
Pada malam harinya Rara si gadis tukang rusuh datang mengganggu pendatang penghuni baru. Siapa lagi sih kalau bukan Dennis selalu di panggil oleh gadis belia bernama Tiara Adilla Kusuma, sebutkan nama julukan Om Oli.
"Om Oli ... waktunya makan malam keluarga," ucapnya membuka pintu, Duk! aduuh... Kampret pintu sialan! memaki daun pintu. Salah sendiri malah menyalahkan benda mati.
Pintu kembali terbuka lebar muncul sosok tinggi tegap dan benar bikin kedua mata gadis belia ini terpana tak akan bisa mengedipkan lagi kedua kelopak matanya.
"Pujaan hati gue, suami masa depan, cinta pertama, benar jodoh gue nggak pernah ke mana - mana," gumamnya masih bisa di dengar oleh pria berdiri berhadapan dengannya.
Tanpa di sadari Dennis melangkah lewati gadis belia super aneh itu. Tidak dia hiraukan sama sekali, sikap cueknya kembali normal.
"Eh, Om! Tunggu...!" kejarnya, lah, si Rara.
Tanpa dia sadar sendiri atau kecerobohannya ketika mengejar Dennis dari belakang.
Gedebruuukk!
Gadis belia itu terjatuh meluncur kedepan, masih sama kejadian di penginapan hotel tidak sengaja menarik sesuatu. Tapi ini berbeda, sesuatu lebih berbeda...
"AAARRRGGHHH...!!!"
Bangun dari tidurnya dan seluruh berkeringatan pada tubuhnya. Pokoknya mandi keringatlah sih Rara.
"Rara, ada apa?" Nella masuk kamar putrinya sedang asyik bercengkerama dengan Dennis dan suaminya ada di ruang tamu lantai bawah.
__ADS_1
Mendengar teriakan petir dari kamar Rara. Pada waktu kejadiannya, Rara keseruan tertawa mengerjai Om Oli. Tapi tanpa dia sadarkan, apa karena efek kurang tidur atau bagaimana. Saat lelah tertawa tiba-tiba dia seperti manusia kehabisan oksigen jadinya ketiduran. Dennis yang tengah merapikan pakaian di lemari tidak mendengar tawaan dari gadis belia ini. Dia pun menoleh dan benar saja, Rara ketiduran posisi melengkung seperti bayi kecil baru lahir.
"Kok, Rara ada di kamar? Sejak kapan, Rara ... Terus Om Oli?" terbengong sendiri, tidak sadarkah dia yang ketiduran habis ketawa.
"Om Dennis ada di ruang tamu lagi ngobrol sama Papa," jawab Nella membantu mengelap keringat putrinya itu.
Tidak ada lagi kata-kata terlontar kan dari mulut gadis belia ini. Beberapa menit kemudian, dia turun dari arah kamarnya ke dapur. Keroncongan dari tadi belum sempat makan, apalagi dia nggak ingat kapan tertidur.
Percakapan antara pria dewasa tidak luput untuk gadis belia menoleh atau menghampiri mereka berdua. Akan tetapi satu sepasang mata memperhatikan sikap gadis belia aneh itu, siapa lagi kalau bukan Dennis.
Kedua mata Dennis yang sipit itu terus perhatikan gadis belia arah dapur sedang membuka kulkas mengeluarkan sesuatu di sana. Kue cake yang sempat di beli oleh Nella saat pulang dari mall.
Terus ada lagi yang di keluarkan dari kulkas selain kue cake, es krim kesukaan Nella dan juga putrinya. Segalanya penuh dengan kemanisan dingin.
Rara menuangkan jus semangka memang selalu di sediakan oleh Mamanya, setiap hari tanpa ada kecuali. Karena dia memang suka semangka daripada buah durian. Meskipun dia benci buah durian tidak selamanya. Tergantung moodbooster nya datang yakin tujuh puluh lima persen buah durian dari pohonnya pun habis di makannya tidak bersamaan dengan pohonnya juga dong apalagi kulitnya.
Sudut mata ekor dari gadis Belia itu, menatap tajam kepada pria tinggi, hari ini suasana Rara sedang tidak bagus. Akibat mimpi buruk tadi buat dia ingin memakan sesuatu yang banyak agar keburukan pada dirinya menghilang dan bisa kembali ceria.
Pria itu menarik kursi lalu duduk bersebelahan dengannya. Dia menatap gadis belia itu cukup lama. Memperhatikan secara intens, pertama kali ketemu gadis aneh ini di salah kafe hotel tersebut. Sama dengan porsi jumbo melahap tanpa suara sedikit pun.
Cuma kok hari ini Dennis perhatikan gadis ini sedikit badmood, ya? tetap saja tidak buat pria bermata sipit itu terus tersenyum kepadanya. Malahan keseringan bisa jadi.
Saat perbincangan dengan Edy, mungkin sudah waktunya menyukai gadis aneh ini meskipun usia sangat jauh darinya. Tetap tidak buat hati dan perasaan menunggu. Mungkin bisa saja, menunggu dirinya dua tahun lagi atau tiga tahun.
__ADS_1
Tapi, apa dia yakin bisa menunggu gadis belia ini selama tiga tahun, sampai benar matang hubungan serius akan di lanjutkan sampai jenjang pernikahan?
"Om kenapa lihat Rara seperti itu? Memang kenapa dengan wajah Rara?" pertanyaan dari gadis belia ini tidak lepas dari tatapan sendiri.
Entah perasaan atau gejolak apa yang di dapatkan dari gadis belia ini. Sesuatu mendorong dirinya untuk lebih dekat dan memberikan sebuah harapan kepada gadis ini.
Rara yang tengah asyik makan es krim di dalam mulut, sesuatu tidak bisa dia percaya antara ingin menginjak kaki pria bermata sipit atau menamparnya, tetap saja nggak bisa. Walaupun mood Rara sedang di ambang kelaparan, selalu mengalahkan rasa es krim dingin menjadi hangat dan meleleh.
Tidak sampai di situ saja, setelah apa yang Dennis lakukan terhadap gadis belia terpaku membatu di tempat. Pria itu mendekatkan telinga gadis belia itu. Semakin nyata dan ingin lompat dua bola mata gadis cantik, imut, dan manis seperti lebah madu.
Dia melirik perlahan arah pria bermata sipit yang selalu menganggu hidupnya itu. Sekarang menjadi aneh tidak biasanya. Dennis senyum panjang memunculkan lesung pipi begitu manis itu.
Dag
Dig
Dug
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Jantungnya Rara berdetak debar-debar sangat kuat, mungkin sebentar lagi akan keluar dari ikatan selang akarnya itu. Apalagi es krim di kotak sudah mencair tak berbentuk lagi.
Kok ... Om Oli ... Jadi ... Jangan bilang mimpi buruk gue ...