
Masih di kantor Edy, Rara keliling di tempat itu. Semua ramah kepadanya, hingga suatu ketika ia berhenti di salah satu kafe ada di hotel ini.
Kafe ini dengan banyak hidangan lezat dan buat perut lapar. Tanpa rasa ragu ia pun masuk ke dalam, para pekerja senyum ramah kepadanya. Bagaimana tidak, pemilik perhotelan ini milik keluarganya.
"Nona mau pesan apa?" salah satu pelayan yang bekerja di kafe ini menyerahkan panduan beraneka macam menu sajian makanan di sini.
"Mbak, jangan panggil gue, nona. Serasa seperti pemilik pengusaha kaya raya saja. Panggil saja Rara, yang punya gedung ini, kan, Papaku, bukan, gue." celoteh si Rara panjang lebar membuat pelayan ini senyum tipis.
Rara melihat menu makanan, semua aneka makanan barat, di bolak-balik lembaran tebal menu itu, ada yang enak di lidahnya.
"Gue pesan ini, terus ini, sama ini." Pelayan itu mencatat apa yang di inginkan oleh Rara.
Tinggal menunggu makanan datang, di rogoh ponsel dari celana jeans cantiknya. Permainan game GetRich monopoli Line. Memang kegemaran Rara. Beda dengan Ibundanya permainan Dropdom Puzzle.
Sedang asyiknya bermain, seorang pelayan menyambut pengujung di kafe ini.
"Selamat siang, Pak Dennis, ada yang bisa saya bantu?" sambut ramah dan sopan dari pelayan wanita itu.
__ADS_1
"Tidak, saya hanya melihat saja. Kopi hitam tanpa gula satu, dan jangan terlalu kental atau pun encer," ucapnya lalu melangkah masuk ke kafe itu.
Suara permainan game GetRich itu mengundang beberapa pengujung menoleh namun kembali ke pandangan masing-masing.
"Sialan! Please deh, jangan ambil rumah gue!" mengomel si Rara sama ponselnya.
Pria itu yang duduk tidak jauh di mana Rara tempati. Pelayan itu berikan kopi hitam dan beberapa potongan roti di atas meja.
Rara mendengus kasar, ia kalah lagi bermain game itu. Di angkat melirik sekitar kafe ini, memang suasananya harus gelap. Semacam rumah hantu, Rara sih oke saja ya cuma di pagi atau siang hari tetap saja harus terang lebih fresh gitu.
Busyet! gue ketemu lagi itu makhluk planet. Jodoh nih nggak kemana-mana.
Pria itu sedang membaca surat kabar, lalu potongan gigit roti pada mulutnya.
"Hai, Om tiang listrik," sapa suara merdu kayak madu itu membuat pria ini mengarah pandangan di depan dengan sorotan mata menajam.
__ADS_1
Memicing sehingga buat kedua matanya tak terlihat. Tidak buat Rara takut sedikit pun.
"Kenapa mata, Om? Kok makin menepis, kurang insto ya?" Nyerocos Rara buat pria ini membisu tak menghiraukan ocehan cewek remaja ini.
Rara belum putus asa, di comot roti ada di depannya. Pria ini melirik tajam namun tak memperlihatkan kepadanya, terus perhatian tingkahnya benar bikin pria ini kesal dan jengkel.
Anak siapa sih? nggak ada etika sopan santunnya. batin pria ini dalam hati sudah telihat jengkel.
"Mbak! Bawa kesini..." teriak Rara pada pelayan yang membawa pesanan darinya tadi.
Pesanan Rara memang banyak, tetap tubuhnya tidak membuat kulit melar atau segalanya.
"Ini, Om, sebagai gantinya. Tadi gue ambil roti sisanya karena lapar terlalu lama datang pesananku." Sepotong pencuci mulut buah semangka di letakkan atas piring kecil itu.
Belum sampai di sini saja, masih ada lagi pesanan terakhir dari Rara. Es krim jumbo rasa semangka dan jagung di hiasi oleh buah-buahan di atas es krim-nya.
Pria yang duduk di seberang berhadapan ikut menatap porsi jumbo itu. Antara kaget atau shock. Ini cewek monster apa setan sih? batin pria itu.
__ADS_1