
Di rumah Pak Raden dua pasukan dari Rara sudah duduk manis. Dennis masih lemas karena efek
mual dan pusing tak tertolong.
"Bang Marcel, boleh minta tolong?" Rara meminta sesuatu kepada sepupunya
"Apaan?" ketusnya lagi asyik main monopoli sama cucu Pak Raden
"Panjat jambu itu, rasanya enak itu kalau di rujak," suruhnya menatap pohon jambu
yang berbuah warna merah gelap.
Sedangkan Dennis sedang di kusuk sama Pak Raden biarkan mereka bermesraan dulu di kamar.
"Mesti sekarang? Nanti tanggung nih sudah mau menang permainannya." Marcello minta waktu beberapa menit tapi wajah Rara sudah menunjukkan ekspresi
merengut.
"Ya deh, aku panjat demi keponakan somplak!" seru Marcello berlalu menuju pohon
jambu itu.
Tinggal cucu Pak Raden sendiri, Rara beranjak dari kursinya menghampiri cucunya Pak Raden si
Dio.
"Dio, temani kakak ke dapur yuk! Kita buat rujak. Kamu suka makan pedas, kan?"
Rara mengajak Dio persiapkan bumbu rujak nya.
"Suka banget, Kak! Ayo, ndak apa-apa Bang Marcello di tinggal?" tanyanya menoleh
melirik pohon jambu bergoyang ada monyet sedang panjat.
"Nggak apa-apa, yuk!" jawab Rara memegang tangan mungil nya.
Sedangkan di kamar Dennis berteriak kesetanan karena urutan dari Pak Raden benar luar biasa
tenaga dalam dari mana di dapatkannya.
Benar hancur tulang berulangnya semua berbunyi setelah di tekuk, di lihat, di tarik. Kalau
tidak seperti ini kapan dia bisa bermesraan dengan istrinya yang hamil muda.
"Nak Dennis baru pertama kali kusuk ya?" suara berat cempreng menusuk ke telinga
Dennis.
"Iya, Pak.Baru pertama kali, tapi enak kok semakin di urut Pak!" jawab Dennis berat
"Nanti lama-lama juga terbiasa, minum jamu juga bagus." katanya
"Jamu?"
"Iya, Jamu banyak khasiatnya bisa memperkuat untuk hubungan, memperlancar stamina,
membuang angin di dalam tubuh. Banyak... Bapak juga sering minum jamu makanya
tenaga saya besar dan kuat." jelas Pak Raden
Dennis ber-Oh saja, ia sekarang merasakan kalau nanti malam tubuhnya bakal remuk. Untuk
sekarang masih aman.
****
Hari sudah jelang siang Dennis selesai kusuk sedangkan Marcello masih panjat pohon mangga.
Jambu sedang di kupas oleh Rara di samping tersedia bumbu rujak buatannya enak
itu rasanya enak atau tidak.
Dio mencolek jambu ke bumbu rujaknya, Rara melirik senyum, "Enak, Dio?" tanyanya
"Mantap! Rasanya pas di lidah," jawab Dio mengajukan jempol untuk Rara.
Marcello selesai memetik mangga milik Pak Raden semua sudah berkumpul. Seluruh tubuh kulit cowok
playboy ini berbintik-bintik karena gigitan genit dari semut betina.
"Ini pakai minyak merah biar tidak merasa gatal," ucap Pak Raden berikan kepada
Marcello minyak telon.
"Terima kasih, Pak."
Di rumah yang sejuk penuh pohon tinggi apalagi angin siang hari benar buat ketiga
manusia ini betah dan tidak ingin pulang ke rumah. Sementara di rumah minimalis
Nella dan Edy sedang duduk bermesraan menonton film drama Korea.
Mereka sambil mengenang masa lalu, Edy semakin tua tapi masih tampan makin cinta nya Nella kepadanya,
bagaimana nanti setelah lahir seorang cucu dari putrinya. Mungkin usia tidak
akan bisa lama lagi.
"Kalau cucu kita perempuan beri nama Freya Adora Leedira," ucap Edy
"Kalau cucu laki-laki?" tanya Nella
"Danish Burhanuddin Lawendra," jawab Edy
"Kok kuno banget namanya? Danishon Lawendra, Burhanuddin seperti jaman masa
__ADS_1
penjajahan!" protes Nella.
"Oh ya, maaf sudah tua," cengengesan si Edy.
****
Masa-masa kehamilan tidak terasa untuk Rara yang mulai gemuk. Proses ngidam telah usai
untuk Dennis tidak lagi membuat penyiksaan baginya.
