I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Pancingan


__ADS_3

"Ayolah, Ra. Masa kamu nggak mau sih nyicil dulu. Kasihan loh Om Dennis menunggu daripada hari H kelamaan keburu dicantol sama yang lain. Hayo, mau pilih mana? Mantannya masih di Indonesia loh," membeo si Marcello bersikeras bujuk adik sepupunya untuk lakuin akal gilanya itu.


"Nggak mau! Kata Mama Papa menikah secara resmi menjadi suami istri baru boleh lakuin hal belah durian. Kalau nyicil kayaknya nggak oke banget deh, Bang?" tolaknya si Rara tetap kekeh tidak akan melakukan sampai benar Om Oli jadi suami sebenarnya di depan mata hukum secara sah.


"Eh, jangan salah loh. Waktu Mama Papa kamu sebelum menikah keduluan belah durian baru deh mereka nyicil perlahan-lahan," sambung Marcello masih ngotot membujuk.


"Siapa bilang? Jangan asal ya, Bang! Kalau nggak Abang deh belah durian sama Om Oli. Biar Rara lihat seberapa mesra Abang dengan Om Oli," balasnya ceplas ceplos nggak mikir dulu. Itu mulut macam kereta api saja.


Marcello terkatup diam untuk menjawab, "Aku masih normal, enak saja belah durian sama Om Dennis. Apa kata tetangga nanti seorang pewaris property keluarga Kusuma kehilangan martabat jatuh karena telah berhubungan dengan sesama jenis!" serunya kembali membuka televisinya.


"Situ sadar sendiri, makanya jangan desak orang. Bilang saja Abang kebelet pengen kawin jadinya cari tumbal, abang pikir Rara begok apa dengan otak pendek itu!" ujarnya beranjak meninggalkan tempat itu keburu di lempar bantal sofa.


Sementara Dennis sibuk dengan ponselnya sendiri duduk di tempat kursi panjang besi bercat warna hitam putih itu. Es krim alice rasa semangka kesukaannya tidak pernah dilupakan.


Serius banget dia menonton sebuah video itu. Entah video apa yang pasti itu komedi, gadis remaja itu ikut bergabung duduk di sebelahnya. Sambil curi lirikan apa yang di tonton oleh calon suaminya.


Dennis ingin melanjutkan es krimnya, terkejut lenyap sisa es itu di tangkai tersebut. Sudut mata dengan ekor matanya menatap gadis remaja **** kedua pipi menikmati es krim semangka dari calon suaminya itu.


"Ini, nggak perlu lihat muka Rara, Om. Aku tahu calon istri Om ini cantik, manis, dan imut kalah sama bunga ada di taman ini!" Dia berikan es krim sebagai ganti miliknya tadi.


Di bantu bukakan bungkusan, tapi kali ini rasanya bukan semangka lagi, tapi durian.

__ADS_1


"Om, suka durian, kan?" tanyanya basa-basi.


"Suka banget, apalagi kalau belah durian lebih mantap lagi," jawabnya langsung.


"Om, pernah makan durian benaran nggak?" tanyanya lagi alihkan topik pembahasan tapi tetap soal tentang durian.


"Pernah, waktu Papa kamu bawa durian sudah terbuka dari cangkang tubuhnya," jawab Dennis cepat.


"Kalau buka langsung dari cangkang kulit tubuhnya, sudah pernah?"


"Belum, memang kamu pernah?" Dennis kembali bertanya.


"Kalau aku bantu bukakan, kamu mau?"


"Boleh saja, memang Om kuat bukanya? Nanti capek loh." jawabnya.


"Kuat kok, buka dirimu saja Om sanggup, mau coba, biar kita lakukan sekarang!"


"Ayo... Eh... tunggu, Om mau ngapain?"


Rara berhenti tiba-tiba memainkan ponselnya, Dennis bersiap menggendong tubuh mungil calon istrinya. Pria itu tidak menjawab malah memilih membawa dia masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Marcello yang serius menonton film laga action dari Jackie Chan, suara teriakan dari lantai dua itu terdengar sampai volume televisi kalah dengan suara gadis aneh bin ajaib itu.


"Om mau ngapain? Kok buka baju?" tanyanya


"...."


"Aw! Sakit Om! Kok gigit sih!" 


"Makanya jangan lasak, diam!"


"Sakit Om, pelan-pelan!" 


"Ini juga pelan-pelan! Sudah bawel jangan teriak-teriak!"


Suara bagai petir recehan terguncang hebat didalam rumah minimalis bertingkat dua setengah lantai itu. Nella dan Edy sedang berada di kolam renang lagi mandi berduaan. Marcello malah senyam senyum mendengar teriakan dikamar itu.


"Ahhh... Om! Sakit!" 


"Ssstt...!"


"Aakh!"

__ADS_1


__ADS_2