar.
Tora dan Taro saling tatap dengan diam yang menerung.
"Kau sebaiknya mengurus kota Bulengreng dengan cepat..." Kata Taro menghela nafas malas. "Waktu kita sepertinya tidak banyak,"
****
Esok harinya.
Tiga misi yang diberikan oleh Paman Sam, termasuk bukanlah pekerjaan mudah. Kemungkinan berhasilnya begitu tipis, nyaris mustahil. Tingkat kesulitannya di luar kemampuannya Jaya Ketiga.
Namun Jaya Ketiga masih ingat, ketika mengenali watak keluarga Melati yang sebenarnya. Mereka adalah garis keturunan dengan kekuatan Ananta Singa, yang selalu haus kekuasaan, kekuatan, dan kekayaan. Mereka biasa membanggakan harga dirinya yang tinggi serta gaya kehidupan yang mewah. Tidak jauh beda dengan keluarga bangsawan ningrat lainnya.
Dan hanya itu saja pengetahuannya Jaya Ketiga untuk menjalankan misi. Sekedar sedikit memori dari kehidupan masa lalunya. Selain itu, tidak ada petunjuk lain lagi dalam melakukan misinya ini, bantuan untuk menyelesaikan misi atau arahan tentang membunuh target. Paman Sam cuma sedikit memberikan informasi tingkat kekuatan dan peringatan bahaya saja.
Jaya Ketiga secara normal tahu bahwa ini bisa jadi misi bunuh diri. Dan untuk memastikan keberhasilannya, dia setidaknya perlu mencari dan menggali informasi lagi terlebih dahulu, tentang kapan dan di mana pengawalnya Tora biasa berada.
"Mencari kesempatan dari peluang sangatlah menyusahkan daripada memikirkan keberhasilan." Kata Jaya Ketiga merasa pahit harus memulai dari mana menjalankan misinya. "Baiklah, mari aku coba dari melihat situasi dan kondisi di daerah wilayah keluarga Melati,"
__ADS_1
Di lorong gelap, di sudut kota Bulengreng. Jauh dari keramaian kota dan orang-orang. Jaya Ketiga menciptakan tiga Klon bayangan dari jurus Seribu Kegelapan dan mengirimnya untuk pergi ke daerah kekuasaan keluarga Melati. Klon bayangannya berubah menjadi hewan lalat dan terbang melesat menyebar.
Jaya Ketiga lalu menempelkan tangannya ke wajah dan merubah dirinya menjadi sosok yang lain. Dia menjadi bagai seorang pemuda biasa dengan berumur 20 tahunan. Lalu dia pergi mencari tempat ke kedai penginapan dekat wilayah daerah keluarga Melati.
Lalat Klon bayangannya terbang melintasi berbagai bangunan di kota Bulengreng. Sesampai di daerah keluarga Melati, mereka menyusuri tempat, ruang, dan berbagai celah sempit wilayah di kediamannya. Selain itu, di sela-selanya, mereka juga menyempatkan menempel mantra kertas peledak di tempat-tempat yang tersembunyi. Berubah menjadi sosok Jaya Ketiga untuk memasang sebentar lalu kembali menjadi lalat yang kecil.
Tempat kekuasaan keluarga Melati mempunyai wilayah yang cukup luas dan bangunan besar di kota Bulengreng. Mereka termasuk bangsawan ningrat yang sangat kuat pengaruhnya. Sebab mereka juga mempunyai pasukan sendiri, setidaknya jumlahnya lima ribuan lebih. Kekuatan jumlah tempur tersebut, hampir sebanding dengan jumlah kekuatan Prajurit tempur Jenderal Aji Saka.
Salah satu lalat Klon bayangan tersebut pergi menuju ke arah aula utama di dalam Mansion. Memeriksa setiap bagian sudut ruang di dalam Mansion. Melewati berbagai orang dan Prajurit yang bertugas di Mansion.
"Tidak ada Tora di Mansion ini. Kemana dia?" kata Klon lalat bayangan. Dia terus terbang dengan cepat berseliweran mencari ke ruangan lain. Ada begitu banyak ruang-ruang aneh di dalam Mansion.
Hingga akhirnya dia menemukan sebuah tempat ruang taman yang penuh dengan bunga, pohon, yang tertata begitu rapi. Di tengahnya ada sebuah kubah bangunan kecil, dan terdapat Tora sedang duduk berbicara dengan seseorang di sana. Mereka hanya berdua saja.
"Jadi disini rupanya," kata Lalat Klon bayangan. Dia memasang wajah tersenyum. "Mungkin inilah kesempatanku,"
Lalat Klon bayangan tersebut lalu membuat klon bayangan lalat lain dengan berjumlah empat. Yang salah satunya pergi ke arah Tora dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dari jarak jauh, menempel di bunga dekat bangunan kubah tersebut. Dan sebagian pergi melayang santai, mengawasi dari belakang para pengawal.