Kini Rara tengah duduk bersantai sambil nonton televisi kesukaannya yaitu drama Korea film
goblin aktor yang lagi di cintainya - Lee Dong Wook. Lelaki yang putih tinggi dan imut membuatnya kagum.
Dennis sibuk dengan pekerjaannya, yang menemani Rara di rumah adalah Marcello dan Abel. Abel
sekarang tinggal di Indonesia tidak lagi ikut dengan orang tuanya.
Sementara Luna dan Alex masih berada di Jerman sedang mengurus beberapa proyek perusahaan yang
semakin pesat itu. Marcello bagaikan abang sepupu penurut demi keponakan apa
pun ia lakukan untuk adik sepupu super atur itu.
Abel di tugaskan untuk memasak kue dan juga ice cream kesukaan sangat keponakan kurang ajar
siapa lagi Rara.
"Bang Marcel, Rara boleh minta tolong?" mulut masih mengunyah perut sudah buncit kayak bola, di atas perut cemilan kerupuk ring keju. Marcello baru saja selesai mengepel seluruh rumah ini.
Nella dan Edy sedang dinas keluar kota menghadiri acara resepsi pernikahan sahabat akrab dari
istrinya Edy.
"Tolong apa? Jangan aneh-aneh deh, Ra. Perutmu sudah bulat makin aneh, makin somplak
lama-lama anakmu OVJ jadinya!" ketus Marcello
"Aku kan cuma minta tolong, belum juga sebut benda sudah katai anakku bakal jadi OVJ?? Bang Marcello kok jahat sih!" Rara mulai meregek, Marcello sudah terbiasa dengan muka aktingnya.
"Ya sudah mau minta tolong apa? Mudahan keponakanku nanti tidak aneh kayak kamu." lanjutnya
"Boleh minta tolong beli spageti? tapi aku maunya Bang Marcello pergi beli pakai angkutan umum," ucapnya Marcello melongo apalagi Abel ada di dapur makin mematung permintaan tidak lebih aneh lagi untuk sepupu ajaib ini.
"Are you crazy!!!" Marcello benar ini sudah keterlaluan.
*****
Pada akhirnya Marcello berada di Pizza hut dengan wajah masam belum lagi menunggu antrian
panjang berurutan nomor. Ponsel miliknya bergetar lagi-lagi adik sepupu sialan
itu.
"Bang, setelah beli Spageti, nanti mampir ke toko roti O ya! sama minuman Chatime!"
Marcello memutarkan kedua bola matanya dan merasa dunianya ini sebentar lagi runtuh.
"Halo, Bang!"
"Oke adik sepupu yang manis. Masih ada lagi nggak?"
"Sudah itu saja dulu, nanti ada lagi, aku telepon."
Panggilan dari Rara berakhir, antrian masih panjang. Marcello di harus kan menunggu demi keponakannya kalau tidak mungkin ia sudah berkumpul dengan para geng Boyband.
Daripada dia menunggu lama mending lihat sosial media atau foto galery nya atau Facebook.
Marcello menatap sebuah foto seorang gadis berdiri menghadap luar jendela tengah. Teringat ketika menjulukinya Gadis tomboi - Dina.
Dia merindukan gadis itu sekarang, Marcello merasa ia mulai jatuh cinta kepadanya. Perpisahan
begitu singkat baginya. Menunggu dia kembali pulang sepertinya itu mustahil
baginya.
"Antrian 345 spageti original chess!" teriakan dari kasir membuyarkan Marcello.
Marcello berdiri dan kemudian menghampiri kasir berikan antrian itu. "Terima kasih!" ucap Marcello senyum, selanjutnya ia menuju roti pesanan bumil itu benar menyebalkan.
Kembali di rumah minimalis Rara duduk tanpa ada rasa kenyang di perutnya terus mengunyah
sebentar berhenti. Dennis baru saja pulang wajahnya kusut dan letih sekali
seharian kerja.
"Om, sudah pulang, mau ice cream?" Rara menyapa suami nya tapi masih di posisi
duduknya.
"Tidak perlu, bagaimana? babynya masih nendang?" Dennis bertanya mengelus perut
buncit itu.
"Ada, tapi sudah aku bilang jangan nakal nanti Oppa Lee marah," jawab Rara meniru
suara lucu dan gemas.
"Begitu, baguslah. Aku sudah tidak sabar melihat dia hadir di dunia ini," senyum
Dennis mencium perut buncit dan juga bibir istrinya.
