I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Ciuman Penyembuhan


__ADS_3

"APA!!!"


Teriakan histeris ketiga manusia dewasa membuat ada di luar para karyawan bekerja ikut kaget sama suara di dalam.


"Iya, Pa, Rara nggak perawan lagi!" lanjutnya ekspresi polos.


"This's not just a misunderstanding!" sambung Dennis bersuara


"Apa yang kesalahpahaman sih, Om! Rara memang uda nggak perawan lagi di buat sama Om Oli...!" balasnya, Nella dan Edy menonton perdebatan dua manusia kurcaci ini.


"Perawan apanya! Sentuh kamu saja, belum pernah!" bantah-nya tidak terima di tuduh sebegitu kejam.


"Tunggu-tunggu! Lee, apa benar kamu sudah menodai putriku?" Sekarang Edy bertanya kepada Dennis.


Di ruangan berbentuk segi empat, hening, sunyi, menunggu jawaban dari Dennis.


"Aku bersumpah demi agamaku, aku tidak menodai putrimu, Edy! Ini hanya kesalahpahaman!" jawabnya mengangkat tangan lima jari kepada Edy


Nella berdiri di samping suaminya, sedangkan Rara menciut kecut bibirnya.


"Om Oli dosa loh kalau bohong. Buktinya tadi Om sentuh Rara, itu termasuk ternoda, loh!" sambungnya


Suasananya semakin canggung dan tegang, Edy jadi bingung mana yang harus di percayai, putrinya atau sahabatnya.

__ADS_1


"Itu bukan ternoda atau perawan, aku hanya..."


"Hanya apa?"


"Tadi, Om Oli sentuh bibir Rara! Soalnya Rara minta peragakan cara belah durian. Malahan Om Oli menolak, ya sudah, Rara bilang cari yang lain biar tau apa itu belah durian. Eh... nggak taunya dia pakai sentuh bibir Rara. Rara cek di google, jadinya bibir Rara ternoda dan nggak perawan lagi...!" terangnya si Rara menceritakan semua awal hingga akhir.


Edy dan Nella menepuk jidat, sementara Dennis menutup matanya. Suasana yang tegang bikin mereka bertiga salah paham.


"Itu namanya bukan nggak perawan lagi, sayang...! Itu namanya First kiss... Ciuman pertama di ambil oleh lawan jenis!" Jelas si Nella kepada putrinya berapa polosnya si Rara.


"Ya tetap saja nggak perawan lagi! Soalnya sudah di ambil sama dia! Jadi, Om Oli sudah ambil jantung Rara dong?" cicitnya


"Jantung?" Dennis makin heran sama kata-kata absurdnya gadis aneh bin ajaib nauzubillah ini.


"Aku permisi dulu, ada urusan yang masih di urus." Dia meranjak dari tempat kantor Edy tidak melanjutkan dari jawaban gadis aneh itu.


"Loh, kok, Om Oli pergi sih! Yaaa... hati Rara sedih deh!" lesunya balik menatap kedua orang tuanya.


Edy dan Nella menghela napas dan ketawa benar momen paling lucu di kehidupan mereka.


••••


Dia mendaratkan pantatnya ke badan sofa empuk ada di kamarnya. Satu batang rokok di ambil dari kotak bungkusan tanpa bermerek, di nyalakan kemudian di isap sedemikian lalu di gempulkan asap tebal dari mulut dan hidungnya.

__ADS_1


Masih terngiang bayang-bayang sosok gadis remaja tadi, benar buat pikirannya berkecamuk. Tidak sampai itu saja pikiran tentang putri sahabatnya, masih terbayang seseorang hampir serupa dengan sifat gadis remaja aneh bin ajaib tadi.


Ponselnya berdering di rogoh dari celana perlihatkan pada layar ponsel. Nomor tidak di kenal.


"Hal-"


"Om, buka pintu nya dong!"


Di jauhkan ponselnya, menatap panggilan masih hijau, terdengar suara merdu imut di seberang.


"Halo, Om! Ih... cepatan buka!"


Dia pun bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu Buk! Arghh! erangnya si Dennis jidatnya terbentur oleh daun pintu ketika gadis itu menerobos masuk tanpa melihat.


"Oops! Sorry! Om, sih lama banget bukanya!" merepet si Rara.


Dennis menyuruhnya cepat masuk, benaran sakit banget jidatnya itu. Di tutup kembali pintu, Rara bawa sesuatu di tentengan pada tangannya.


Tak berapa lama, Dennis tidak mengerti maksud gadis aneh ini apaan. Datang ke kamar inapnya, padahal dia lagi butuh menenangkan diri.


"Sudah! Eh, sebentar..." Kembali lagi degupan jantung Dennis berhenti berdetak. Dan dua matanya melebar lagi, ada rasa dingin plus hangat di keningnya.


"Semoga sembuh, ini ciuman penyembuhan dari Rara. Gadis manis imut semerdu lebah madu," ucapnya senyum lalu dia bangkit dari duduknya mengembalikan kotak P3K tempat semula.

__ADS_1


Kok...


__ADS_2