
Perjalanan pulang, Rara dan Dennis mampir sebuah toko sepatu. Sepatu seadanya, tapi yang di beli bukan sepatu tutup malahan sandal jepit Swallow.
"Huh! Sebel!" gerutu si Rara, sambil menghentakkan kaki karena kesal sama Dennis.
Dennis mengikuti gadis aneh nauzubillah dari belakang menggaruk kepala tidak terasa gatal itu.
"Ini semua gara-gara, Om Oli! Kalau saja tadi nggak menghilang, Gue, kan, sudah menikmati segala hidangan di sana!" ngomelnya menyalahkan Dennis.
Dennis tidak menanggapi omelan kepada gadis aneh ini. Soalnya dia juga lagi banyak pikiran jadi perlu tenang diri dari keramaian.
"Om!" Panggilnya, menoleh dengan tatapan cemberut.
Dennis mendadak berhenti hampir saja menabrak tubuh kecilnya. Dia menunduk menatap wajah gadis remaja ini, ada sedikit aneh di dalam dirinya sendiri.
"Lapar..." gumamnya lesu.
Dennis baru saja mau mencium bibir gadis ini, entah ada gejolak apa ingin mencium bibir manis itu.
__ADS_1
Rara mendengus - dengus seperti tercium sesuatu yang enak banget di hidungnya. Dia pun melirik arah aroma sedap itu. Sebuah gerobak penuh gempulan asap tebal.
"Wahh... ada sate...!" serunya.
Tanpa pikir panjang lagi Rara pun menyebrang, tidak melirik kiri kanan jalanan apakah ada mobil atau kendaraan lain lewat di sana.
Tiiiinnn Tiiiinnn
Giiiiiihhh
"Woi...! Nyebrang lihat-lihat!" teriak orang itu yang lewat mengendarai sepeda motor.
Ya ampun... hampir saja gue mati di sini. Selamat lagi, gue... Oh my lord, elo benar sayang banget sih sama gue. Sampai di selamati lagi sama pujaan hati gue. Ceroboh banget sih, elo, Rara!
"Hei, Ra...!" Dennis menepuk kedua pipi Rara masih dalam keadaan terpaku diam membatu.
"Ah... Ya! Gue masih hidup, kan, Om? Apa gue sudah di surga? Kok Om ada di sini? Om juga sama-sama mati, ya?" Pertanyaan demi pertanyaan dari Rara buat Dennis bingung sendiri.
__ADS_1
Dicubit hidung mungilnya gadis aneh nauzubillah itu, sontak Rara terpekik sakit akan cubitan dari pria tinggi bermata sipit ini.
"Auw! Sakit, Om! Kok, di cubit sih!" Celetuknya mengusap hidung berdenyut - denyut.
Dennis tertawa lepas, "Buat apa, aku ikut kamu mati bersama! Tidak ada untungnya... Ada saja!"
"Kok tertawain, sih! Kan, Rara cuma tanya doang. Mana tau benaran nggak apa-apa, malahan. Biar bisa mesraan terus sama Om Oli," balasnya masih bisa menggombal, tadi bikin jantungan mendadak copot, lah.
Pria bermata sipit langsung berubah ekspresi datar, dia tidak sadar mulai sejak kapan tertawa. Dia kembali memperhatikan gadis remaja di hadapannya itu, tengah melirik kiri kanan, untuk bersiap menyebrangi jalan ke tempat jualan sate gerobak itu.
Semakin lama dia perhatikan sosok gadis itu, ada gejolak aneh menyelimuti nya. Setiap hari kehadiran sosok keanehan dari gadis aneh bin ajaib ini mengundang seribu pertanyaan pada dirinya sendiri.
Perilaku darinya itu benar tidak tersadarkan olehnya sendiri, cara bicaranya benar tidak di pikirkan lebih dulu, sementara Laura, wanita yang pernah mengisi hati kepadanya. Hampa, tak ada rasa secuek apa pun hidupnya si Dennis tidak membuat gadis aneh nauzubillah ini bosan. Pasti ada saja kehidupan berwarna.
"OOOMM OLIII...!!!" teriak Rara dari seberang melambaikan tangannya tinggi-tinggi.
Dennis masih belum sadar dari jiwa sebenarnya, tatapan sosok gadis remaja tengah meneriakinya untuk segera menyebrang.
__ADS_1
Apa aku sudah mulai jatuh hati pada gadis aneh itu?