Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Jaya Kedua (4)


__ADS_3

Jaya Kedua sedikit mengerti tentang Tarkan setelah Bananji menceritakannya. Dan sepertinya Tarkan mempunyai masalah dan alasannya sendiri untuk menyerang kerajaan Manikmaya. Sedangkan tujuannya, yang ingin menghancurkan dunia Mayantara, Jaya Kedua merasa Tarkan tidak berbohong saat dia dulu menjawabnya ketika ditanya tentang tujuannya. 


"Jadi, itulah sebabnya dia ingin membunuh para bangsa Arya?" Tanya Jaya Kedua kepada Bananji. Telunjuknya menyentuh dahi yang mengkerut. "Tapi kenapa bangsa Arya?"


"Entahlah... Sejak dulu bangsa Arya memanglah selalu mengabdi kepada kerajaan untuk bersumpah setia menjadi pedang dan perisainya kerajaan." jawab Bananji santai. Sebab, dia tidak mengetahui jelas alasan sebab Tarkan ingin menyerangnya. Sedikit tebakan dari kemungkinannya yang ingin diutarakan. "Mungkin... Dia ingin melampiaskan kembali amarahnya ke dalam kerajaan Manikmaya ini atas kehilangan tuan mereka pada saat waktu itu. Dan bangsa Arya jelas selalu terlibat dengan perintah-perintah kerajaan..." 


Jika Tarkan ingin menyerang kerajaan Manikmaya kembali, itu akan menjadi bencana besar bagi manusia. Jaya Kedua tahu betul kengerian kekuatannya Tarkan, sebab dia tidak bisa membayangkan perkembangan kekuatan kegelapan yang telah tumbuh selama bertahun-tahun. Mungkin itu akan menjadi mimpi buruk baginya, kalau dia ikut bertarung melawannya. 


Jaya Kedua saat ini memanglah hidup kembali ke masa lalu. Tapi belum genap selama satu bulan, entah kenapa sepertinya dia telah menemukan banyak masalah yang selalu datang silih bergantian. Dan masalah yang ditemukannya, ini benar berbeda dengan masalah yang dihadapi di kehidupannya dulu. 


"Balas dendam? Itu benar cerita lama yang tidak pernah berujung baik," Kata Jaya Kedua menatap Bananji. Dia terdiam sejenak memikirkan jawaban dalam pikirannya. Lalu dia berkata. "Aku tidak ingin tersangkut dengan urusan yang seperti itu..." 


Jaya Kedua akhirnya menyimpulkan kembali semua masalah yang berhubungan dengan Tarkan. Satu hal yang pasti, itu menyangkut motif masalah balas dendam, yang sifatnya pribadi. Dan dia tidak ingin terlibat dengan kekacauan masalah yang seperti itu. Seakan semua masalah hanya bisa diselesaikan dengan hukum yang setimpal, mata dibalas dengan mata. 


Dan lagi pula Jaya Kedua juga tidak mempunyai masalah dengan Tarkan atau pun dengan bangsawan yang lain. Kalau dia terlibat masuk begitu saja, sama halnya mencampuri urusan masalah orang lain. Dan belum lagi, dia perlu bertambah kuat pula untuk menghadapi gelombang monster yang akan datang menunggunya. Oleh karena itu, masalah gelombang monster lebih penting daripada masalah Tarkan. 


"Kau memanglah tidak terlibat. Tapi disisi lain, kau telah memutuskan keberpihakan." kata Bananji. 

__ADS_1


Jaya Kedua berdiri dari duduknya dan menjawab, "aku berpihak? Ya. Aku berpihak kepada diriku sendiri..."


"Apa kau puas dengan menyenangkan ambisi buta dirimu sendiri?" Kata Bananji. Mata ketiga dan burung gagaknya masih tetap mengawasi Jaya Kedua. "Menjadi kuat dengan membunuh monster dan menyerap mayat?"


Jaya Kedua merentangkan kedua tangannya lebar. Matanya merendahkan Bananji. "Yah, begitulah. Aku tidak ingin bergabung dengan Tarkan atau bertarung melawannya. Tarkan adalah monster. Aku terlalu lemah untuk menghadapinya. Aku perlu memikirkan diriku sendiri sebelum memikirkan masalah orang lain. Ini realita yang perlu aku terima. 


"Awalnya aku ingin menghentikan Tarkan dan organisasi kegelapannya, namun setelah mendengar dari ceritamu... Aku berubah pikiran. Itu diluar kapasitas kemampuanku untuk bisa menangani. Balas dendam tidak bisa didamaikan dengan perasaan atau logika, itu hanyalah masalah waktu sampai semua bisa saling melupakannya..."


