
"Huh... panas banget! Kok lama sih mereka datangnya! sudah jam berapa nih! Katanya jam satu. Sekarang sudah lewat dua puluh menit..." suara merdu bagaikan madu di siang hari.
Cring.. cring... cring... (suara es batu di dalam gelas bening jus semangka)
Rara tengah duduk mengadu jus semangka itu sampai bunyian es batu bersentuhan. Keringat terus keluar bagaikan butiran sebiji jagung karena terik matahari siang panas begini buat kulitnya timbul kemerahan.
"Panas, woi! sial, kayak gini ngapain gua datang! Dasar jam karet!"
Di minum jus semangka hingga habis, terus bangkit dari duduknya di rogoh duit dari kantong celana jeans-nya yang cantik.
"Berapa, bang!" tanya Rara keluar selembar dua puluh ribu kepada penjual jus buah-buahan.
Di ambil kembalian, terus ia pun meninggalkan tempat warung kopi itu. Sebentar saja terik matahari kayak neraka menusuk kulit mulut putih nya membakar kertas kering itu. Sakit coy!
Rara segera berlari menghindari sinar matahari, biasanya orang menghindar air hujan. Dia kebalikan, baru saja lima langkah kaki berlari.
Buk!
Aduh! sialan! mata gue kemana! Eh... salah! pekik si Rara.
"Kalau mau nangkring diri jangan di sini dong! Emang ini ekongmu!" bangkit dari pasiran di pukul badan tertempel pasir kecil.
Untung celananya tebal kalau nggak rasanya pasti sakit banget. Tak ada respon dari orang yang masih berdiri itu.
Rara mendongak kepalanya, Busyet! Tinggi amat. Tiang listrik apa? celetuknya dalam hati.
Pria itu malah pergi tak menghiraukan Rara yang perhatikan paras wajahnya. Rara terpukau sama wajah langka itu.
"Eh, Om! tunggu sebentar!" Rara mengejarnya.
Tapi keburu pergi itu pria di jemput sama mobil mewah dan megah.
__ADS_1
"Gila! Tampan banget! Suami masa depan gua nih. Mama Rara ketemu jodoh nih!"
Rara berteriak seperti setan di siang hari masuk kedalam rumah, membuat para penghuni terpingkal dengan jeritan petir itu dari Rara.
****
Didalam rumah, kehebohan pun terjadi, Rara mengoceh tidak jelas. Wajahnya memerah karena sinar matahari membakar kulitnya.
Rara duduk santai di sofa empuk dengan kedua kaki di atas meja kecil depannya. Sambil main ponsel canggih terbaru ViVo termahal jutaan rupiah. Zaman sekarang modern pada berubah.
Celana panjang bagus-bagus di sobek-sobek kayak gembel. Kaus yang cantik rapi, di kusuti sampai di lipat kayak anak the Rocker.
Di lihat instagramnya, nggak ada satu pun bisa di cuci mata. Ia matikan serasa bosan, kedua matanya tertuju pada Ayahandanya.
"Pa, Papa mau kemana?" tanya Rara
"Mau kerja, dong," jawabnya
"Untuk apa? Enggak kumpul sama temen-temen kamu?" tanyanya
"Mereka nggak jelas, Pa. Yuk, Pa!"
Rara masuk kedalam mobil ayahanda-nya. Ia sangat manis kalau sudah di mobil Edy. Cuma sikap anehnya ini bikin Edy waswas. Karena penampilannya sedikit mencolok. Ya mudahan saja di kantor nanti nggak seperti sifat istri barbar-nya.
Sampai di kantor perhotelan tempat dimana para karyawan terpukau dengan ketampanan Edy. Tidak pernah berubah seberapa pun usianya yang mulai berkepala empat atau lima tetap saja ganteng. Istrinya lagi masih mudah. Tetap saja tidak terpikat oleh siapa pun.
"Pa, Rara ke sana, sebentar ya!" Di tunjuk arah tempat minimarket.
"Iya, jangan bikin onar ya!" Edy mengingatkan.
"Siap, komandan!" Rara sampai memosisikan seperti tentara.
Di dalam minimarket, Rara keliling lihat-lihat yang bisa di santap. Perutnya lapar sih, ada es krim alice bentuknya unik banget.
__ADS_1
Buka kaca pendingin itu, terus es krim rasa paling di sukainya itu tinggal satu. Baru saja mau di ambil ke duluan sama orang lain. Tangan lebar, kekar dan sedikit berakar uratnya.
"Eh! Stop! Gue duluan yang dapat!" Di tahan tangan kekar itu.
Pria bermata sipit itu mengernyit dan menatap sebuah tangan putih bagai susu merah-merah merebut es krim bentuk merah berbintik hitam-hitam itu.
Merasa di perhatikan, kedua mata Rara melebar sempurna.
"Tiang listrik..." gumamnya, "Ni shuo Shen me? ( Apa yang kau bicarakan?)" ucap pria bermata sipit.
Rara terbengong apa yang di dengar oleh pria bagaikan tiang listrik itu. "Hah? Di sini enggak ada Nasi liwet!" balasnya dengan bahasa lebih aneh.
"Nǐ wǔrǔ wǒle ma? (apa kamu menghinaku?)" ucap pria itu
"Om, ngomong apa sih! Kan, Rara sudah bilang di sini nggak ada nasi uduk! Om, salah alamat macam lagu ayu ting-ting saja!" balasnya si Rara di buka bungkusan es krim itu.
Setelah membayar es krim di kasir, Rara makin penasaran sama pria bermata sipit itu. Sepertinya dia bukan orang lokal deh. Tapi kok bisa nyasar sampai sini ya? Pada liburan, ya? batinnya dalam hati.
Kembali ke kantor Edy, Rara menjilat es krim semangka. Edy sedang sibuk dengan beberapa berkas proyek untuk pembukaan cabang lain.
"Pa, tadi Rara ketemu makhluk planet, loh," serunya sambil menjilat es krim
Edy mengernyit keningnya, "Makhluk planet?" ulangnya.
"Iya, Pa. Makhluk planet, orangnya tinggi kayak tiang listrik, terus muka boleh di bilang cakep, cuma sayang itu matanya panjang begini, mirip Allien, lah, Pa. Terus cara bicaranya itu aneh banget nggak paham Rara dengarnya." katanya menjelaskan kepada Ayahanda.
Edy sampai membayangkan apa yang dikatakan oleh putrinya ini. Memang ada makhluk halus menginap di hotelnya?

__ADS_1