
Sejak kejadian kemarin tujuh belasan Agustus Dennis merasa hidupnya sangat tidak tentram. Lima kali keluar masuk dari kamar mandi akibat hukuman iblis dari gadis remaja itu. Mulas kocok perut bagaikan Tina Toon di obok-obok terus.
Sekarang sudah lebih baik, hanya beberapa tenaga fisik melemah turun dratis kalau saja Nella tidak berikan obat ramuan diare itu. Mungkin hidupnya sekarang ada di rumah sakit terjaga selama beberapa minggu.
"Om, masih sakit ya?" suara imut, cempreng recehan petir itu mencari perhatian lagi kepadanya. Kedua mata miliknya sendiri sayup menatap wajah remaja itu pasti habis dimarahi oleh ibundanya.
"Sudah lebih baik, sudah jangan menangis. Om nggak apa-apa kok." Dennis menghapus air mata yang mulai jatuh dari sudut matanya itu.
"Maafi Rara ya, Om," ucapnya sedih menyandarkan kepala tepat dada bidangnya pria bermata sipit itu.
"Iya, Om maafi kok," balasnya si Dennis mengelus rambut lembut berwarna hitam pekat itu.
Rara beranjak pergi dari pelukan pria bermata sipit itu padahal Dennis ingin berlama-lama dengan calon istrinya itu.
"Kamu mau kemana?" Dennis bertanya kepada gadis cebol itu.
"Aku mau kedapur sebentar," jawabnya meninggalkan tempat dimana Dennis tergeletak tak berdaya itu.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, gadis itu kembali membawa nampan sesuatu yang bikin kedua alis pria mata sipit berkerut. Dia meletakkan nampan atas meja bubur ayam dicampuri beberapa wortel dan kentang.
"Ini Om, Rara buatkan bubur sehat. Dimakan ya, Aaa..." Rara memberikan satu suapan bubur yang sudah di tiup agar tidak panas dilidah.
Dennis sempat ragu dengan bubur dari gadis remaja ini, karena takut curiga olehnya dia pun membuka mulutnya dan rasa bubur itu ketika tersentuh oleh lidahnya. Ini bubur asin atau bubur merica? Rasanya... Oh my god! batin Dennis tertahan memaksa menelan bubur itu.
"Bagaimana Om? Enak? Ini Rara buat penuh rasa bersalah dan menembus semua kesalahan yang buat Om sakit begini. Ya mudahan dengan bubur cinta bersalahku terobati ya, Om," ucapnya berikan lagi suapan kedua.
Sepertinya air mata milik Dennis siap meluncur keluar, siksaan berikutnya bukan perut melainkan tenggorokan yang tertahan ingin di keluarkan dari penampungan tersebut.
Akhirnya bubur buatan cinta bersalah dari Rara habis tak tersisa sedikit pun. Keringat dingin telah keluar biji jagung dari keningnya pria bermata sipit itu. Wajah yang telah normal kembali berwarna pucat lagi.
Dennis yang tidak bersuara dengan cepat kilat bangun dari tidurnya masuk ke kamar kecil ada di dekatnya itu. Semua isi dari tenggorokan dan perut keluar semua. Rasa bubur itu benar buat hidupnya semakin trauma. Bukan sembuh bertambah siksaan kedua.
"Om? Om nggak apa-apa, kan? Masih sakit ya?" suara Rara dari luar pintu kamar kecil.
Dennis segera bersihkan mulut yang terbuang sia-sia bubur itu. Gadis itu berdiri menatap wajah calon suaminya semakin buruk pucat kembali.
__ADS_1
"Om, nggak apa-apa? Buburnya nggak enak ya? Jadinya Om..."
"Nggak kok, Om cuma merasa kekenyangan saja. Bubur kamu enak kok, hanya perutnya saja nggak mau ajak kompromi," potong Dennis melanjutkan kata-kata dia tidak ingin buat gadis remaja ini semakin bersalah.
"Benar? Bubur Rara enak, soalnya tadi buburnya Rara taruh garam sama merica tiga sendok makan," jujurnya si Rara buat pria mata sipit itu berhenti melangkah posisinya mematung beku.
Rara menatap tubuh pria tinggi beberapa meter saja jarak berdirinya itu. Dia tahu calon suaminya memaksa menghabiskan makanan itu agar siksaan semakin bertambah bersalah.
"Tidak ada pengaruhnya kok, sayang. Malahan kamu sudah buat Om semakin membaik." Senyum Dennis menarik tubuh gadis itu kembali di pelukan.
"Tapi,"
"Sudah temani Om tidur ya. Om butuh pelukanmu."
"Tapi,"
"Sudah, apa perlu Om cium? Kalau masih mengeyel. Om baik-baik saja," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Rara pun tidak mengatakan apa-apa lagi di balas pelukan calon suaminya tubuh besar dan lebar itu sehingga tenggelam.