Hunter Dan Dewa Monster

Hunter Dan Dewa Monster
Sucipto


__ADS_3

Jaya kemudian berhenti dan melengos kan wajahnya. Dan dia mengeluarkan dua Klon bayangan dari tubuhnya. Lalu mereka berdua menyerang Ular Suto Brajan.


"Aku butuh serangan yang kuat hingga mampu menembus pertahanan tubuhnya..." Gumam Jaya.


Jaya fokus dengan pedang hitamnya. Dia memusatkan energi kegelapan ke dalam pedangnya hingga energinya menyelimuti dengan meluas dan besar. Jaya hening, mencoba mengeluarkan seluruh energi kegelapan dan energi Auranya ke dalam satu pedang hitamnya.


"Apakah ini saja kekuatanmu? Membelah diri. Itu tak berguna di hadapan kekuatanku..." Kata Ular Suto Brajan.


Dengan tombak energinya, Ular Suto Brajan melawan dua Klon bayangan Jaya. Sedangkan Jaya begitu fokusnya mengerahkan energi ke pedangnya. Dia membayangkan seluruh teknik pedangnya dan segala bentuk energi di tubuhnya.


Dia ingin menggabungkan kekuatan energi kegelapan dan energi Aura untuk menjadi satu. Dan keduanya membalut tercampur di pedang hitam Jaya. Begitu prosesnya selesai, Jaya melihat bentuk energinya begitu aneh.


Pedangnya membentuk sebuah energi yang berwarna putih keemasan dalam gelap. Tubuh dia juga kian berubah, yang asalnya dibalut energi yang hitam gelap. Kini tampak gelapnya bertabur seberkas putih keemasan.


Pandangannya Jaya, dalam sekejap bisa melihat tempo gerakan Ular Suto Brajan yang begitu lambat. Jaya merasa seolah bisa menebak gerakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh Ular Suto Brajan. Jaya menatap Ular Suto Brajan dengan dingin.


"Matilah kau!" Teriak Jaya dengan cepat mengayunkan pedang hitamnya yang terisi penuh oleh energi besarnya. Itu melesat mengarah ke Ular Suto Brajan. Ayunan itu membentuk tiga goresan pedang.


"Apa … ini tidak mungkin kan?" Ular Suto Brajan merinding bergidik melihat energi yang berbentuk tiga gores tebasan pedang. Dia melawan kilah tebasan itu, tetapi seolah tiga energi goresan itu tidak terpengaruh, seakan dia melawan angin. Selain itu, dia juga merasa tubuhnya bisa langsung terpotong oleh tiga tanda goresan tersebut.


Classh!


"Tidakkkkk … kekuatan apa ini!" Teriak Ular Suto Brajan sengit. Serangan itu memberikan tebasan yang dalam ke tubuhnya.


"hah … hah … Inilah yang kusebut sebagai kekuatan energi sejati..." Ungkap Jaya dengan terengah kehabisan energi di dalam tubuhnya. Mengeluarkan dua kekuatan energi secara bersamaan dan menggabungkannya sangatlah berat dan menguras tenaga.


****


Di tempat Klon bayangan Jaya Pertama.


Dia tiba di sebuah tempat benteng kota Asosiasi Hunter. Di sana banyak orang yang berjalan dengan memakai armor yang hebat-hebat. Suasananya begitu ramai dengan orang yang berlalu lalang berjalan.


Jaya Pertama menyusuri jalan dan pergi ke tempat kantor Asosiasi Hunter. Begitu sampai, dia mendatangi seorang kasir penjaga. Dia seorang perempuan dengan wajah yang anggun.


"Apakah ada yang bisa dibantu?" Tanya kasir itu dengan senyum lembut. Dia mengamati Jaya Pertama yang pakaiannya ditutupi jubah hitam rusak dan kusut.


"Hm … Aku ingin menjual beberapa tanaman dan mendaftar untuk menjadi Hunter," jawab Jaya Pertama.

__ADS_1


"Baiklah, tapi untuk mendaftar anda harus mengikuti beberapa ujian dan tes. Dan biaya pendaftaran sejumlah 1 juta koin Hunter,"


"Ya, aku akan melakukannya." Jaya mengeluarkan satu kantong ruang dan meletakkan di meja kasir.


"Apakah ini adalah barang yang ingin dijual?" Perempuan kasir itu memeriksa isi kantong ruang tersebut.


Begitu mengetahui isinya, dia tertegun kaget. 


"Ya … apa ada yang salah?" Tanya Jaya Pertama.


"I-ini … maaf, saya tidak mengetahui tanaman apa ini. Tetapi dari energinya sepertinya aku perlu mengoreksi ulang kembali. Bisakah anda untuk menunggu sebentar disini..."


"Baiklah..."


Sesaat kemudian perempuan kasir itu pergi dan kembali lagi membawa seseorang yang bertampang agak sedikit tua, dia kayak seorang ahli. Dan perempuan kasir menunjuk ke arah Jaya, lalu orang tua itu menghampiri Jaya Pertama.


"Apakah kau yang menemukan tanaman ini?" Tanya orang tua itu.


"Ya..."


"Ini adalah tanaman yang bagus. Tanaman jenis lavender seperti ini sangatlah sulit ditemukan. Aku akan membelinya dengan harga 10 juta koin Hunter untuk semuanya. Kalau boleh tahu dimanakah kau bisa mendapatkannya?"


