I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Cemburu


__ADS_3

Mereka masih duduk di pondok kebun teh, sambil menikmati buah-buahan ada di rumah si kembar itu. Apalagi Rara paling suka dengan segala buah-buahan.


"Di, kita kesana yuk!" Rara mengajak Didi ke pohon belimbing dekat rumah nenek Intan.


"Yuk," Didi tentu senang banget di ajak oleh cinta pertamanya.


Sedangkan Dennis masih duduk menikmati buah semangka, favoritenya tiada tara.


Dina  menemani Dennis  di pondok ini sambil melihat kedua remaja itu sedang memanjat pohon belimbing. Didi di bawah sedangkan Rara menginjak pundaknya cowok itu.


"Di, jangan goyang jatuh nih, nanti!" teriak Rara mencoba ambil buah belimbing sudah masak.


"Iya, nggak goyang kok, kakimu gementarannya?" balas Didi bersuara.


"Jangan lihat atas! Kanan, Di!" teriak Rara


Didi menuruti perintah gadis aneh ini apa sih nggak untuk cinta pertamanya. Sudah syukur dia datang kesini kapan lagi bisa lihat muka merah merona setiap tersentuh sinar matahari.


Dennis masih perhatikan dua kurcaci itu, benar calon istrinya sangat nekat banget, kalau sudah menikah dan hamil apa sikap anak masa depannya seperti dia juga.


"Hmm... Om kenal Rara dimana sih? Kok bisa sampai suka dan cinta sama dia? Bukannya dia itu cewek aneh banget, ya?" pertanyaan dari Dina telah di mulai.


"Kebetulan dia putri dari sahabat paman aku, aku bekerja di perusahaan papanya, awalnya sih nggak tau kenapa bisa suka sama tingkah laku cewek itu, mungkin sudah takdirnya kali, ya?" jawab Dennis jujur.


"Hmm... seberapa cintanya sih Om sama Rara?" tanya Dina lagi

__ADS_1


"Berapa ya? Mungkin sampai tua," jawabnya asal


"Begitu ya, Om tau kalau adik kembarku juga suka sama Rara. Rara banyak penggemarnya loh waktu di sekolah, cuma sulit saja di taklukan, Rara itu cewek acuh tak acuh banget soal cinta. Kalau ucapan kata cinta dia selalu mengasal kata, untung saja adik kembarku ini penyabar kadang dia rela lakukan apa pun untuknya." cerita Dina kepada Dennis.


Dennis masih perhatikan dua kurcaci itu. Rara terjatuh dari pundaknya cowok dengkil itu. Muka tampang biasa saja masa suka sama calon istrinya sih. Rara bukannya menangis kalau jatuh malah tertawa lagi sama cowok dengkil itu.


Didi berjongkok meniup luka lecet tertimpa batu kerikil itu, Rara tidak nangis malah ketawa, kalau sama Didi dia tidak pernah menangis serasa itu bercanda. Didi malah suka begini sikap konyolnya. Coba kalau sama Dennis pasti dia merengek manja menangis histeris.


"Masih sakit? Maaf ya, kamu jadi jatuh." Didi jadi serba salah sama cinta pertamanya.


"Nggak kok, kamu kenapa sih selalu ucap kata maaf mulu. Kan aku jatuh juga karena turun mendadak," serunya meminta bantuan untuk berdiri.


Dina masih menceritakan kisah Didi dan Rara waktu sekolah dulu. Sepertinya muka Dennis mulai berubah, Dina memang sengaja bikin pria ini cemburu atau bagaimana sih.


Didi mencubit pipi gemasnya gadis aneh itu. Rara malah senyum lebar tidak marah lagi.


"Iihh... pipi-mu ini makin lama-lama makin gemas! kamu tau nggak aku itu suka banget sama kamu dari dulu. Tapi karena kamu sudah di miliki oleh orang lain. Jadi aku bisa hanya bisa katakan sekarang, maaf ya, kalau aku terlambat mengatakannya." Didi mengungkapkan perasaan kepada Rara.


Rara menatap manik coklat hitam milik sahabatnya itu. Mukanya biasa saja, dia tau kok kalau sahabat nya ini suka dia dari dulu.


"Aku juga suka sama kamu, tapi sebagai abangku, suka sama sikap candamu, kekonyolanmu, segalanya itu nggak akan bisa aku lupain, aku suka kamu cium pipiku ketika aku jatuh, itu benar buat semangatku bangkit lagi. Kamu tidak pernah marah dan selalu sabar segala keonaran ku, Terima kasih sudah ungkapin perasaanmu kepadaku aku tau kok kamu cinta pertamaku, tapi aku selalu ada untuk Kak Didi, muach!" Rara mencium pipi Didi.


Sebaliknya Didi mencium keningnya benar ini moment sangat romantis banget. Dennis yang duduk di pondok pergi entah kemana. Tidak menunggu gadis itu kembali dari tempat itu.


****

__ADS_1


Malam tibanya suara jangkrik berirama merdu jika alam dingin. Rumah Didi benar tidak pernah berubah suhu udara nya sangat dingin banget.


Rara masuk ke kamar mendapati sosok tubuh tinggi, lebar dan tegap tengah Berbaring tidur membelakangi pintu masuk.


"Om, kemana saja sih, Rara cariin dari tadi. Om, sakit ya?" Rara bertanya kepada calon suaminya. Tidak sahutan dari pria bermata sipit itu.


Rara mendekati posisi dimana pria itu menghadap jendela, gadis itu berjongkok memandangi wajah pria itu tengah tertidur memejamkan matanya. Lucu sih kalau lihat secara dekat hidungnya mancung, bibirnya seksi.


"Om, bangun, makan yuk!" Rara mencoba membangunkan Dennis. Dennis malah memutar tubuhnya tidak menanggapi calon istrinya itu.


Rara makin bingung sama sikap calon suaminya. Tadi masih bisa bercanda kok sekarang jadi cuek lagi.


"Om, makan yuk! Lapar, Om!" Mulai lagi tingkah aneh gadis ini. Rara menimpa tubuhnya ke tubuh pria itu. Cara apa pun dia lakukan agar pria bermata sipit itu bangun dari tidurnya.


"Om, bangun lapar!" rengeknya sekarang ini. Menggesek tubuhnya seperti handuk, tetap nihil Dennis tetap tak beri respons sama sekali.


Rara turun dari tubuhnya, dia pun menciut bibir memilih untuk keluar dari kamar itu. Mulailah dia merepet seorang diri terdengar sangat jelas oleh Dennis yang dari tadi pura-pura tidur itu.


"Dasar Mr. Cuek! Didi udah tidur belum ya? Ajak Didi saja deh, mesraan juga nggak masalah. Biar adem, enaknya dingin minta di hangati... Kak Di..." Dennis membungkam mulut gadis itu, Rara tercekat diam.


"Iih... Om bau! Belum gosok gigi ya!" ketus Rara melepaskan ciuman dari calon suaminya.


Dennis tidak respons mengangkat tubuh gadis mungil cebol itu pintu di tutup dengan kakinya. Rara kaget bukan main ada apa dengan calonnya ini.


"OM OLI...!!!" teriaknya menggemparkan rumah petak kayu itu. Untung didalam rumah tidak ada siapa-siapa, si kembar sedang keluar membeli makanan untuk dua tamu mereka.

__ADS_1


__ADS_2