I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Rara Kumat lagi


__ADS_3

"Rara pulang ... Mama ... Papa ..." berteriak suara recehan terdengar arah depan pintu sampai ruang tengah.


Pokoknya suara menggema adalah dia-Rara. Dia masuk membawa satu plastik hitam ukuran boleh dibilang lumayan besar. Menenteng plastik itu, sementara pria bersamanya sungguh tersiksa. Kedua tangannya dan kakinya bintik-bintik merah diserang oleh para semut api dipohon itu.


Nella menghampiri putrinya, melihat apa yang dibawa oleh Rara itu sebaliknya Edy ikut mendekat merasa penasaran bukannya mereka sedang jalan-jalan ke taman kenapa pulang bawa sesuatu, jangan bilang anak anjing dibawa pulang sama putrinya.


Soalnya dulu usia delapan tahun juga begitu, asal jalan-jalan ke taman pasti bawaannya anak anjing. Dipelihara bukannya bahagia malah mati ditempat. Kata putrinya anak anjing itu dibegal sama pasukan kucing ada di sebelah rumah.


Diletakkan plastik hitam atas meja, terus Nella membuka ikatannya. Setelah itu, kedua bola mata Nella berbinar.


"Rambutan? Kamu dapat darimana?" Nella bertanya kepada putrinya.


"Nyolong, Ma," jawabnya meneguh minuman ada di tangannya.


"Nyolong?" ulangnya, dia mengakuk, "iya, Rara nyolong rambutan ada di depan taman komplek."


"Maksud kamu rumah Pak Raden?" Nella mencoba menebak, soalnya tidak ada lagi yang memiliki pohon rambutan komplek perumahan ini kalau bukan rumah Pak Raden. Hanya dia yang mempunyai segala pohon buah-buahan.


"Itu Mama tau, tapi tenang saja. Rara sudah minta izin kok sama Pak Raden," jawabnya berdiri dari duduk. Lalu mengambil satu atau dua biji rambutan itu.


Kemudian dia mulai mengupas rambutan menggunakan giginya terbelah dua, dengan satu biji rambutan masuk penuh kemulut manisnya.


Nella mengangkat buah rambutan itu ke atas ranjang sayuran. Dia mulai mengupas dan memasukan ke dalam piring millenium ukuran sedang.


Sedangkan Edy bantu mengolesi minyak merah aromanya bau banget tapi bagus untuk menghilangkan rasa gatal.


"Waaah ... romantisnya. Ingat, Pa, sudah punya Mama jangan coba-coba selingkuh sama Om Oli." Ancam nya tidak dipedulikan sama sekali oleh ayahandanya.


Dennis mengulurkan tangannya panjang tepat di depan Rara posisi berdiri sambil menikmati rambutan. Gadis aneh bin ajaib ini menatap telapak tangan lebar, panjang lalu sekali lagi dia berpindah menatap Dennis.


Dennis malah menatapnya tajam, Rara malah cuek memilih mengupas rambutan dengan gigitan sekali. Edy selesai mengobatinya, giliran dia mengambil rambutan di tangan putrinya.


"Iihh... Papa itu punya Rara! Kalau mau, itu di dapur banyak!" ngomel si Rara merengut.

__ADS_1


"Huh, dasar pelit!" Di kembalikan rambutan belum apa-apainnya.


Rara duduk di sebelahnya Dennis, pria itu tengah mengoles minyak bagian lengannya.


"Om, mau?" tawarnya


Baru juga akan raih rambutan itu, eh, malah di tarik kembali sama gadis kurang asem ini. Masih diperhatikan sikap konyol gadis remaja depan matanya itu.


Ketika Rara sedang mengupas kan kulit rambutan dari tubuhnya terbelah itu. Dorongan apalagi buat pria itu gemas lihat sikap absurd nya. Dia tidak peduli disebut pria mesum.


Kedua mata besar bulat milik Rara lompat keluar. Dennis berhasil menyomot rambutan dari mulutnya itu.


"Manis, sangat manis malahan." gombalnya, gadis yang duduk bersebelahan dengan pria bermata sipit itu tidak berkutik sama sekali.


"OM MESUM!" teriaknya tiba-tiba hingga buat Dennis tersedak biji rambutan itu.


"Mesum apaan! Mesum sama calon istri sendiri juga." balasnya berteriak.


Rara kembali terdiam, Hah? Calon istri? Eh... yang benar?


