
Di tengah lamunannya Jaya Kedua, Putri Sekar membuyarkan pikirannya. Dia menunggu balasan jawaban Jaya Kedua yang begitu lamat diam dan termenung.
"Hei, apa kau sudah memikirkannya?"
Jaya Kedua tersadar. Dia mulai menemukan ada sesuatu yang luput dari perhatiannya. Jelas, bisa menemukan Wulan dan Putri Sekar dalam perjalanan ini adalah peristiwa keanehan yang tidak mungkin sekadar kebetulan. Kalau Wulan karena alasan ingin andil dan tertarik ke pelelangan, itu adalah hal yang wajar. Tetapi apa alasan Putri Sekar ke Kota Benteng Asosiasi Hunter bagian Timur?
"Aku punya pertanyaan lain. Kuharap kau menjawabnya dengan jujur. Anggap saja ini permintaan, karena aku tidak ada ide keinginan yang muncul. Pertanyaannya sederhana. Mengapa kau ingin pergi ke kota Benteng Asosiasi Hunter? Apakah kau tertarik untuk ikut andil dalam pelelangan?" Jaya Kedua matanya berputar melirik ke arah Putri Sekar. "Ataukah kau datang karena sesuatu hal yang lain?"
Putri Sekar diam. Dia melihat Jaya Kedua tampak bukan seperti orang biasa yang bukan sembarangan. Jaya Kedua benar-benar berbeda dari orang lain yang biasa dia kenal. Putri Sekar menghela napas lembut.
"Ha, benar. Aku datang ke sana juga karena ada urusan dengan seseorang. Dia adalah guruku, Bananji. Lelang memang bukanlah tujuan utamaku," ujar Putri Sekar.
"Hm..begitukah." Jaya Kedua menyipitkan matanya. Mengangguk. Seakan telah bisa menebak kebenaran atau kebohongan jika di lihat dari raut ekspresi Putri Sekar. Lalu memalingkan wajahnya ke arah api unggun lagi, begitu dalam dan jauh menatap sumbu api biru yang meliuk.
"Mengapa kau bertanya tentang itu? Itu bukanlah sesuatu permintaan yang sepadan dengan jasamu. Balas budi adalah tentang menerima dan memberi yang setimpal. Katakanlah permintaanmu dengan benar?"
"Ha...terserah. Lakukan semaumu. Tetapi aku jelaskan, aku tidak mengharapkan apa-apa darimu." Jawab Jaya Kedua cuek, sikap acuh tak acuh, sedikit melirik ke arahnya. Jaya Kedua ingin mengoreksi kembali benaknya.
"Kau?" Putri Sekar terkejut. Mata indahnya menyorot tajam ke arah Jaya Kedua. Alisnya sedikit berkerut.
Dia berpikir bahwa telah di permainkan oleh Jaya dengan pertanyaan-pertanyaannya yang aneh. Sedangkan keinginannya untuk bisa membalas budi malah tidak di sebutkan sama sekali dari tadi.
__ADS_1
Padahal selama ini dia sudah hormat memperlakukan dengan baik. Namun, Jaya Kedua tidak hanya menghargai kebaikannya, bahkan menolak menghiraukannya. Putri Sekar cemberut berdiri, membusungkan puncak kembarnya yang sombong, memalingkan wajahnya. Dia tidak habis pikir, ada rakyat biasa yang berani memperlakukannya seperti ini.
Putri Sekar kakinya menginjak tanah dengan kesal. Dia kembali duduk ke samping Wulan, sembari menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya bulat. Dia memikirkan keinginan untuk membalas budi Jaya Kedua.
"Apakah ada masalah Putri?" Tanya Wulan bingung.
Mengetahui perubahan ekspresi dari Putri Sekar yang tampak kesal. Dia menjadi agak khawatir. Dengan latar belakangnya, dia punya wewenang untuk bisa melakukan apa saja. Kota Bulengreng bukanlah apa-apa di matanya. Jika Jaya menyinggungnya ini bisa mendatangkan bencana ke Kota Bulengreng.
"Tidak, tidak ada masalah." Mata Putri Sekar mulai mengukur ulang tentang Jaya dengan melihat punggungnya dari belakang. Memutar bola matanya ke arah Wulan.
"Apakah kau tahu apa yang di inginkan oleh seorang pria?" Putri Sekar bertanya antusias.
Wulan canggung dengan pipinya yang kemerahan. Dia menggeleng kepalanya lembut yang tersipu malu.
