Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Beruang Aneh


__ADS_3

"Oh, ya, sekalian ada sesuatu yang ingin kujual. Bisakah anda membantu untuk menjual sebuah barang...." Kata Jaya Pertama dengan ringan.


"Barang apa itu?" Tukas Ketua Suwarto.


Jaya Pertama kemudian mengeluarkan Batu Kristal Merah dari kantong ruangnya. Dia meletakkannya di lantai. Mata ketua Suwarto terkejut menelan ludahnya. Itu bukanlah sebuah barang yang biasa untuk dilihatnya. Bahkan Sucipto yang masih di ruangannya hampir jatuh karena terkaget.


"Hah! Ini Batu Kristal Merah asli?!" Sucipto mengusap kedua matanya hampir merasa tak percaya.


"Sungguh? Ini batu kristal merah, ya?!" Ketua Suwarto tubuhnya gemetar terguncang.


"Yah, begitulah. Kuharap ketua bisa membantuku untuk menjualnya..."


"Ha… ha..." Tersenyum canggung Sucipto.


"Ini barang kualitas yang bagus untuk membuat senjata artefak. Ini sangatlah berharga..." Ketua Suwarto lirih berkata dan matanya bersinar berseri.


Melihat satu bongkahan Batu Kristal Merah yang memancarkan energi padat yang begitu murni. Ini janganlah terjadi. Tangannya mencoba untuk menyentuh dan merasakan sensasi dari energinya Batu Kristal Merah. Dia yakin, bahwa itu adalah asli.


"Baiklah, ini akan menjadi barang pelelangan yang istimewa. Kuharap kau menyukai hasil harganya nanti." Suwarto tersenyum lebar sambil menggeleng tak percaya.


"Terima kasih..." Ucap Jaya Pertama.


"Kau tak perlu berterima kasih, seharusnya akulah yang harus berterima kasih. Dengan begini, cabang distrik Asosiasi Hunter akan menjadi semakin terkenal. Tentu dengan adanya barang ini, banyak orang yang akan datang kemari untuk menawar. Hahaha..." Kata ketua Suwarto penuh sukacita. Dia kemudian menyuruh Sucipto untuk mengurus dan meletakkan Batu Kristal Merah itu ke Pelelangan nanti dan menyebarkan beritanya.


Jaya Pertama lalu tanpa sungkan, dia meminta untuk menjual beberapa Batu Kristal Energi Biru juga. Ketua Suwarto kembali tercengang. Lalu dia meminta untuk membeli sebagian dan ditukar dengan teknik Keterampilan Pedang tingkat Bumi. Ini adalah kesempatan langka baginya untuk memiliki sebagian barang yang langka.


Selepas itu, Jaya Pertama di bawa ke penginapan khusus di gedung Asosiasi Hunter. Sembari menunggu waktu pelelangan yang akan diadakan seminggu lagi, dia akan beristirahat di penginapan yang disediakan oleh Asosiasi Hunter.

__ADS_1


Di dalam ruang penginapannya, Jaya Pertama membuat satu bayangan dan menyuruhnya untuk pergi ke tempat Paman Sam. Setelah itu, bayangan tersebut bergegas pergi dengan merubah dirinya menjadi seekor Burung. Sedangkan Jaya Pertama mulai mengaktifkan cincin ruang dengan darahnya.


****


Bayangan Jaya kedua.


Jacky dan Jaya Kedua bergegas menuju ke Benteng Kota Asosiasi Hunter. Masih butuh tiga hari lagi bagi mereka untuk bisa sampai ke sana. Jika tanpa bersama Jacky, mungkin Jaya Kedua bisa sampai dalam waktu satu hari.


"Jaya… tunggu… sebentar… aku capek..." Kata Jacky yang suaranya patah-patah karena kelelahan. "Istirahat dulu...."


"Baiklah. Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Jaya Kedua menghentikan langkahnya. Dia melihat keringat Jacky yang tampak seperti orang yang habis mandi.


Berlari seharian terus memanglah menguras batas ketahanan fisik Jacky. Sebab saat ini dia masihlah belum mencapai tingkat level 1. Fisiknya dia tentu masihlah lemah. Tak ada pilihan lain lagi bagi Jaya Kedua selain untuk mengimbanginya.


"Ya… Aku tidak apa-apa..." Pungkas Jacky yang langsung merebahkan punggungnya bersandar ke pohon.


"Apakah kau tidak merasa capek juga? Padahal kita sudah berjalan seharian penuh..." Tanya Jacky yang matanya terpejam mengatur nafasnya.


