
Saat ini Rara dan Dennis berada di sebuah mall. Mall yang besar di kota Jakarta. Ketika mereka masuk para mata - mata mencuri perhatian kepada seseorang bukan gadis cebol yang tengah beriringan jalan bersama sosok tinggi itu.
Mereka tengah mencuri perhatian kepada Dennis. Karena pria tinggi bermata sipit itu mengganti pakaian kantor menjadi sedikit berbeda. Kaus lengan panjang. Membuat tubuh tercetak di kaus itu. Sebaliknya si Rara tetap memakai pakaian pagi hingga sekarang.
Untung saja Dennis tipe cuek banget, tapi tetap saja secuek apa pun dia, bikin para dayang-dayang ada di mall ini kesemsem sama wajahnya.
Tepat di salah satu pakaian yang terlihat bermerek dan elegan banget. Gadis itu masuk ke dalam melihat-lihat dan mencari sesuatu yang bisa di jadikan hadiah ulang tahun temannya.
Rara mendapatkan baju tertarik sama kedua matanya itu. Di ambil terus Dennis tengah melihat ponsel. Sibuk dengan ponsel lebih nyaman.
Gadis aneh ini mengarahkan baju kaus polos menyesuaikan dengan sosok pria yang berada di depannya itu.
"Nggak cocok, kalau yang ini ... hmm... nggak juga .... ini ...." senyuman tertahan oleh Rara saat menunjukan ke tubuhnya Dennis.
Dennis memasukkan ponselnya ke saku celana jeansnya terus memperhatikan gadis aneh ini senyum tertahan. Barulah dia melihat kiri kanan belakang samping tidak ada siapapun lantas apa yang lucu.
****
"Sorry, Om... Ih... marah ya? Gue kan nggak sengaja. Habis dari tadi di cuekin mulu, tapi benar deh, cocok kalau Om pakai itu..." terbayang-bayang lagi si Rara.
Dicekal lengan Dennis, buat dirinya semakin kesal saja.
"Duduk di sana dulu, yuk! kayaknya enak." Ajaknya menghampiri sebuah penjualan es krim. Banyak rasa apalagi warna warni.
Terus banyak yang antre, Rara dan Dennis berdiri ikut mengantre, para cewek-cewek berdiri tak jauh dari posisi mereka. Ada bisik-bisikan panas di telinga Rara.
__ADS_1
Sekarang giliran mereka, Dennis nggak ada kerjaan lain apa lihat ponsel mulu, buat gadis aneh ini kesal lama-lama. Kedua mata pria tinggi bermata sipit itu tajam.
"Ponselnya Rara sikta dulu, dari tadi lihat ponsel mulu. Cemburu nih, Om! Lihat muka Rara saja, pasti makin doyan," senyumnya memang manis tapi nyebelin. batin si Dennis.
"Om, suka rasa apa?" Rara bertanya kepada Dennis
"Semangka," jawabnya
Rara mulai menunjukan rasa yang di inginkan itu. Setelah di berikan selembar uang merah kepada penjualnya. Dennis mengambil es krim yang sesuai rasa dia mau. Sambil jalan-jalan lihat - lihat. Mereka pun duduk di dekat trotoar menikmati es krim itu.
"Hem... enak banget rasanya benar pas," gumam si Rara
Dennis memilih menikmati es krim tanpa bersuara. Sementara ponselnya di sikta sama gadis aneh ini, dia pun memilih melirik sekitar mall ini.
"Soal duren, jadi teringat sesuatu," gumamnya lagi. Dennis masih belum merespon
Tak ada tanggapan, Rara jadi kebiasaan sama sikap cuek pria tinggi bermata sipit.
"Om, Rara mau tanya, apa itu belah durian?" pertanyaan pertama terlontar keluar dari mulut manis Bebek itu.
"Ukhuk... Ukhuk...!" Dennis tersedak sama kulit es krim nya.
"Memang belah durian itu sakit, ya, Om?" Masih di pertanyakan lagi.
Dennis benaran ini tenggorokannya sakit banget tertusuk sama roti kering.
__ADS_1
"Pertanyaan apaan itu?!" sergah Dennis lega saat menekuk minuman untuk ringankan tenggorokannya.
"Ya, kan, Gue tanya! Soalnya setiap Papa dan Mama mesraan. Papa selalu bilang lagi Belah Duren. Terus kata Mama bilang nanti usia dua puluh tahun baru mengerti apa itu belah duren. Memang Belah duren itu apaan sih? Bukannya belah duren itu saat buka terus langsung makan sama isinya, betulkan, Om?" Jelasnya kepada Dennis.
"Iya, benar..." sambungnya.
"Tapi, masa... Jangan - jangan..." Rara memperhatikan tubuh Dennis dari atas ke bawah.
Dennis semakin mengeriding horor sama tatapan mata gadis aneh bin ajaib ini. Di tutup tubuhnya,
"Apa yang kamu lihat?" ucapnya pelan-pelan.
"Rara sudah tahu... sini deh, Om!"
Rara membisikan di telinga Dennis, kedua matanya melebar dan mematung seketika.
"Benarkan! Nah, kita lakuin, yuk!" usilnya.
Dennis menelan air ludahnya sendiri, dan sepertinya sesuatu ganjil pada dirinya.
"Kamu gila! Bisa-bisa aku di gorok sama Papa-mu! Tidak!" bangkitnya dari sana.
"Lah, Om, jangan kasih tau ke Papa loh. Kan kita lakuinya kan di hotel bukan di rumah!" Di kejarnya pria tinggi itu.
Sekitar tempat ada di mall ini memperhatikan perdebatan dua pasangan aneh itu. Rara tidak peduli dengan sudut pandangan orang lain. Masalahnya itu Dennis mukanya malu-maluin.
__ADS_1
Please deh! singkirkan kata-kata tak lazim itu! Eeeddyy ... help me!