Wulan dan Putri Sekar menerima mangkuk makanan. Ada dua makanan yang di berikan. Satunya mangkuk berisi Daging Soto Santan, dan satunya piring dengan Daging asap yang di iris dengan di taburi bumbu. Baunya begitu harum menyengat masuk ke dalam hidung. Aromanya mengundang gairah nafsu makan.
Beberapa orang membagikan makanan yang telah siap di santap dan di sajikan. Jacky ikut membagikan makanan ke Prajurit yang lain. Setelah itu, dia duduk ke sampingnya Jaya Kedua.
"Apakah kau sedang memikirkan sesuatu Jaya?" Tanya Jacky lirih. Dia juga asyik sambil menyantap makanan di mangkuknya. "Ku lihat dari jauh, kau terdiam seakan membawa beban yang berat untuk di pikul. Jika ada masalah, katakan saja. Aku pasti akan membantumu. Aku bukanlah orang asing. Kita sudah berbagi untuk menanggung hidup dan mati bersama. Masalahmu tentu juga adalah masalahku,"
Jaya Kedua tersenyum kecil. Namun dia masih belum bisa menjelaskan masalahnya kepada Jacky. Jika Jacky tahu tentang masalah yang dia pikirkan, dengan keadaan Jacky yang saat ini, itu juga tidak akan memberikan dampak apa-apa.
__ADS_1
"Belum waktunya. Nanti kalau kau sedikit bertambah kuat, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tenang saja, nikmati dahulu waktu kita yang santai seperti saat ini."
"Hoo....Apakah kau sedang merencanakan sesuatu yang besar?" Jacky bertanya dengan mengarahkan sendok makannya ke Jaya Kedua. Dia bisa menebak langsung masalah Jaya Kedua.
"Begitulah. Aku harap kau sudah siap, begitu waktunya tiba. Dan juga, aku punya beberapa rencana khusus untukmu." Jawab Jaya Kedua dengan anggukan dan senyum misteriusnya.
"Untukku?" Jacky membayangkan sesuatu yang buruk akan menimpanya. Saat Jaya Kedua mengatakan rencana khusus untuk dirinya, itu pasti sesuatu hal yang tidak bagus. "Kau tidak akan merencanakan sesuatu hal yang aneh atau berbahaya, kan?"
"Haha...tenanglah. Aku yakin kau pasti suka,"
"Aku ini masih lemah Jaya. Jangan anggap aku ini sepertimu." Keluh Jacky dia mendekatkan mukanya memberikan peringatan kepada Jaya Kedua.
****
Di tempat Jaya asli.
Dia sedang meditasi menyerap mayat Paman Yogi yang di kirim ke alam jiwa Kegelapannya. Beberapa saat penyerapannya telah selesai untuk di cerna dan di pahami.
"Padahal telah menyerap seorang tingkat level 5. Tetapi kekuatan Ananta dan levelku sama sekali tidak meningkat. Namun aku mendapatkan sesuatu yang tidak buruk sebagai gantinya."
"Ternyata aku bisa mendapatkan kekuatan Ananta dari mayat manusia yang telah di serap. Walau tidak bisa di kembangkan tingkatnya untuk menjadi lebih kuat, namun aku bisa menggunakan sesuai pemiliknya selama dia masih hidup. Kekuatan Kegelapan memang sangat menguntungkan,"
__ADS_1
"Dan aku menemukan beberapa informasi dari ingatan tentang kehidupan Paman Yogi selama semasa hidupnya sampai dia mati. Ada beberapa temuan yang benar-benar menarik untuk aku pahami. Ini informasi yang memuat tentang Kunci Suluk, ternyata nama aslinya adalah Kunci SA, atau di sebut Solok. Dan Kunci ini mempunyai lima jenis kunci yang berbeda. Mereka semua bagai sesuai syarat untuk kunci kesempurnaan kehidupan, atau menyebutnya adalah kunci menuju Jalan Langit. Jalan Lurus Kebenaran Ananta Sejati."
"Namun, setiap kunci mempunyai Mantra Jimat untuk bisa di pahami agar bisa di gunakan dan dipegang. Dan jika di kumpulkan semuanya menjadi satu, maka akan jadi Teknik Pusaka Kalimasodo. Dan sayangnya, Paman Yogi tidak mengetahui letak di mana Kunci itu berada di sembunyikan," Kata Jaya yang mengukur pemahamannya yang dalam.