I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Senjata Mata Tuan


__ADS_3

Malam semakin mencengkram, Rara tengah menikmati sate gerobak ada di pinggir jalan. Saking laparnya dia sampai porsi ke empat pun tetap belum mengenyangkan perutnya.


Dennis melepaskan jas kemeja hitamnya, ada beberapa sepasang mata melirik gadis aneh bin ajaib ini tengah santai menikmati makanan itu. Dia menutupi tubuh yang terbuka indah tanpa lapisannya.


Rara berhenti sejenak, pria bermata sipit itu memakaikan jas kemeja hitamnya kepada gadis remaja ini.


"Loh, kenapa, Om! Rara nggak kedinginan kok?" Coba untuk melepaskan jas kemeja hitam itu.


"Pakai saja, sepasang mata memperhatikan dirimu," katanya, mengerti maksud dari pria bermata sipit itu. Rara pun memperhatikan sekitarnya.


Senyuman lebar menerbitkan dalam dirinya. Yes! Ternyata Om Oli perhatian banget sama gue. Uhh... Romantisnya, Om ini. batinnya dalam hati kembali melanjutkan makanannya.


Setelah selesai makan saatnya mereka kembali pulang. Tapi sebelum itu, Rara ingin jalan di malam hari soalnya adem kalau jalan berdua beginian belum lagi jas kemeja hitam dia pakai kebesaran sampai tertutup seluruh tubuhnya, tangannya juga.

__ADS_1


Tepat salah satu taman yang begitu gelap banget, tidak, ada beberapa. lampu yang hidup. Cuma ya mungkin jarang ada merawat taman ini jadinya lampu pinggir jalan sangat gelap. Kalau ada rampok atau orang gila bagaimana nasib manusia lewat di sini.


Dennis yang melangkah kaki terlalu cepat atau bagaimana, dia mencoba meraih tangan gadis remaja aneh bin ajaib itu. Dia mematung ketika menoleh tidak ada siapa-siapa. Rara menghilang, kalang kabut Dennis - nya. Dia mulai mencari seluruh penjuru taman itu.


Sementara Rara bersembunyi di semak-semak taman itu. Mumpung karena dia pakai segala hitam jadinya nggak ketahuan. Namun di balik bawah sandal jepitnya sesuatu mendekati kaki mulusnya si Rara. Rara merasa sesuatu geli-geli, terus lama-lama kok seperti tertusuk aneh semakin dalam dan dalam..


"AAARRRGHHH...!!!"


"Hei, kamu kenapa!" Dennis memegang bahu kecilnya si gadis remaja ini tengah sibuk memukul kakinya sendiri.


Rara terperanjat horor tangan seseorang tengah memegangnya. Bayangan dari pikirannya pun membabi buta tangan setan...


"Arrrggghhh... Pergi sana! Jangan ganggu gue!" Sandal jepit hilang entah kemana. Di lempar nya dan juga baju putih bersih Dennis pakai mengenai kotoran tanah berbecek itu.

__ADS_1


Rara berjongkok sekaligus kedua tangannya menyatu menjadi bertapa gemetar. Meskipun dia cewek yang bikin orang sakit kepala, tidak jauh beda dengan ibundanya. Rara takut namanya film horor. Apalagi di suasana gelap, belum lagi dapat gigitan semut merah buat kaki sebelah kanannya bintik-bintik merah ada di mana - mana.


Dennis menghampiri gadis remaja aneh ini masih posisi seperti itu menunduk kepala, dia berjongkok serasa bagaimana lihat wajah gadis aneh ini ketika dirinya ingin menakuti nya malahan dapat ganjalan sendiri.


Kadang Dennis lucu sama gadis di depannya, ada saja tingkah absurd nya ini. Karena gadis ini jugalah dia jadi ingin tersenyum terus sepanjang hari.


"Hiks ... Hiks ...." suara isak tangisan, Rara menangis.


Dennis meraih tangan mungil itu, sedangkan Rara mengangkat kepalanya, luntur sudah make up nya penuh air mata.


"OM!" Di peluknya langsung buat Dennis terjungkal duduk. .


Semakin erat Rara memeluknya, masih dalam isak tangisan itu di balik bahunya. Merasa ragu balas pelukan tubuh kecil si gadis remaja ini. Perlahan - lahan, Dennis pun membalasnya di tepuk-tepuk pelan-pelan menenangkan Rara. Dennis merasa hangat jika gadis remaja memeluknya. Bintang - bintang di atas langit indah banget.

__ADS_1


__ADS_2