I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Julukan Om Oli


__ADS_3

Setelah kenyang dan habis itu piring-piring. Rara membersihkan bibirnya dengan tisu.



"Memang mantap banget makanan kafe ini. Papa benar pintar cari koki profesional banget. Om, sering-sering datang ke tempat ini. Di jamin mantap banget, jangan minum kopi hitam terus, nanti muka Om makin hitam kayak arang loh," celotehnya panjang lebar.



Pria itu bangkit dari duduknya sudah waktu ia bergegas kembali ke tempat asalnya. Rara perhatikan tubuh tinggi itu yang begitu cuek banget.



"Cuek banget itu orang," celetuknya lagi. Dia juga ikut bangkit dari tempat itu lalu pergi meninggalkan Kafe tanpa mengatakan sepatah kata pun.



"Eh, Om tunggu, Om tiang listrik tunggu sebentar!" Rara mengejar pria itu, tidak di hiraukannya lagi.



Sampai di lobi utama, Rara berhasil mengejarnya. Walau pun dengan cara tidak sopan santun tetap saja di sekitar gedung hotel ini memakluminya.



"Om! Di bilang tunggu juga, jadi lelaki itu jangan sok cuek kenapa sih! Nanti benaran tertimpa hati ke gue loh." celotehnya lagi si Rara.



Tetap tidak ada tanggapan sama sekali,serasa gondok si Rara. Masih belum puas, Rara tidak suka orang menyuekinya. Tetap mengekori kemana pun pria itu pergi.



Ponselnya bergetar di saku celana jeans sobeknya. Terpaksa berhenti mengikuti pria itu.



"Ya, Pa. Ada apa?" ucapnya


"Kamu ada dimana? Papa sudah bilang, jangan keluyuran."

__ADS_1


"Iya, Rara tau kok, Pa. Ini mau ke kantor Papa."



Panggilan terputus di hembuskan napasnya panjang, gagal lagi mengejar pria itu. Wajah sedikit merenggut tidak buat wajahnya buat orang yang lewat senyum padanya.



Terdengar suara langkah kaki mendekati ruangan Edy. Suara Rara lebih dulu terdengar daripada fisiknya.



"Pa, Rara ketemu makhluk Allien lagi, loh," merepetnya.



Ceklek.



Pintu terbuka lebar, kedua pria dewasa terdiam ketika Rara membuka pintu tanpa mengetuk adalah kebiasaannya.




"Om tiang listrik!" ceplosnya membuat Edy tercekat tahan dan kaget mendengar panggilan dari putrinya itu.



"Tiang listrik?" ulangnya si Edy.



Edy pindah menatap tampang pria itu yang tengah memasang muka benar menjengkelkan.



Ingin tertawa tidak mungkin, karena mukanya benar menyeramkan, cuma masa putrinya menjulukinya tiang listrik.

__ADS_1



"Jangan di masukan ke hati ya, Lee," ucap Edy menahan tawanya.



Rara melangkah kakinya berdiri di sebelah ayahandanya. Tampang wajahnya tetap datar dan dingin tidak bisa di ajak bercanda.



"Kamu ini, dia itu bukan tiang listrik. Namanya Dennis Lawendra Lee. Biasanya panggilan akrab Dennis, tapi Papa panggilnya Lee. Dia ini Generel Manager di perusahaan Papa," Edy menjelaskan kepada Rara tentang Dennis.



Hanya bisa membentukan ber-oh saja, "Oh..."



"Ternyata namanya Om Lee. Kok, kayak Oli, Oli mobil. Oli hitam yang biasa di pakai untuk kendaraan beroda empat, tiga, enam dan sebagainya," lanjutnya Edy tidak bisa membalas kata-kata putrinya ini. Tidak jauh beda dengan sifat istri barbarnya.



Apaan sih, Oli? Memang muka aku kayak Oli? Edy anakmu ini benar - benar..



Dennis merasa kesal dengan sifat absurdnya gadis aneh ini. Muka boleh cantik tapi sifatnya ya Allah tolong hambamu ini! teriak Dennis memanggil segala umat agamanya.



"Ya sudah, kita kenalan, ya. Namaku Tiara Adilla Kusuma. Panggil saja Rara yang imut, lucu, semerdu lebah madu." Di ulurkan tangan di hadapan Dennis.



"Dennis," ucapnya tanpa menyambut tangan kurus yang putih seperti susu.



Rara pun menarik kembali tangannya, merasa tidak dihargai, tidak masalah baginya. Dia mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

__ADS_1



__ADS_2