"Baiklah, mari kita bicara, bisnis apa yang ingin kau tawarkan?" Kata seseorang itu. Dia memakai jubah hitam, wajahnya dibalut banyak perban, cuma sekitar mata dan mulutnya yang kelihatan. Rambutnya berantakan panjang.
"Apa kau bisa ku percaya. Jika kau diperintah untuk membunuh seseorang, apakah kau akan mempertanyakan alasannya?" Kata Tora.
"Tentu, aku akan bertanya. Berapa banyak jumlah uang yang bisa kau tawarkan?" Jawab seseorang itu. "Setiap orang memiliki harga kepalanya masing-masing. Tak peduli apapun alasanmu, selama bayarannya sesuai, aku akan mengikuti semua perintahmu. Selama ada uang yang bisa bicara, segala masalah akan selesai. Itulah semboyan dunia Brandal kami."
"Begitu... aku tidak meragukan pekerjaanmu. Sebelumnya aku juga bertemu dengan salah seorang yang sepertimu. Tapi dia menolak tawaranku, hanya karena aku tidak mengatakan alasan di balik tugas misi yang diberikan. Oleh karena itu, aku ingin jaminan darimu terlebih dahulu. Jika kau gagal dan membuka mulut dari misi ini, apa konsekuensi darimu?" Tanya Tora sedikit meragukan.
__ADS_1
"Setiap anggota dunia Brandal, memang kadang mempunyai prinsip sendiri. Tapi kita mempunyai kode etik sama ketika menjalankan misi... di dunia Brandal, kami akan membawa misi apapun sampai mati, sampai tuntas, sebelum berhasil. Jika gagal, maka aku akan membunuh diriku sendiri. Tapi jika aku berhasil, aku akan bebas membuka mulutku kepada penawar tertinggi... "
Sesaat Tora termenung. Dia tak menyangka hal semacam itu. Jadi pada intinya, selama ada uang, maka semua jalan masalah akan keluar. Dia menghela nafas, uang bukanlah kendala baginya.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan membayarmu dua kali lipat jika kau berhasil menyelesaikannya. Targetnya adalah seorang anak perempuan, dia anak Jenderal Aji Saka. Aku ingin kau membunuhnya sebelum dia kembali ke kota Bulengreng. Namanya Wulan. Saat ini dia sedang pergi ke benteng Asosiasi Hunter." Terang Tora dengan wajah dingin.
"Ho... Begitu." Seseorang itu matanya terkejut. Dia mengerutkan dahi dengan dua jari mengelusnya. Mengangguk pelan, menegakkan badan, dan menyentuh menggosok tengkuk belakang kepalanya.
"Bagaimana? Apa kau bisa melakukannya, Scoopy?" Tanya Tora wajahnya tampak serius tegang.
"Tak masalah... tapi," kata seseorang itu yang dipanggil Scoopy. Dia terkekeh. "Aku mau 10 kali lipat dari bayarannya. Tak ada bedanya ini dengan gagal atau berhasil. Jenderal Aji Saka, pasti bisa melacak pembunuh anaknya. Dan aku mau setengah dari bayarannya terlebih dahulu."
Empat lalat Klon bayangan yang bersembunyi di belakang para pengawal lalu berubah menjadi sosok Jaya Ketiga dengan wajah lain. Mereka semua langsung mengaktifkan jurus Pemikat Kegelapan. Menghentikan gerakan tujuh pengawal tersebut.
Dengan cepat, mereka juga mengeluarkan pedang hitam, menggunakan jurus Nafas Kegelapan, secepat kilat untuk membunuh mereka. Tanpa sempat disadari, Klon bayangan Jaya Ketiga langsung membunuh empat dari tujuh pengawal.
Tiga yang lainnya sekejap menyadari, dan langsung berteriak.
"Serangan! ser-" teriak salah satunya.
Namun setelah mereka berteriak sepatah kata, pedang hitam Klon bayangan Jaya Ketiga menebas mereka. Salah satu Klon tersebut juga langsung mengaktifkan jurus Penyerapan Kegelapan. Mengirim semua mayat tujuh pengawal Tora, ke dalam alam jiwa kegelapan.
Tora dan Scoopy melengos ke sumber suara. Salah satu Klon bayangan Jaya Ketiga, melemparkan bom asap. Mengaburkan pandangan.
"Laknat! Siapa yang berani menyerang di dalam Mansionku!!" Raung Tora, dia terbelalak marah setengah mati.
__ADS_1