Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Manuskrip


__ADS_3

Jaya Pertama melangkahkan kakinya menuju ruangan Ketua Suwarto. Begitu sampai, dia langsung duduk di kursi ruangan. Lastri menyambutnya dengan hormat dan menyediakan untuk menuangkan teh di gelas. 


Setelah beberapa waktu yang lalu, Ketua Suwarto telah memberitahukan semua tentang bisnis barunya kepada Lastri. Dan Jaya Pertama adalah mitra bisnisnya tersebut. Jadi, Lastri telah mengetahui semuanya. 


"Aku perlu bantuan Ketua Suwarto untuk tentang sesuatu yang tidak aku pahami. Apakah Ketua bisa membantuku menerjemahkan tulisan Manuskrip?" Tanya Jaya Pertama yang tanpa basa-basi langsung menuju ke pokok inti masalahnya.


"Sedikit. Tapi aku punya beberapa orang yang bisa mengerti tentang bagian yang meneliti seperti hal-hal tersebut."


Jaya Pertama mengeluarkan gulungan kertas dan menyerahkannya kepada Ketua Suwarto. Dan dia membuka gulungan tersebut yang diikat dengan tali. Lalu, membentangkannya lebar melihat isi dari gulungan kertas tersebut. Lastri dan Sucipto ikut menatap, mereka duduk di sebelahnya Ketua Suwarto. 


"Ini, mungkinkah ini adalah Manuskrip Kuno?" Ketua Suwarto menatap tertegun, kulit di antara alisnya yang mengkerut. Dia menolehkan matanya ke dua orang yang di sampingnya untuk suatu jawaban.


"Sepertinya begitu ketua. Ini mungkin adalah Manuskrip gaya tulisan kuno. Tulisan yang ada sejak masa zaman 800 tahun silam..." Jawab Lastri yang juga merasa bingung. 


Sucipto menggeleng dan mengangkat kedua bahunya. Itu sesuatu yang di luar pemahamannya. 


Ketua Suwarto menghela nafas. Manuskrip juga pengetahuan yang berada di luar pemahamannya. 


"Jadi, anda ingin mengetahui isi dari pesan ini. Baiklah serahkan padaku. Begitu selesai meneliti dan mendapatkan informasinya, nanti saya akan mengabari anda." Kata Ketua Suwarto tersenyum ringan melihat Jaya Pertama. 


"Terima kasih. Dan untuk beberapa hal. Mulai dari sekarang tolong serahkan semua urusanku kepada seseorang yang bernama Jaya. Aku mewakilkan diriku kepadanya." Jaya Pertama dengan Jurus kekuatan kegelapannya dia berubah wujud menjadi Jaya asli. 


"Bentuk dia seperti ini. Perlakukanlah seperti kalian memperlakukan aku. Karena untuk suatu alasan tertentu. Aku akan pergi cukup lama." Lanjut kata Jaya Pertama. Lalu di mengubah wujudnya kembali menjadi Patra. 


"Baik. Tidak masalah, nanti saya akan mencari orang itu." Jawab Ketua Suwarto. 

__ADS_1


Untuk suatu alasan, Ketua Suwarto tidak menanyakan tentang alasan kepergiannya. Bukan karena takut bertanya, melainkan mengerti tentang keputusan yang telah dipilihnya.  Sebab, petualang Hunter biasanya selalu melakukan perjalanan ke berbagai dunia Mayantara dengan bebas. Mereka jarang menetap di suatu wilayah, kecuali untuk mencari suatu keuntungan.


"Kalau begitu aku akan segera pergi menuju ke dunia Mayantara." Kata Jaya Pertama dengan berdiri dan membungkuk untuk memberi hormat. "Semoga kita bisa bertemu lagi,"


Ketua Suwarto membalas menunduk memberi hormat. 


"Jika anda butuh bantuan, tolong jangan sungkan-sungkan untuk mengatakannya. Kami pasti akan membantu anda sebaik mungkin." Kata Ketua Suwarto. 


Jaya Pertama lalu berbalik dan pergi diantar oleh Sucipto keluar ruangan hingga sampai di depan gedung Asosiasi Hunter. 


Ketua Suwarto memberikan gulungan kertas itu kepada Lastri. 


"Berikan itu kepada seseorang yang bisa untuk menerjemahkan isi dari Manuskripnya." Kata Ketua Suwarto. 


"Baik." Jawab Lastri. Dia menatap Ketua Suwarto dengan penasaran. "Seperti yang ketua ceritakan. Dia memang seorang pemuda yang menarik. Kenapa ketua tidak merekrutnya untuk menjadi bagian dari Asosiasi Hunter?" 


"Seorang petualang Hunter selalu bekerja dengan prinsipnya masing-masing. Mereka bukanlah tipe seseorang yang bisa diajak bekerja sama dengan mudah. Tapi, melihat dia ingin bekerja sama dengan kita. Ini saja telah memberikan kita banyak keuntungan," tambah Ketua Suwarto. Tangannya lalu memijat dahi kepalanya. "Sebaiknya kau urus Manuskrip itu terlebih dahulu. Aku khawatir tim peneliti kita akan tidak punya cukup kemampuan untuk menerjemahkannya. Sebab itu bukanlah Manuskrip biasa,"


"Apakah ketua menyadari sesuatu dari Manuskrip itu?" 