"Hm … begitukah? Haaah … tidak perlu minta maaf. Di dunia Mayantara itu memanglah banyak hal yang tidak bisa kita duga. Semua keadaan bisa saja bertambah buruk, itu semuanya karena berada di luar nalar manusia..."


"Kau bisa kembali saja itu sudah bagus. Ini terimalah uangnya..." lanjut orang tua itu dan memberikan kantong ruang yang berisi uang koin Hunter 10 juta.


"Terima kasih..."


"Namaku adalah Sucipto. Aku instruktur di cabang Asosiasi Hunter disini. Aku adalah bagian peninjau pengawas untuk tingkat Hunter dan bagian perburuan Hunter di dunia mayantara. Kudengar kau juga ingin menjadi Hunter?" Tanya orang tua itu dengan memperkenalkan dirinya.


"Yah … seperti begitulah..."


"O, kalau begitu silahkan ikut denganku untuk melakukan ujian dan tes..."


Kemudian Jaya Pertama dibawa ke suatu tempat ruangan yang luas, setelah dia membayar dan mengisi formulir pendaftaran. Dia menuliskan nama dirinya dengan nama, Jatra. Setelah sampai di sebuah ruangan yang di sana hanya ada Sucipto saja. Kemudian Sucipto mengeluarkan sebuah bola kristal berwarna putih.


"Ini adalah bola yang bisa untuk melihat ukuran tingkat fisik dan energi Aura seseorang. Pertama, letakkanlah tanganmu di atas sini..."

__ADS_1


Jaya Pertama pun langsung meletakkan tangannya. Bola kristal putih itu bersinar, di dalamnya kemudian ada empat titik yang berwarna kuning.


"Oh … tingkat level 4 ya … bagus!" Kata Sucipto senang melihatnya. "Sekarang tes selanjutnya … kekuatan jiwa,"


"Tes ini hanyalah diperuntukkan bagi yang belum mempunyai kekuatan Ananta. Tetapi kalau kau sudah mempunyai kau bisa melewati tes ini." Sambung kata Sucipto menatap Jaya Pertama. Dia sepertinya ingin hendak mengeluarkan sesuatu lagi.


"Ini adalah kekuatan Anantaku..." Jaya Pertama mengeluarkan kekuatan energi kegelapannya hingga menyelimuti seluruh tubuhnya.


Mata Sucipto terbelalak melihat kekuatan Ananta itu. Dia kaget setengah mati dengan perasaan cemas.


"A-apakah itu kekuatan Anantamu? I-itu ... Ananta kegelapan..."


"Ya?" Jaya Pertama memiringkan kepalanya melihat ekspresi aneh Sucipto. Sebelum mengatakan kekuatan Ananta tipenya, Sucipto telah menebaknya dengan benar.


"Ah … bahaya."Sucipto menepuk wajahnya yang berekspresi tidak tenang. "Tolong setelah ini harap anda tidak menggunakan kekuatan Anantamu. Dan tetap merahasiakan kekuatan anda itu...." Kata Sucipto mukanya serius memandang Jaya.


"Maksudnya?"


"Kami Asosiasi Hunter adalah pihak netral. Ananta kekuatanmu terlalu bahaya jika diketahui oleh banyak publik. Karena itu bersangkutan dengan masalah besar di kerajaan Manikmaya...."


"Maaf … aku tidak paham maksud senior. Apakah masalah besar itu? aku tidak pernah melanggar hukum kerajaan Manikmaya atau menyinggung dari keluarga kerajaan? Setahu saya, saya tidak pernah punya urusan dengan mereka..." Itulah pikir Jaya jika membayang masalah kerajaan. 


"Hm … maksud saya, itu adalah asal-usul dari kekuatanmu. Apakah kau berasal dari bangsa Asoka?" Tanya Sucipto yang tampak penasaran dan nadanya berubah bicara hormat.


"Aku tidak mengerti asal-usulku atau dari mana keluargaku. Karena aku terlahir hidup sendirian selama ini..."


"Begitukah … huft … Apakah anda tidak ingin mencari mereka?"


"Untuk apa?"


"Ha … yah mungkin untuk bertemu mereka."


"Aku tidak peduli apakah harus menemuinya ataukah tidak. Aku cuma hidup sesuai yang ingin ku jalani … jika memang keluargaku mempunyai masalah dengan kerajaan Manikmaya. Tapi itu bukan berarti aku pun sama..."


"Hm … yah, orang yang tidak tahu bisa saja dianggap orang yang tidak bersalah, begitulah kata pepatah. Meski begitu, kekuatanmu haruslah di sembunyikan. Dan sebaiknya kau mulai hati-hati di masa depan nanti. Dan untuk tes ujian selanjutnya adalah tingkat pertarungan. Tolong keluarkan semua kekuatanmu untuk melawanku..."


"Aku adalah tingkat level 7 tahap menengah. Sebaiknya kau tidak perlu menahan diri." Tambah Sucipto dengan wajah serius yang tenang. "Level energi kekuatan bukanlah penentu kehebatan. Namun kekuatan Anantalah yang menjadi penentunya. Semakin tinggi akar asal-usul energi Anantanya maka semakin kuat pula kekuatan seseorang itu nantinya..."

__ADS_1


"Kekuatan Anantaku adalah tipe angin..." Lanjut Sucipto menjelaskan  dengan mengeluarkan energi di tubuhnya dengan kuat. "Ayo serang lah aku..."


"Baiklah … mohon bantuan bimbingannya senior. Kalau begitu saya akan mengerahkan seluruh kekuatanku..." Jaya Pertama tersenyum lembut.


__ADS_2