Plak!


"Aduuh!" di elus-elus tangannya sendiri dapat pukulan kecil dari istrinya.


"Satu saja, ya, boleh?" Mohonnya, "Nggak boleh." Ditekankan sekali lagi.


"Huh, anak sama emak nggak ada bedanya, benar pelit," gumamnya, hanya satu tatapan kilat menusuk ke hati, Edy cengiran.


Hari sudah malam empat manusia tengah duduk belakang rumah sambil menikmati rambutan telah diasinkan pakai garam. Rasanya jauh lebih enak menghindari panas dalam.


"Pa, Rara mau tanya." bersuara dia pertama kali dari malam kesunyian.


"Ya, tanya saja," ucap Edy

__ADS_1


"Kenapa Papa bisa menikah dengan Mama? Bukannya usia Papa sama Mama itu jauh banget ya? Seperti Bumi ke Neptunus. Seberapa sih perjuangan Papa bisa dapatkan cintanya Mama?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontar kan dari mulut manis absurd gadis remaja ini.


"Karena cinta dong, sayang. Dulu Mama  tidak bedanya dengan sikap kamu sekarang ini, ceplas-ceplos. Terus awalnya Papa cuek saja, Lama-lama sikap barbar nya Mama-mu makin bikin pikiran Papa kacau balau," jawabnya


Kemudian menceritakan semua awal hingga akhir pertemuan tanpa di sengaja ketika pernikahan adik kesayangannya itu. Semua berawal kisah keindahan dan menunggu selama dua tahun mendapatkan kembali cinta dari gadis barbarnya.


Rara menyimak sampai semangat senyum-senyum sendiri bisa membayangi bagaimana sikap barbarnya sang Ibundanya. Dia pun merasakan bagaimana kalau pria bermata sipit itu sama hal dengan kisah cinta seperti keluarganya.


Rara sih paling suka jaili pria bermata sipit. Namanya Dennis Lawendra Lee, tapi dia lebih menyukai panggilan Om Oli. Meskipun awal mulanya pria itu cuek banget. Tapi lama kelamaan sikapnya mulai memunculkan paling gila tidak pernah gadis itu bayangkan.


"Kalau begitu, Rara juga deh mau kawin sama Om Oli. Biar bisa hamil kayak mama dulu!" ceplosnya tanpa memikirkan dulu.


Dennis yang tengah mengunyah rambutan biji masih ada didalam mulut kembali tersedak sehingga dia sulit untuk bernafas jakun miliknya sudah cukup sekarang biji rambutan.


Buk!


Keluar satu biji rambutan ukuran seperti kulit kacang. Dennis lega luar biasa, Rara memukul belakang pundaknya. Kalau nggak di tangani secepatnya nyawa Dennis taruhannya.


"Om, kalau biji rambutan ini nggak bisa di telan. Seharusnya telan dagingnya. Untung masih bisa selamat, kalau kasihan jiwa Rara  dilema," ceplosnya lagi.


Dennis tidak menanggapi, dia memilih untuk kedapur ambil minuman. Rara mengekorinya minta jawaban dari pria tinggi bermata sipit itu. Kalau kedua orang tuanya tentu sudah setuju hubungan ini.


"Om, mau, kan kawin sama Rara? Kawin itu nggak butuh lama, semacam Giro kliring!"  bersuaranya lagi.


Dennis masih diam menahan godaan atau pun pancingan dari gadis barbarnya. Terus Edy dan Nella tidak ikut campur urusan mereka.


"Kira-kira mereka bakalan bertahan berapa lama?" Edy bertanya kepada istrinya.


"Tergantung, kalau bisa selamanya. Apa Papa yakin nggak secepat itu putri kita menikah di usia masih belia? Nggak tunggu usianya 20 tahun?" jawabnya dan kembali bertanya kepada suaminya itu.


Edy pikirnya sih begitu, cuma dia takut nanti Dennis berubah pikiran dan kembali berhubungan dengan Laura.


"Apa tunangan saja dulu mereka berdua?" usulnya meminta pendapat dari Nella.

__ADS_1


"Hmm... Boleh juga." Nella sih setuju-setuju saja.


Sekarang ini dua sepasang absurd sedang berargumentasi. Rara masih berjuang agar Dennis merespons dirinya. Sudah ke lima kalinya dia mencium pipi lebar milik pria bermata sipit itu.


__ADS_2