****
Proses kelahiran untuk Rara sebentar hadir di dunia. Rara tidak dapat melakukan lahir normal
__ADS_1
karena masa waktu jadwal melahirkan sudah melewati diharuskan untuk Caesar.
Untuk pelancaran masa lahirnya buah hati mereka.
Dennis menemani istrinya selama persalinan itu. Dengan obat bius yang di rasakan oleh Rara
benar menegangkan baginya. Dennis terus berdoa agar proses pasca operasi dengan
lancar. Butuh waktu lama untuk mengangkat bayi dari perut istrinya.
Sementara di luar Marcello, Nella, Edy, Luna, Alex baru saja sampai di Indonesia. Abel tentu
*** yang lain tenang tidak perlu di khawatir kan.
"Kenapa dengan dirimu, mbak? tegang banget yang di dalam operasi saja tenang."
tanya Marcello duduk di sampingnya
"Kayak mana tidak tegang, itu loh operasi Rara tentang hidup apa nggak! Kasihan kalau dia--"
Plak!
"Itu mulutmu jangan sumpahi putriku bukan-bukan ya! Do'ain yang bagus bukan suruh kamu omong aneh begini. Pantasan cowok pada lari semua karena mulut maut mu itu bikin orang emosi!" Nella menimpali mulut Abel sembarang bicara tidak melihat tempat.
"Ya ampun tante, sakit atuh di gampar! Abel bukan sumpahi cuma khawatir saja!" protesnya mengusap bibir denyut-denyut.
"Itu makanya mulut di didik jangan sembarang nyerocos saja," sambung Marcello
pindah tempat melihat ruangan operasi.
Waktu terus berjalan dan membuat di luar atau pun dalam operasi memecahkan keheningan
suara bayi terdengar keras seluruh tempat penghuni tersebut.
Dennis dengan berani menggendong bayi berjenis kelamin laki-laki masih berlumuran darah.
Dengan bahagia ia mencium dan Rara setengah sadar turut menciumnya.
Sementara bayi tersebut di mandikan untuk perawatan lebih baik lagi. Dennis mencium kening
istrinya cukup lama. Kebahagian tidak pernah di rasakan oleh Dennis telah
menjadi seorang Papa dan Rara sudah menjadi seorang Mama muda. Di usia yang
masih muda sembilan belas tahun tepat hari istimewa mendekati hari natal
tersebut.
****
Rara diperbolehkan untuk pindah ke kamar rawat. Para keluarga somplak telah
hadir menyambutnya. Nella dan Edy sudah menjadi Kakek Nenek. Harapan
mereka benar terwujud sekarang. Marcello mendapat keponakan baru yang tampan.
Nama putra mereka adalah Danish Ravendri Lawendra. Itu sudah di tentukan oleh
Rara dan Dennis.
Dennis mencuri foto putranya benar lucu walau mukanya menjengkelkan banget. Ekspresinya benar
bikin Dennis ingin mencubit nya. Kelak putranya pasti nakal dan buat orang terkagum - kagum padanya. Semoga saja tidak ada yang lebih somplak seperti keluarga aneh bin ajaib nantinya.
****
TIGA TAHUN KEMUDIAN...
Danish sudah bisa berjalan dan berbicara walau tidak jelas. Tetap tidak buat Rara dan Dennis
mengajak dirinya jalan-jalan.
Karena Rara suka sama fashion Korea sehingga model putranya pun ikut seperti cilik Korea. Dennis
tidak mau kalah juga seperti anaknya. Ia punya beberapa ciri khas jarang pernah diperlihatkan oleh istrinya sendiri.
Dennis juga bisa seperti putranya walau usia bertambah tetap saja ia masih tampan. Rara cuma
bisa menggeleng kepala lihat sikap putra dan ayah tidak ada yang beda.
Yang bikin jengkel adalah Rara kenapa putranya begitu mirip dengan ayahnya yang lahiri
dirinya tapi cuma mata saja yang mirip dengannya. Sungguh tidak adil baginya.
"Kenapa mukamu merengut begitu?" tanya Dennis
"Aku heran sama putra kita. Aku yang lahiri kenapa parasnya mirip denganmu?" jawab
Rara ketus
"Berarti aku memang tampan jadi putraku tetap harus seperti wajahku yang cool
dan..."
"Dan mesum!" sambung Rara
"Mama...!"
Teriak Danish berlari memeluk kedua kakinya. Rara menggendong putranya sedangkan Dennis
membetulkan topi putranya.
TAMAT
__ADS_1