
Seperti biasa tak ada bedanya dengan suasana pagi, siang, sore, malam, subuh, dini. Semua sama saja tetap tak berubah sama sekali.
Untuk saat ini mereka berempat akan berlibur tamasya yaitu Dufan beberapa wahana akan mereka mainkan sampai muntah tak berisi pada perut masing-masing.
Ini adalah usulan dan rencana dari kedua orang tua Rara. Mereka ingin pasangan itu segera merencanakan kapan berikan cucu untuk dua dewasa ini.
"Om, nanti kita naik New Ontang-Anting ya. Awal-awal main yang ringan dulu baru deh permainan menantang. Siap, kan, Om! Siapa yang kalah sudah tau apa hukumannya?" celoteh Rara menantang Dennis menuruti permainan itu.
Dennis malah santai tidak berikan ekspresi takut atau bagaimana, dia malah semangat, kalau mendapat tantangan seperti ini. Siapa sih yang takut dengan hukuman dari gadis aneh bin ajaib ini. Dia yakin yang akan kalah adalah gadis absurd di depannya sekarang sedang menunggu antrian.
Giliran mereka berdua menaiki permainan New Ontang-Anting Dennis duduk di sebelah kiri posisi luar, sedangkan Rara di dalam pokoknya bersebelahan. Bayangi saja sekarang, Dennis seperti jaga keponakan sendiri cebol banget dirinya. Sampai penjaganya sebut lihat sikap absurd nya pakai menggoda rayuan gombal, buat cemburu biar Dennis merengut. Tetap nggak bisa, soalnya sebagian orang ikut permainan ini sedang mencuri perhatian kepada pria bermata sipit super ganteng.
Lalu dua orang dewasa orang tua itu pada kemana? Mereka tengah duduk menikmati makanan ada dekat permainan ini. Makanannya lezat mereka tidak mengikuti permainan konyol seperti dua pasangan absurd itu.
Lebih enak makan berdua kembali di masa muda bersama wanita sekarang duduk bersamanya, istri tercinta walau usianya sudah boleh di bilang belum tua, tetap saja masih cantik. Mudahan di usia tua ini mengharap selalu berada di sisi istri tercinta hingga Tuhan menjemputnya. Sekarang saja dia sudah lima puluh tahun, tak berapa lama lagi dia akan pensiun. Untuk perusahaannya mungkin akan dia serahkan kepada kepercayaannya.
"Mama cinta sama Papa, kan?" Edy bertanya kepada Nella, Nella yang tengah menikmati es krim rasa durian favoritnya berhenti menatap wajah tampan namun sebagian telah luntur walau sempurna bagi Nella sendiri.
"Selalu," jawabnya senyum.
Senyumannya selalu menghangat jiwa pria tua ini. Di genggam tangan istrinya, entah perasaan apa buat pria itu tidak rela berpisah dulu. Sungguh hari tua paling menyebalkan, berikan usia lebih panjang lagi agar merasakan kebahagiaan melihat cucu dari putri dan menantunya.
"Kalau misalkan Papa nggak--"
__ADS_1
Percakapan Edy terhenti ketika Rara menghampiri meja itu. Lihat keceriaan dari wajah putrinya kata-kata yang akan dia lontarkan kepada istri tercinta urungkan kembali. Belum waktu untuk beritahukan rahasia paling besar. Mungkin Tuhan masih menyayanginya.
"Pa, Ma, masa penjaga New Ontang-Anting tadi katai Rara keponakan Om Oli, padahal Rara calon istrinya! Rara mau tinggi kalau begitu," celetuk gadis remaja itu memuncungkan bibir bawahnya maju kedepan tandanya dia ngambek.
"Nggak apa-apa lagi dikatai keponakan, berarti kamu harus mengubah sifat lebih dewasa lagi," ucap Edy malah membela si penjaga new Ontang-Anting
Kedua bola mata Rara melebar melotot arah ayahnya. "Iih... kok Papa bela dia sih! Ma, lihat tuh Papa. Masa bela selingkuhannya?" ngadu Rara kepada Nella.
Eh? Edy makin bingung sama putrinya malah sebut selingkuhan. Sementara Dennis berdiri di sampingnya hanya mengangkat bahunya.
Tak terasa hari sudah mulai sore, waktu liburan hampir saja selesai. Rara turun dari permainan ekstrem membuat kepalanya berputar-putar bagai angin topan menghantam permukaan bumi. Masih belum puas, padahal fisiknya sudah lemah begitu. Dennis kewalahan menemani dan membujuk gadis aneh ini untuk berhenti menaiki permainan yang menantang.
"Rara masih sanggup kok, Om! Yuk, main lagi ...." Dia lari terbirit-birit melewati antrian para pengunjung itu.
"Itu, kan, jangan main lagi! Tubuhmu sudah nggak kuat Terima permainan itu." Dennis menegurnya berikan botol minuman kepada gadis remaja itu.
Diteguh hampir setengah botol, "Rara kuat kok, main sama Om!" balasnya meranjak pergi meninggalkan pria tinggi bermata sipit membatu.
Aku nggak salah dengar, dia bilang apa tadi? Kuat main sama aku?
Dennis mengejar gadis remaja itu yang cukup jauh dari peredaran keramaian tersebut.
"Maksudnya kamu?" Dennis mulai bertanya kepada Gadis itu
__ADS_1
"Apanya?" Rara balik bertanya
Keramaian wahana Dufan semakin banyak pengunjung berdatangan, perdebatan dua pasangan tidak membuat yang lain ada di sana mendengar. Walau sebagian senyun-senyum.
"Nanti Om lelah mainnya, sudah di simpan tenaganya."
"Justru kamu yang lelah, bukan aku."
"Masa? Tadi saja Om sampai pusing waktu main Haunted Coaster!"
"Itu bukannya kamu?"
"Sudah, pokoknya Om simpan tenaga biar main sepuasnya!"
"Oke siapa takut. Jangan teriak ya!"
"siapa juga teriak!"
Perdebatan belum berakhir, suara recehan dari gadis remaja ini kecil tidak ada rasa malu perhatikan oleh para pengunjung setempat yang lewat itu. Kalau orang tua sudah wajar, karena masa muda dulu mereka juga begitu.
"Ma, jadi rindu masa muda dulu. Masih ingat perdebatan di Kafe Tea Garden? Belah durian?" Edy mulai mengingat masa kenangan muda saat berdebat dengan Nella - istrinya itu.
"Masih, aku ingin sekali kembali ke masa itu dulu. Rasanya menyenangkan, sayangnya usia kita sudah tidak seperti dulu lagi," ucapnya dengan senyuman.
__ADS_1
Menyaksikan kerecokan dua pasangan ada di depan mata mereka berdua. Mudahan doa mereka ini di kabulkan oleh Tuhan tetap akur dan selalu damai tentram.