"Bolehkah aku memberimu sedikit nasehat?" kata Bananji matanya menyipit. "Apakah kau masih ingin mencari kunci dari pintu gerbang Prasasti?"


Jaya Kedua ekspresinya berubah masam. "Bisakah kau tidak membaca masa lalu seseorang?" Tatapannya menyala melihat Bananji. Kata-kata Bananji selalu tepat bisa menebak dirinya. Tapi, dia tidak dapat membaca pikiran seseorang seperti yang pernah dilakukan oleh Tarkan. "Kurasa urusanku di tempat ini telah selesai. Aku akan pergi..." 


Jaya Kedua berjalan santai sambil mengangkat salah satu tangannya dengan melambai. 


"Aku akan memberikan salah satu kunci Suluk! Kunci yang bisa membuka pintu gerbang Prasasti yang kau temukan." ujar Bananji. "Apa kau tidak ingin mengetahui apa isi di dalamnya?"


Bananji menawarkan sesuatu hingga membuat langkah kaki Jaya Kedua berhenti. Telinganya tidak salah mendengar apa yang diketahui barusan.  Bahwa saat ini Bananji sepertinya mempunyai sesuatu yang ingin dicarinya. 

__ADS_1


Melihat Jaya Kedua terhenti, Bananji bibir mulutnya terangkat kecil. Dia melanjutkan berkata. "Yah... Kau pasti ingin mencarinya. Tapi, sayang. Informasi tentang keberadaan kunci Suluk ini sangatlah rahasia. Meski kau mencari kemana pun, kau tidak akan pernah bisa menemukannya.


"Berharap mencari informasi dari dunia Brandal? Atau dari Tarkan? Percuma. Mereka tentu tidak akan pernah mengerti keberadaannya. Hanya rumor dan kabar yang diceritakan dari mulut ke mulut dan menjadi desas desus belaka. Angin kosonglah yang mereka ketahui."


Jaya Kedua mengeratkan giginya kesal. Dia menoleh sedikit ke belakang melirik Bananji yang masih duduk. Lekuk bibirnya tersenyum melebar. "Kau benar. Bukankah itu berarti, aku hanya perlu menunggu dirimu mati saja dan langsung merebut kuncinya dan menyerap mayatmu?" 


Bananji tertawa mendengar jawaban Jaya Kedua. "Sungguh naif sekali. Apa kau ingin terkena kutukan dari tubuhku  juga?" kata Bananji. "Yah, kalau kau memang ingin mati menjadi monster tidak masalah. Orang bodoh dan gila terkadang memanglah sangat beda tipis..."


"Kenapa aku harus takut dengan kutukan kera?" Jaya Kedua memutar badannya dan menatap Bananji. "Aku pikir, kutukan itu bisa dipindahkan ke tempat lain dengan kekuatan Anantaku..."


"Hahaha... Sepertinya kau tidak mengerti tentang kekuatan kutukan. Meski kau pindahkan ke tempat lain, dia akan tetap mengejarmu seperti dewa kematian..." Jawab Bananji. "Tidak ada cara untuk bisa lolos bagi yang terkena kutukan monster. Kekuatan kutukan itu absolut sama seperti kekuatan Ananta bagi manusia..."


Jaya Kedua tidak bisa menyangkal apa-apa dari perkataan Bananji. Dia terdiam dan mengangakan mulutnya. Kutukan memanglah sebuah efek jenis kekuatan unik dari monster. Dan monster yang bisa menggunakan kekuatan itu juga sangatlah langka. Tidak begitu banyak monster yang bisa melakukannya. 


Tapi, benarkah kutukan dari monster tidak bisa dipindahkan dengan kekuatan Ananta kegelapannya? Jaya Kedua sedikit ragu. Dan, Bananji sepertinya lebih paham tentang mengenai kekuatan kutukan monster. Dan penjelasannya itu sangatlah masuk akal. Bahwa monster juga mempunyai kekuatan lain, yang disebut kutukan. 


Sama seperti makhluk hidup yang lainnya. Setiap makhluk hidup pasti memiliki kelebihannya masing-masing. Manusia bisa mempunyai kekuatan Aura dan Ananta, dan monster pun juga sama. Dia juga mempunyai kekuatan Aura dan Kutukan. Jaya Kedua mengerti tentang dua sisi kekuatan yang berseberangan tersebut di kehidupan sebelumnya.

__ADS_1


"Baiklah... Apa maumu? Aku akan mempertimbangkannya..." Kata Jaya Kedua lemas tidak mempunyai pilihan lain.


__ADS_2