I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Rara in Action


__ADS_3

Beebbrrr... dinginnya... Rara keluar dari kamar mandi, serasa menggigil seluruh kulit hingga tulang dan sendi-sendinya. Hari ini cuacanya benar dingin banget.



Seharian hujan tanpa berhenti, tidak merasa sayang dengan airnya terus menumpangkan semua di alam permukaan bumi ini.



"grrrtt... grrrtt..." suara gigi mengetar tahan rasa suhu mencengkam ini.



"Rara... kenapa gigimu?" tanya Nella pada putri satu - satunya.



"Gggrrtt... nggak tau nih, Ma. Kenapa dengan gigi Rara? Dari tadi nggak mau diam," jawabnya mengetarkan rahang giginya.



"Kedinginan, Ra? Itu makanya sok kuat sudah tau nggak tahan air dingin masih mau coba-coba," ejek si Marcello abang sepupu sialan banget.



Rara melototinya hingga ke bawah keberadaan Marcello tengah turun anak tangga.



"Jadi kamu mandi pakai air dingin?" Nella bertanya lagi. Rara hanya bisa mengangguk kepala saja, kalau gunakan bibir yang ada  getaran giginya bersuara.



"Kamu ini, sudah tau nggak tahan bisa pakai air dingin masih juga nyoba. Sekarang lihat, menggigil begini, kan, tunggu di ruang tamu. Mama masak air hangat." Nella pun turun kemudian ke dapur memasak air untuk putrinya.



Rara ingin melangkah kakinya saja sudah kayak nenek-nenek.



Klik.



Keluar si Edy - sang ayahanda si penyelamat datang. Rara menoleh merasa terharu.


__ADS_1


"Pa... gendong Rara turun sampai ke bawah." Permintaan darinya.



"Loh, memang kenapa?" tanya Edy bingung



"Lemas kaki Rara, kedinginan habis mandi air es," jawabnya sudah melebarkan kedua tangan ke udara bersiap untuk di gendong.


Edy pun mengiyakan, di gendongnya si putri manja ini. Saat di sentuh kulitnya, kayak es batu dingin banget. Ini putrinya manusia normal atau putri salju sih.



Ternyata di ruang tengah ada tamu, siapa lagi coba, Dennis. Rara menjuluki si Om Oli atau tiang listrik.



Tanpa ada rasa malu Edy menurunkan putrinya dari gendongan belakang, Dennis menoleh sebentar, mengangkat satu alis.



"Pagi, Om Oli.... tumben datang ke sini. Kangen sama Rara, ya?" jadi semangat delapan enam si Rara.




Drrtt...



Terkejut Dennis pada saat Rara tidak sengaja menyentuh lengannya. Rara pun ikut kaget dengan reaksi pria itu.



"Kenapa sih, Om? Kok, terkejut begitu? Memang Rara setan ya?" tanyanya bingung sendiri.



"Nggak..." jawabnya singkat



"Terus... kok pakai hindar Rara sih? Ah... pasti kesetrum ya?" tebaknya asal.


__ADS_1


Dennis tidak menanggapi tetap fokus sama ponselnya. Entah etika dari mana Rara malah mengambil ponsel dari tangannya.



Ini anak!



"Waah... bagus banget..." seru Rara lihat pemandangan bunga sakura terus di gesernya lagi, lagi, dan lagi.



"Ini juga, bagus, salju... Om, mau ke sini ya? Rara ikut, ya!" liriknya ujung jari menunjukan layar ponselnya itu. Dennis merampas ponselnya itu dari tangannya.



Rara yang ceria kembali redup kesal, sebal saja sama sikap pria cuek ini. Entah dorongan dari mana yang di dapat oleh gadis aneh itu. Dennis yang lagi sibuk, kedua mata yang menyipit menjadi lebar selebarnya hingga membatu dan rasanya itu dingin kayak es batu.



"Rara!" teguran dari belakang, Edy ada di sana tak jauh di mana Rara tengah mencium pipi Dennis secara tiba - tiba.



"Ihh... Papa, nggak bisa kasih Rara senang sedikit." Cemberutnya menciut.



"Kamu ini..."



"Papa sama Mama dulu juga gitu. Iya, kan, Ma..." Kedua bola mata Rara tertuju pada sosok wanita yang berumur tiga puluh namun parasnya masih tetap manis dan cantik. Nella senyum dan mengangguk pelan.



Sementara pria dewasa bisanya menghembus napas panjang. Dennis juga tau sifat dari istrinya Edy. Edy dan Dennis adalah sahabat baik di masa kuliah mereka dulu. Setiap hari keluh kesah dari Edy selalu mencurahkan kepada Dennis.



Edy mengharapkan suatu hari putrinya tidak setara dengan sifat istri barbar nya itu. Bagaimana kehidupan selanjutnya yang akan di alami oleh Rara yang telah berani mencium pipi Dennis tanpa seizinnya. Apa masa lalu dari Edy dan Nella akan turun ke putrinya?




__ADS_1



__ADS_2