Sedikit merenung dengan tatapan mata yang dalam, Ketua Suwarto terdiam sejenak. 


"Entahlah. Aku merasakan bahwa Manuskrip itu bukanlah Manuskrip kuno sembarangan." Kata Ketua Suwarto yang kepalanya terangkat ke atas mencoba mengingat sesuatu. Dia menempelkan telapak tangannya ke bibir.


Sebagai Ketua Asosiasi Hunter, tentu dia mengetahui berbagai banyak hal. Tapi mengenai Manuskrip, itu bukanlah sebuah sesuatu yang mudah untuk dipahami. Sebab, Manuskrip itu bukanlah sekadar bahasa tulisan simbolik saja. Dia perlu menemukan seseorang ahli yang bisa menerjemahkan isi Manuskrip tersebut.

__ADS_1


"Em. Setahuku Manuskrip adalah sebuah bahasa simbol tulisan atau gerak yang biasa digunakan untuk membuat segel ataupun mantra. Dengan begitu maka kita bisa menciptakan berbagai jurus ataupun teknik tertentu dalam memanfaatkan energi. Kalau ini adalah Manuskrip kuno, bukankah ini berarti adalah sebuah Manuskrip Prasasti? Kurasa kalau Manuskrip Prasasti, tim ahli kita pun juga bisa." Tanya Lastri yang mencoba mengurai pemahamannya.


"Tidak. Itu bukanlah Manuskrip Prasasti. Prasasti memanglah Manuskrip kuno yang kekuatannya bisa melebihi daya kekuatan segel dan mantra. Namun masih ada satu lagi, Manuskrip kuno yang selain Prasasti. Itu adalah Javanelygh, sebuah Manuskrip yang langka." Jawab Ketua Suwarto menghela dengan nada yang tenang. Menggeleng dengan lembut. Mata merenung dalam.


"Javanelygh?" Lastri terkejut mendengarnya. Dia merasa pemahamannya tentang Manuskrip ada yang kurang.


"Tentu kau tidak pernah mendengarnya. Bahkan para ahli ataupun para pakar sebenarnya juga tidak banyak yang mengetahui. Maka nama Javanelygh hanyalah sebatas sebutan dan masih belum dapat dipublikasikan.  Keberadaannya masih dalam proses penelitian untuk diketahui." 


Sesaat Ketua Suwarto matanya melebar. Dia mendapatkan sesuatu tentang sosok yang bisa menguraikan isi Manuskrip tersebut.


"Berikanlah itu kepada Sintomaru yang berada di Pusat Asosiasi Hunter. Dia pasti suka dengan isi gulungan kertas Manuskrip itu." Tambah Ketua Suwarto mengibaskan tangannya dengan tersenyum kecil.


Mendengar nama Sintomaru, ekspresi Lastri justru menjadi tampak pahit dan jijik. Itu sepeti ada alergi yang menjangkit tubuhnya.


"Kenapa harus dia?" Tanya Lastri protes. 


"Dia memanglah orang gila, aneh, misterius, dan mempunyai banyak kebiasaan buruk. Tapi walau begitu, dulu dia adalah ilmuwan yang hebat. Pernah menjadi salah satu sebagai Ketua Pilar Asosiasi Hunter. Meski sekarang dia telah diasingkan. Bicara tentang Manuskrip, dialah ahlinya. Sebab, sebuatan nama Javanelygh sendiri itu yang menciptakan adalah dia." Jelas Ketua Sucipto.


Lastri tidak bisa membantah perintah Ketua Suwarto. Dia tidak tahu harus bagaimana meresponnya. Dia hanya menelan ludah yang dalam, ketika membayangkan sosok Sintomaru. 


Dia berlekas berbalik kanan dan pergi mencari seseorang yang bisa mengantarkan untuk mengirim gulungan kertas Manuskrip tersebut kepada Sintomaru. 


Sedangkan Jaya Pertama, kini dia telah pergi meninggalkan Kota Asosiasi Hunter. Dia bergegas dengan cepat melaju untuk menuju dunia Mayantara. Tepatnya, medan energi ekstrim, tempat wilayahnya Monster Kera. 


Jaraknya sekitar 200 Km ke arah timur dari Kota Asosiasi Hunter. Jaya Pertama perlu melewati beberapa hutan monster  dan lembah monster. Dengan Jurus Nafas Kegelapannya dia bergerak sangat cepat. Bagai kedipan cahaya kegelapan yang berpindah-pindah dengan sekejap. 

__ADS_1


Tidak perlu memakan waktu setengah hari, Jaya Pertama akhirnya sampai di dekat dunia Mayantara tersebut. Disana kabutnya berbeda dengan medan energi kacau. Ada bara petir yang berwarna merah dan kabut hitam yang diselimuti gumpalan awan yang meliuk. Dan di dekatnya juga ada benteng rumah perkemahan yang berdiri berjejer dan berderet di sepanjangnya dunia Mayantara.


"Baiklah. Jadi itu dunia Mayantara medan ekstrim, monster Kera." Kata Jaya Pertama yang tersenyum masam menggerakkan bibirnya. 


__ADS_2