I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Cemburu Lagi


__ADS_3

Keluar dari kamar dua pasangan somplak ini. Dennis jadi segar ketika mengerjai calon istrinya. Otaknya mungkin sudah tergeser mesum pokoknya hidupnya bakal berwarna deh.


Muka Rara merah banget, bagaimana nggak merah mandi berduaan dengan calon suami belum resmi. Walaupun nggak buka semua tetap saja malu banget. Rasanya nggak bisa bayangi posisi mandi berdua.


"Sampai mana nih permainannya?" Marcello langsung nyerocos duluan nggak beri kesempatan untuk bersuara kedua pasangan somplak itu.


"Belum apa-apa juga, sudah teriak dia," jawab Dennis duduk disebelah Marcello.


Gadis itu milih pergi ketempat lain, daripada berurusan sama dua lelaki aneh itu. Sayangnya Dennis lebih dulu menarik pinggang gadis remaja ini duduk dipangkuannya. Marcello kecekikian malah dia bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan dua pasangan somplak disana.


"Abang mau kemana?" Rara malah bertanya pula, padahal calon suaminya masih pengin lebih lagi.


"Rara kami bawa apa ini..." suara dari depan rumah menganggu kemesraan dua pasangan somplak tersebut.


Dengan wajah ceria Rara mengintip dibalik punggung lebar pria bermata sipit itu.


"Didi!" pekiknya memekakkan telinga Dennis. Larut wajah bahagianya berubah ketika calon istrinya menyebutkan nama cowok tengil itu.


Dia ikut menoleh kebelakang, kedua mata mereka bertemu kembali bagaikan aliran listrik saling beradu siapa yang menang mendapatkan mangsanya.


Terlepas dari pegangan pria bermata sipit itu, Rara menghampiri sahabat kembarnya itu. Dina membawa buah durian kesukaan ibunya dan dirinya serta buah semangka paling minati olehnya itu.


Rahang Dennis mengeras calon istrinya telah pergi mementingkan sahabatnya itu. Dari jarak yang jauh Marcello bisa melihat jelas bahwa pria itu kini termakan cemburu habis. Rencana konyolnya berhasil banget.


Ketiga kurcaci itu memulai mengotori dapur tanpa pengawasan dari pemilik rumah ini. Nella tengah membawa makan siang untuk suaminya di kantor. Sementara Dennis kesal dengan kehadiran dua kurcaci sialan itu.

__ADS_1


Didi mencoba mengajari Rara cara membuat agar-agar dari buah semangka sampai mereka bermain tepung-tepungan disana. Mesra itu buat kedua mata Dennis memanas.


"Ra, Abang pinjam Om Dennis ya!" teriak Marcello bersiap untuk pergi keluar mencari kesegaran mata.


"Mau bawa kemana Om Oli-Rara!" teriaknya dari dapur


"Pinjam saja, sekalian cuci mata. Kasihan Om Dennis sendirian nggak ada belaian dari calon istri. Mana tahu diluar sana dapat yang lebih baik," jawabnya Dennis bersiap untuk pergi bersama Marcello. Rara langsung berdiam diri di tempat.


"Tunggu Rara juga ikut! Kalian beresi ya," pinta Rara meninggalkan tempat dapur lari kecepatan tinggi keatas kemudian turun lagi.


Dennis menatap gadis remaja itu sudah bersiap untuk ikut dengannya. Senyuman dalam hati bukan dia saja yang cemburu, calon istrinya juga bakal lebih cemburu lagi.. Memang ide konyol Marcello mantap banget.


"Ngapain kamu ikut! Ini perkumpulan para lelaki, sudah sama Didi dan Dina saja," sergah Marcello pura-pura marah.


"Biarin, mau semua lelaki juga nggak bakal takut. Karena ada superhero melindungiku." balasnya lagi.


"Bang, berhenti dulu di sini!" teriak Rara buat Marcello rem mendadak.


"Mau ngapain?" ketus Marcello menoleh, Rara turun kemudian menyebrang. Dennis hanya perhatikan tingkah gadis aneh itu


Daripada menunggu terlalu lama si gadis aneh bin ajaib, Marcello pun berbincang-bincang dengan Dennis pembahasan soal lelaki.


"Jadi, Om kapan nikahi adik sepupuku? Jangan lama-lama, Om. Keburu tua." tanya Marcello


"Secepatnya mungkin bulan depan, sekarang lagi menyusun semua persiapan pernikahannya, kalau kamu kapan? Jangan lama menjomblo keburu bukit tua." jawab Dennis membalas kata-kata Marcello

__ADS_1


"Sebenarnya Om benaran cinta mati nggak sih sama Rara? Soalnya aku lihat itu cewek nggak ada berubah selalu kayak sifat ibunya. Om Edy saja sampai kewalahan saat menikah sama Tante Nella. Pokoknya barbar nya itu nggak jauh beda banget, kalau aku saranin ya, Om. Buat anaknya dua saja biar nggak tertunda terus kayak mama papa Rara. hehehe..." panjang lebar si Marcello.


Dennis cuma bisa senyum, tak lama kemudian Rara pun kembali membawa beberapa es krim Alice itu. Banyak macam, setiap kemana pun pergi pasti itu es krim nggak boleh ketinggalan.


"Kemana saja, kok lama banget?" tanya Marcello menyalakan mesin mobilnya.


"Beli es krim untuk Kak Didi, soalnya tadi dia pesan beli es krim dia rindu sama es ini. Nanti malam mau makan berdua sama dia. Siapa yang menang menghabiskan es krim ini dapat hadiah paling besar kalau kalah cium pipi musuhnya," jawab Rara Dennis membatu celoteh somplak Rara benar buat dada memanas.


"Nggak boleh, yang boleh cium itu, Om!" terpancing sudah cemburu Dennis dari Rara.


"Tidak bisa, yang ikut main itu Didi sama Rara. Bukannya Om Oli sama Bang Marcello mau jalan-jalan cuci mata?" protes Rara membantah.


Perjalanan pulang keributan dimobil Marcello berlanjut membuat seisi jalan raya menoleh suara itu.


"Nggak! Kalau sampai kamu ciuman sama cowok tengil, Om buat kamu lemas!"


"Coba saja berani, tak gunting anu Om!"


"Marcello, kamu ikut juga, siapa kalah ikat gadis ini, kalau nggak Siksa cowok tengil itu."


"Oke siap komandan!"


"Nggak boleh! Ini permainan Rara sama Didi!"


"Nggak! sama Om!"

__ADS_1


"Nggak mau!"


__ADS_2