
Sudah dua hari tak terasa Didi dan Dina menginap dirumah sahabat absurd ini. Pasangan aneh itu semakin hari dekat dan aneh saja, ada saja tingkah konyol dari mereka. Dennis yang menonjolkan kemesuman nya sedangkan Rara menonjolkan manjanya minta di gendonglah, nyanyikanlah segalanya ada saja.
Edy dan Nella sudah sepakat akan beritahukan kepada dua pasangan aneh itu. Sekarang mereka sudah berkumpul di ruang tengah. Marcello kemana kenapa dia tidak ikut hadir?
Kalau soal cowok playboy itu jangan di tanyakan lagi kemana pergi fisiknya. Sedang bersemedi alam luar neraka karena gadis tomboi itu sedang mengejar dambaan hatinya. Karma apa yang di dapat oleh cowok playboy itu sih harus ketemu gadis tomboi tapi aneh banget tak ketolong.
"Rara, Papa sama Mama mau membahas pernikahan kalian. Mungkin Om Lee sudah siap dan matang akan menikahimu. Kamu sudah tahu jika telah resmi menjadi istri? Harus sedikit mengubah sikap anehmu dan lebih dewasa. Setelah menikah nanti Papa sama Mama sudah beli tiket honeymoon untuk kalian berdua. Tiket ini untuk kalian tugas penting berikan cucu untuk kami," ucap Edy menjelaskan panjang lebar sebagai kepala. keluarga terhormat tentu harus dilakukan sebaik mungkin.
Rara mengambil tiket panjang diperhatikan tanggal keberangkatan mereka. Mulutnya terbuka lebar menarik napas panjang.
"WHAT??? Satu bulan? Gila Pa, honeymoon satu bulan ngapain saja? Masa belah semangka terus sih? Kasihan Om Oli nggak berbentuk gajahnya!" Ceplos lagi si Rara. Buat ketiga manusia dewasa ingin benturi jidatnya ke pintu.
"Papa kasih sebulan sudah harus bersyukur daripada satu minggu kapan kalian bisa kasih Papa-cucu?" kata Edy ngotot banget pengin nimang cucu.
"Ya, kan... itu..." Rara menelan air ludahnya susah banget membayangkan bagaimana di gulat sama calon suaminya. Itu mata elangnya sudah bertingkah aneh.
"Apa lihat - lihat!" Ketus Rara menutup dengan kedua tangan tanda silang (X) dia meninggalkan tempat itu meletakkan kembali tiket honeymoon. Senyuman merekah di balik bibir tipis seksi pria bermata sipit itu.
Gadis itu bersembunyi malu nya itu tidak tertolong. Benar panas itu mukanya bayangi lakukan belahan teriakan pun lelah.
"Apa yang kamu lakukan?" Suara rentan terdengar
__ADS_1
"Om Oli kenapa masuk! Rara belum pakai baju!" Padahal dia pakai lengkap hanya di tutup selimut saja.
Dennis mengangkat satu alis, kejailan mulai bangkit. "Loh kenapa? sebentar lagi kita menikah?"
"Panas Om! Jadi Rara buka baju!" Jujurnya itu gadis aneh ini.
Dennis mendekat makin maju menarik selimut tebal dari persembunyian gadis aneh itu. Makin suka pria ini kalau permainan anak-anak dimulai saja.
"Aaaa.... Om!" teriak Rara buat yang diluar tidak mendengar.. Dennis menyelip masuk kedalam selimut tebal milik gadis aneh ini.
Sekarang sudah terperangkap berdua didalam selimut main sempit-sempitan itu bukan hal biasa bagi pria tinggi bermata sipit. Pantasan Dennis menjauhi Laura tidak tunjukkan sifat asli mesumnya. Hanya tertuju pada gadis ABG ini saja dia berani semakin dikeluarkan semua sifat aslinya gemas rasanya ingin melunaskannya.
"Katanya panas, mumpung hati Om lagi dingin, perlu pelukanmu," manjanya melingkar dan memeluk tubuh mungil itu.
"Om..."
"Hmm..."
"Jantung Rara..."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Jantung Rara mau lompat keluar!"
"Nggak akan keluar sudah diikat sama jantungku."
"Om sakit ya?"
"Nggak..."
Dennis masih memeluknya, di tahu kalau gadis ABG ini sedang panas dingin. Namun lama kelamaan terkadang juga rasa panas menjadi hangat. Ah romantisnya.
"Om mau buat anak berapa?"
"Berapa saja juga boleh, asal kamu kuat mainnya."
"Iih... aku serius!"
Dennis melepas pelukan ditatap lekat-lekat dua bola mata warna hitam pekat.
"Kalau kamu penasaran, lakukan sekarang juga boleh." Senyum manis membahana dari Dennis
"Lakukan apa?" tanyanya, Dennis membisikan di telinganya. Langsung merah kedua telinganya.
__ADS_1
"Nggak mau! Kita..."
Dicium langsung nggak ada tolak menolak lagi untuk gadis aneh itu. Bilang saja Rara pengen minta di cium malu kucing tapi mau juga.