I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Persahabatan


__ADS_3

Malam hari adalah dunia keindahan untuk keluarga Kusuma. Para perkumpulan keluarga somplak paling aneh di cerita dari penulis romantis komedi.


Calon pengantin baru saja keluar dari sarang keharmonisan. Wajah segar bugar dengan ekspresi penuh tanda tanya oleh perkumpulan keluarga ternak Hayday mengamati mereka berdua.


"Calon pengantin sudah bangun dari dunia mesin waktu ya? Bagaimana perasaan kalian berdua? Apa ada sesuatu buat kalian aneh setelah melakukan pembuatan adonan?" Pertanyaan dari Marcello bagai wartawan gadungan mana nih berikan kepada calon pengantin itu.


Rara dan Dennis mengernyit kedua alis terheran kepada mereka. Pertanyaan dari sepupu gadis pendek ini buat pikirannya bertambah satu nyawa tidak berfungsi.


"Adonan? Mesin waktu?" ulangnya oleh gadis pendek itu mendarat pantatnya kursi kosong samping wanita dua puluh lima tahun ini - Abel.


"Yaelah! Pura-pura bloon pula dikau ini! Ya tentu bongkar mesin kalian sudah menuju keberapa tahap?" Marcello kasih penjelasan singkat kepada adik sepupunya.


"Oh... itu... Ehm..." Rara teringat sesuatu dan mencoba kembali mengulang kejadian hubungan di kamar bersama calon suaminya yang sekarang bergabung dengan para Om-Om.


"Sampai mana?" Marcello makin kepo saja, kalau Abel malah sibuk keberadaan cowok tampan manis itu berada di mana sekarang. Dari tadi tidak ketemu disekitar dalam rumah ini.


Didi berada di sebuah taman tepat di samping rumah sahabatnya sedang menikmati permainan gamenya yang tertunda. Kemudian disusul oleh saudara kembarnya yaitu Dina.


Gadis tomboi ini sedang membaca buku novel sebelum datang kerumah sahabatnya ini. Karena dia akan merasa suntuk dan bete kalau keluarga sahabat kecilnya datang berkumpul.

__ADS_1


Dua kembar beda jenis kelamin ini sangat beda jauh. Didi tipe cowok yang cuek dan acuh tak acuh sama Rara kenapa tidak acuh sih? Pertanyaan ini yang bikin para pemirsa terheran-heran.


Didi tipe cowok sangat acuh tak acuh ketika tidak dia kenal. Seperti Abel tidak sengaja melemparkan air mineral dari gelasnya untuk membangunkan adik keponakannya - Rara. Sudah terlihat sikapnya langsung berubah jadi cuek banget dan cool habis.


Sedangkan Rara dia tidak pernah merasa cuek sebab hubungan erat mereka telah di kenal semasa kecil. Didi diam menyukai gadis pendek itu sampai sekarang walau cinta itu harus bertepuk tangan setiap bertemu dengan saingannya. Hati Didi memang lemah soal cinta, tetap dia akan menghargai perasaan sahabat kecilnya dengan calon suaminya.


Lalu bagaimana dengan  saudara kembarnya Didi. Yang paling disebut kakak tersayang, ceroboh dan mendadak mimisan bertemu dengan cowok tampan. Dari fisiknya terlihat sok kuat kenyataan dia paling lemah.


Hidupnya itu benar aneh banget, tetap kalau sudah menyangkut namanya cinta jiwanya akan melayang tertarik oleh malaikat maut patah hati. Lihat tubuh seksi milik Marcello saja sudah hilang kemana pikiran gadis tomboi itu. Sampai cowok playboy kayak Marcello panik sendiri. Tidak hanya itu saja terjadi insiden memalukan Dina ternyata hobi makan banyak seperti mukbang. Lebih menyukai makanan manisan tetap sehat walafiat aman tanpa ada rasa longgar pada lemaknya.


"Ternyata kalian di sini!" suara tidak asing ditelinga dua manusia sibuk dunia masing-masing turun menoleh.


"Kalian nggak ikut gabung dengan mereka? Kalian juga termasuk di dalam keluarga ini?" pertanyaan untuk Didi dan Dina.


Didi dan Dina tidak melanjutkan dunia mereka. Malah sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Orang yang ikut bergabung dengan mereka berdua itu gadis pendek membuka beberapa lembaran buku novel dari pangkuan Dina.


Didi dan Dina saling bertatapan dan mengangguk bersamaan juga. Membuat gadis pendek ini melirik terheran oleh kedua sahabatnya ini.


"Ada apa? Apa kalian tidak suka dengan keramaian?" Rara mencoba menebak mana tau itu benar.

__ADS_1


"Nggak kok, malahan kami senang kalau rumah ini ramai. Cuma..." Dina menghentikan kata-kata


"Cuma apa? Karena Kak Marcello cuek ya? Jangan berkecil hati dia memang begitu kok. Playboy tetap playboy nanti juga dapat getahnya sendiri," lanjut Rara beri semangat kepada sahabatnya.


"Bukan itu," sambungnya "Terus?" Rara makin bingung sama mereka ini. Padahal kemarin-kemarin baik-baik saja.


"Kita akan pisah jauh, Ra..." lanjut Didi bersuara.


"Hah? Pisah jauh? Memang kalian mau kemana?" Kaget gadis pendek itu menatap kedua sahabatnya.


"Kami akan melanjutkan pendidikan di Swiss. Kamu ingatkan kata-kata setelah lulus sekolah menengah atas. Kami akan kuliah di sana dan menempuh dunia yang baru menjadi orang yang berhasil," ucap Dina kembali mengingat masa janji kepada gadis pendek ini.


Rara pasti ingat banget tapi nggak sampai pisah sejauh penjuru dunia. Padahal dia ingat janji akan bareng kenyataan dia tidak ingin kuliah malah memilih untuk menikah dengan pria jauh berbeda dengan usianya.


"Jadi kita benar akan pisah jauh? Jadi kapan dong kembali kesini?" Rara bertanya merasa sedih banget.


"Sampai kami bertemu keponakan baru darimu," jawab Didi senyum mengacak rambut sahabat kecilnya.


"Janji ya!" Jari kelingking ukuran kecil dari gadis pendek itu dibalas oleh dua sahabat mereka.

__ADS_1


__ADS_2