
Belum juga berakhir perdebatan antara pria tinggi bermata sipit dan gadis cebol putih susu itu. Di parkiran basemen pun bisa ribut soal ide konyol dari gadis aneh bin ajaib, pria tinggi bermata sipit terheran kenapa bisa bertemu dengan gadis remaja apalagi dia adalah putri dari sahabat baiknya.
Dia juga mengharap suatu saat tidak akan bertemu dengan sifat aneh seperti istrinya sang sahabat itu. Tapi, dunianya tidak mendukung ataupun mengabulkan permintaan doa darinya. Malahan dia di haruskan untuk bertemu gadis remaja aneh bin ajaib dan nauzubillah segala mantra dari agama lain keluar dalam dirinya.
"Tidak! Aku hilang NO AND NO!" Akhirnya Dennis membentak gadis remaja yang tengah berdiri di belakangnya saat ini.
Rara terpaku diam setelah mendengar sebuah bentakkan dari pria tinggi bermata sipit itu. Dari tatapan kedua matanya jelas terlihat jengkel terhadap dirinya.
"Ya sudah, kalau Om nggak mau... Gue bisa cari yang lain ... Om, boleh pulang sana, jangan ganggu. Kalau Papa tanya gue kemana, bilang saja lagi berhura-hura ria, Bye!"
Dia pun beranjak meninggalkan tempat basemen itu tanpa memedulikan lagi si pria tinggi bermata sipit itu. Dennis yang mendengar secara langsung menghentikan gadis remaja yang siap masuk ke dalam lift.
"Ada apa lagi? Katanya nggak mau? Sekarang berubah pikiran? Atau cuma pura-pura? Kalau pun pura-pura mending nggak ...."
Rara tercekat sangat hebat, posisi yang tidak mendukung untuk menghindar. Pria tinggi bermata sipit ini sudah gila. Dia telah buat anak orang terdiam tidak dapat berkata apa pun.
__ADS_1
****
Di dalam mobil Rara masih membisu apalagi Dennis fokus dengan pengemudinya di depan.
Bodoh! Apa yang kamu lakukan sih, Lee? Itu putri dari sahabatmu, benar-benar otak iblis! Sekarang dia diam, bagaimana ini kalau sampai dia lapor ke Papanya?
Pikiran terus berputar - putar menanyakan tingkah aneh dari gadis remaja ada di sampingnya. Masih membisu si Rara.
*Gue nggak sedang bermimpi, kan? Ini benar nyata, kan? Tadi itu apaan?*Oh my lord... setiap hari gue lihat Papa dan Mama lakuin begitu juga tepat di depan mataku. Tapi, tapi, ini... Yang benar saja ini tanda apa dong! Jantung gue, ya lord...
Rara memekik pada diri sendiri, dia pun heran dengan apa di lakukan oleh Dennis tadi. Sampai di hotel berbintang lima, masing-masing dengan pikiran sendiri, tidak ada satu pun untuk turun lebih dulu dari mobil ini.
"APA!!!" teriaknya tiba-tiba buat Dennis terperanjat kaget.
Dia melirik gadis remaja memperhatikan ponselnya jarak dekat, terperangah dan kedua bola matanya melebar. Lalu dia pun menoleh ke samping membuat Dennis menatap horor ekspresi dari gadis aneh ini.
__ADS_1
"PAAAPPAAA...!!!"
Dennis menutup telinganya suara petir memecahkan telinganya itu. Getaran hebat dari luar setempat ikut terkejut mendengar teriakan di sana.
Rara melangkah begitu cepat sambil menarik lengan Dennis. Di dalam lobi semua memperhatikan dua manusia itu tergesa-gesa masuk ke ruangan pemilik perusahaan hotel ini.
"Papa, Rara punya kabar penting!" teriaknya, kebiasaan tidak pernah berubah.
Selalu saja menganggu kemesraan pasangan dewasa ini. Untung posisi masih lengkap hanya mesraan saling sentuh menyentuh.
"Tuman!" gumam Edy pelan,
"Papa, Rara sudah ternoda nih!" serunya membuat Edy, Nella dan Dennis terpaku diam apa yang di dengar oleh gadis remaja itu.
"Ternoda? Apa yang ternoda? Lee maksudnya?" Edy menatap arah Dennis, Dennis mengedik bahu.
__ADS_1
"Pokoknya Rara sudah ternoda sama Om Oli! Rara sudah nggak perawan lagi...!" ucapnya histeris suaranya itu nggak bisa di kecilkan.
"APA!!!"