
Pagi yang cerah membawa sebuah kebahagiaan untuk pasangan aneh ini. Seharian dan semalaman di hari malam pertama bukan suatu istimewa yang menggiurkan telan ludah.
Gadis remaja berusia delapan belas tahun telah terwujud menjadi istri yang absurd dan mudahan dengan rumah tangga baru saja akan di bangun lalu mulai menjadi keluarga sendiri. Di beri sebuah penghuni baru untuk keluarga Kusuma.
"Selamat pagi, istri pendek!" sapa pria itu tak lain adalah Dennis.
Rara masih melanjutkan tidur dalam dunia alamnya sendiri karena terusik oleh ciuman pagi dari suaminya mau tak mau dia pun harus bangun dengan tubuh begitu malas di apa-apain.
"Pa-gi juga, suami tinggi!" balasnya mengerang kedua tangan melebar lalu berputar memeluk suaminya dengan setengah telanjang dada.
Dennis senyum panjang sambil mengelus pipi istrinya manja ini. Pertama kali seumur hidup mendapat rasa sayang sebenarnya dari pria sudah menjadi suaminya. Bunyi telepon dekat samping ranjang mereka berdering.
Pria itu langsung mengangkatnya, "Halo..." sambutnya lebih dulu.
Terdengar suara keributan dari seberang telepon. Dennis melenguh dan kembali meletakkan telepon genggam di tempatnya. Gadis itu sedang bersandar di dada bidang suaminya mendongak.
"Siapa, Om?" tanyanya penasaran juga.
"Biasa dari abang sepupumu, mereka sudah menunggu kita di restoran. Kita bersiap-siap atau kamu mau aku mandikan sekalian?" jawab Dennis mulai mesum kembali.
"Hem..." lenguh gadis itu berputar dan sesuatu bercak merah tertempel di seprai ranjang tersebut.
"Ini apa?" Dennis bertanya menunjukkan arah bercak merah berlingkar kecil. Rara menunduk kebawah dan mengintip di terperangah.
"Rara datang bulan!" pekiknya langsung berlari masuk kedalam dan lupa mengambil roti bantalnya ikut ke kamar mandi. Dennis makin mengerut kening maksudnya dari istrinya itu apa?
****
Dua jam kemudian mereka berdua sampai di restoran ternama. Satu keluarga telah berkumpul di meja yang tersedia.
"Itu mereka sudah datang, kemana sih, Om! Lama banget? Belum selesai permainan semalam ya?" gombal Marcello pagi-pagi sudah tanya aneh saja.
__ADS_1
Rara langsung duduk di kursi kosong sebelah sahabatnya. Dia mulai membisikkan sesuatu kepadanya. Kalau Dennis duduk samping istrinya dong. Sudah di booking untuk mereka juga.
"Jadi setelah pernikahan usai, rencana untuk honeymoon kemana nih? Terus sudah tentukan belum kapan beri keponakan sama cucu untuk Om Edy dan Tante Nella. Kalau bisa cepat biar nggak kelamaan menunggu!" Percakapan tempat makan khusus perkumpulan keluarga somplak ini yang mewakili adalah Marcello.
"Kalau Abang Marcello pengen cepat keponakan dari kami, kenapa k
tidak buat sendiri? Proses itu butuh kesabaran dong, Bang! memangnya baby online? Main download terus jadi?" sambung Rara melanjutkan percakapan itu.
Yang lain hanya menyimak, soalnya percakapan ini terlalu bagaimana ya. Sepertinya yang lagi kedatangan tamu tak di undang lagi sensitif jadi bawaannya itu dewasa.
"Hem... Kalau aku juga butuh proses menanti," kata Marcello pelan sebentar lirik cewek tomboi sedang menikmati sajian makanan ada di meja.
"Oke untuk keponakan, abang sabar menanti. Kalau bisa request keponakan kembar tiga, eh... jangan dua saja. Kalau tiga kayak..."
"Kenapa nggak sebelas saja biar jadi pemain sepak bola?" potong gadis itu. Suasana perkumpulan keluarga jadi tegang.
"Rara kenapa sih? Kok dari tadi bahasnya aneh banget? Kamu tidak lakukan hal kasar saat malam pertama kan?" bisik Edy bertanya kepada menantunya - Dennis.
"Dia lagi kurang mood, soalnya tiba-tiba berubah. Tapi mudahan nggak lama sih!" Balas bisikkan dari Dennis
Rara sedang melihat gambar di tab berbentuk persegi empat milik suaminya. Yang pernah dia lihat pertama kali itu adalah Korea dan Jepang.
"Om, kita honeymoonnya di sini saja, mau nggak?" di tunjukin gambar sebuah tempat kerajaan Korea.
"Tempat lain lebih romantis juga tidak kalah jauh dari Korea," ucapnya.
"Ya, aku mau di sini!" Gasnya langsung.
"Di Paris juga romantis atau Australia?" Dennis menawarkan tempat lebih Oke.
"Ya pokoknya aku itu mau di sini!" tetap ngotot ingin ke Korea.
__ADS_1
"Memang di sana kamu bisa menggunakan bahasa Korea?" tanyanya lagi
"Ya, kan, bisa pakai bahasa Inggris," jawabnya merengut.
Dennis tidak mau berdebat dulu, ada kejutan lain yang lebih spesial untuk dia sekarang. Berhenti di salah satu tempat lokasi termasuk taman paling indah deh.
Twins House, jangan bilang Dennis ingin punya baby kembar weleh berabe nih. Gadis itu turut dan memasang muka biasa saja tidak ada rasa terkejut sama sekali.
"Ayo, masuk!"
Masuk kedalam suasananya memang bagus dan sejuk ada beberapa macam koleksi lucu.
"Mukanya jangan merengut seperti itu!" gombalnya.
Rara masih membisu, dia memegang perutnya sakit pertama kali datang tamu begini rasanya badmood bikin suasana malas ngapain.
"Om, setelah habis di sini. Kita ke makanan Korea dulu ya! Aku pengen makan Jjajangmyeon, Mujigae, Jeans Chilli Chicken, de el el..." serunya lebih semangat dari pada di sini.
"Hm..." lenguh doang tidak ada embel-embel tanya, loh kenapa di sana?
"Boleh nggak?" ditanya lagi soalnya sikap suaminya ini kayak nggak iklas banget.
"Memang kalau lagi datang tamu pengen makan begituan? Kayak orang hamil saja!" Pertanyaan akhirnya keluar juga dari mulut pria cuek ini.
"Enggak sih! Cuma aku pengen makan! Habisnya nggak boleh ke Korea sama suami sendiri untuk honeymoon. Jadi di sini juga ada makanan khas Korea. Terus banyak kok artis-artis makan di sini. Kalau hamil beda lagi." jawabnya panjang lebar.
"Jadi, kamu ingin punya anak laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, biar mirip kayak Oppa Lee Dong Wook!"
"Mirip aku dong, yang buat aku kok Lee Dong Wook?" protes pria bermata sipit.
__ADS_1
"Berasa cakep saja! Biar aku bisa menatap wajahnya terus," cicitnya santai
Rara sengaja biar dibuat cemburu dulu suaminya. Habis dia kesal sama Dennis. Permintaannya tidak di kabulkan sama sekali untuk honeymoon ke Korea. Jadi jangan macam-macam sama gadis abg ini kalau lagi di datangi tamu tanpa mengundang.