I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Gadis yang paling Aneh


__ADS_3

Telah menjelang sore, waktunya untuk pulang kerja. Rara masih setia di ruangan Dennis sambil main angry bird laptop milik pria bermata sipit itu.


Dennis masuk dan melihat gadis aneh ini kenapa bisa sembarangan buka laptopnya. Tahu dari mana kata sandi miliknya setauku dia belum beri izin untuk menggunakannya.


"Kamu ..."


"Om, sebentar tanggung sudah mau menang..."


Dennis mematikan laptopnya di masukan ke dalam tas tersebut. Rara menciut bibir digembung kan kedua pipinya.


"Dasar pelit!" bangun dari tempat duduk nya, lalu dia melangkah lewati posisi Dennis tengah merapikan berkas-berkasnya.


"Kamu..."


Rara kembali mengambil laptop miliknya dari tas tersegel tadi, bermain kejar-kejaran bukanlah kebiasaan Dennis. Namun sikap absurd nya Rara bikin Dennis ingin menangkapnya terus mengikat dia agar tidak berkeliaran.


Ceklek!


"Lee, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ...."


Kata-kata terputus, sesuatu bikin wajah Edy terpaku mematung. Posisi kini bukan main-main.

__ADS_1


****


Di ruangan tertutup, Dennis duduk berhadapan dengan sahabatnya yang sedang serius banget. Firasat mengatakan dia akan di sidang habis-habisan oleh pemilik perusahaan ini.


Kejadian tadi barusan sebenarnya tidak terjadi apa-apa hanya kecelakaan ketika ingin menghentikan permainan konyol dari gadis aneh itu tengah duduk sambil bermain game Angry Bird.


"Aku dengar gosip beredar di seluruh gedung ini. Semalam putriku tidur di tempatmu?" Edy mulai bertanya soal kejadian kemarin dulu.


"Iya, begitulah. Aku juga sudah katakan kepadanya, tapi..."


"Tapi dia ngotot ingin nginap di tempatmu? Dia tidak melakukan hal aneh terhadapmu, kan?" potong Edy melanjutkan.


Dennis tidak menanggapi, sulit menjawab. Edy masih memikirkan untuk berikan pertanyaan lain lagi.


"Are you Crazy?" sergahnya kemudian.


"Tidak ada salahnya, kan? Kalau kamu jadi menantuku, mungkin bagus. Usiamu dengan usiaku cukup jauh beda tipis," ucap Edy menyetujui hubungan putrinya dengan Dennis.


"Yeee.... aku menang!" teriak Rara.


Rara menghampiri kedua pria dewasa ini, lalu menyerahkan laptop kepada Dennis.

__ADS_1


"Pa, Om Oli boleh kan tinggal di rumah kita?" pertanyaan itu kembali berulang menanyakan hal kepada Edy


"Tentu boleh," jawabnya


"Asyikk!" di peluknya pria tua itu. Sedangkan Edy senyum kemenangan menatap Dennis terus memutarkan kedua bola matanya.


****


Perjalanan pulang, seperti yang di inginkan, akhirnya Dennis menginap di rumah Paman dari sahabatnya itu. Tidak lain adalah Edy Susanto Kusuma.


Kalau bukan karena dirinya adalah keponakan dari sahabat Pamannya. Mungkin dia memilih untuk pergi jauh selamanya.


Tingkah absurd gadis remaja ini benar mencekik kehidupannya. Selanjutnya apalagi yang di lakukan oleh Rara setelah dia setuju menginap di rumah paman dari sahabatnya itu.


"Sini, Om! Rara tunjukin kamarnya. Pokoknya nanti pas tidur, bisa saling adu domba tanduk." Rara memegang tangan besar pria tinggi bermata sipit itu.


Tak di sadarkah gadis ini lakukan terhadap pria dewasa. Dennis merasa aneh pada jiwanya. Sentuhan pada gadis itu benar berdesir-desir hebat ada aliran listrik menyengat seluruh urat-urat sendi-sendi dalam tubuhnya.


"Ini kamar, Om. Biasanya Kak Marcello tidur di sini. Karena Kak Marcello sudah merantau kuliah di Jerman. Jadinya kamar ini enggak di pakai lagi. Maka dari itu Om  tidur di sini." Rara buka pintu dan mempersilakan kepada Dennis untuk melihat - lihat.


Dennis menuruti kemauan gadis ini, seperti anjing peliharaan saja nih. Tidak buruk menurut Dennis, sesuai kamar cowok. Tidak terlalu menyolok.

__ADS_1


"Terus, Om. Kalau misalkan Om sulit tidur bisa mampir ke kamar Rara. Pintunya tembus kok. Atau bisa di balkon saling tatap muka, tatap mata saya..." Rara tertawa terbahak-bahak sampai terjungkal ke belakang memegang perutnya. Dennis perhatikan gadis itu benar waktu di lahirkan, Nella makan apa sih sampai putrinya aneh begini.


__ADS_2