"Dasar, kau seperti monster saja. Yang tidak pernah mengenal capek..."


"Kau istirahatlah terlebih dahulu disini. Aku akan pergi melihat di sekitar..."


Jaya Kedua kemudian pergi meninggalkan Jacky sendirian. Dengan cepat, Jaya Kedua berlarian melompat di atas pohon. Dia menggunakan kekuatan energi mentalnya untuk menerawang melihat keadaan sekitar. Menentukan aman dan tidaknya saat memutuskan beristirahat adalah penting. Karena bisa jadi, sewaktu-waktu monster akan menyerang di saat penjagaan melemah.


Tak disangkanya, dari jarak kejauhan dia melihat ada seorang gadis dan dua orang laki-laki yang sedang bertarung dengan monster Beruang. Dari situasinya mereka sedang terdesak kewalahan. Dengan penasaran, Jaya Kedua pergi mendekat untuk mengetahuinya.


Setelah tidak jauh jaraknya, Jaya Kedua mengamati pertarungan mereka. Beruang itu tampak mempunyai kekuatan aneh. Dia monster level 4 tahap awal. Tapi gadis itu level 2 dan dua lelaki berlevel 5. Seharusnya mereka bisa menang melawan Beruang itu.

__ADS_1


Monster Beruang di serang dengan senjata pedang dan tombak oleh dua orang laki-laki. Serangannya mengenai dan melukai tubuh monster Beruang yang besar. Sesuatu hal aneh terjadi, tubuh Beruang itu beregenerasi dengan cepat. Seolah serangan tadi tidak ada yang terjadi.


"Wah wah wah… celaka. Mereka bisa mati jika terus bertarung dengan monster Beruang yang seperti itu," pikir Jaya Kedua dalam hatinya yang tercengang melihat monster Beruang itu.


Tidak jauh dari tempatnya mereka bertiga, ada pula banyak mayat manusia yang terbunuh tergeletak. Mungkin lebih sekitar 20-an lebih. Jaya Kedua menggelengkan kepalanya seolah sedikit mengerti situasinya.


"Hm, monster itu kayaknya membawa petaka. Jika dia yang membunuh orang-orang di sana, aku perlu menyelidiki monster ini. Mungkin dia ada hubungannya dengan tingkah Marco yang aneh waktu itu?" Ungkap hati jaya Kedua cemas. "Mulai ada banyak hal yang di luar dugaan ku. Di kehidupanku sebelumnya seharusnya tidak ada peristiwa yang aneh dan ganjil seperti ini,"


Beruang melancarkan serangan.


"Tuan, Putri, sebaiknya anda lekas pergi! Bahaya… Beruang ini aneh. Dia bukan monster yang seperti biasanya!" Kata salah seorang laki-laki yang menahan serangan.


"Tidak Paman Yoga! Jika aku pergi, maka kita harus pergi bersama… aku tidak bisa pergi sendirian tanpa kalian," jawab gadis yang dipanggil Putri.


"Mohonlah mengerti tuan Putri, ini situasi darurat. Keselamatan adalah yang utama!" Pungkas lelaki lain, yang berdiri di samping orang yang dipanggil Paman Yoga.


"Paman Yogi? Tapi itu...." Putri merasa bingung dan bimbang harus berbuat bagaimana. Di hutan ini tentu masih ada banyak monster yang berkeliaran. Dia takut jika harus berjalan pergi sendirian. Level dia masih level 2. Terlalu dini baginya untuk menapak di hutan monster seperti ini.


Paman yoga melancarkan serangan tombak dan beradu pukulan dengan monster  Beruang. Mereka imbang dan terus saling paut bertarung dengan bertahan untuk mencari celah. Semakin lama, kesenjangan terbuka. Paman


Yoga mulai letih dan lengah karena sedikit kelelahan menguras energi.


"Ah, celaka!" Ketus Paman Yoga.


Pada kesempatan itu, monster Beruang lalu membentangkan cakarnya ke tubuh Paman Yoga. Hingga membuatnya terpental ke tanah sampai terbentur membentuk kawah. Paman Yogi dan Putri yang mengamati dari jarak dekatnya sontak khawatir.


"Kakak yoga!" teriak Paman Yogi. Dia langsung bergegas ke arah Paman Yoga yang tersungkur.

__ADS_1


"Paman yoga!" Putri terguncang hatinya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Paman Yoga adalah satu-satunya harapan baginya.


"Tidak… tidak… tidak mungkin!" Putri tak percaya dengan kenyataan yang harus diterima.


__ADS_2