
Esokkan paginya Rara bangun lebih cepat dari biasanya soalnya dia dikagetkan sebuah ponsel bergetar sangat hebat. Seseorang tengah menelepon dirinya. Dennis masih terlelap tidur tanpa bisa bangun lagi terlalu adem ketika memeluk calon istrinya itu.
Nella tengah menyiapkan sarapan pagi utnuk kedua tamu tiba-tiba datang tanpa mengundang itu. Siapa lagi coba sahabat baik dari putrinya itu. Didi dan Dina, mereka datang berlibur karena merindukan somplaknya si sahabat kecil itu.
"Didi, Dina...!" Teriakan petir recehan kembali mengguncang rumah minimalis itu.
Marcello terbangun karena suara halilintar dari adik sepupunya ini. Dia baru saja pulang BBQ berkumpul dengan para teman-teman rambutan itu.
"Tumben kalian datang, kangen ya?" somplak Rara menyenggol siku Dina. Dina bukannya menyahut malah melirik sosok darimana buatnya lepas dari pandangannya itu.
"Itu abang sepupumu? Bang Marcello?" mulai deh si Dina, terjatuh kepada tampahan dari Marcello.
"Iya, suka? Naksir nih? Lebih baik jangan deh. Dia itu playboy loh..." kata Rara memfitnah.
"Siapa Playboy?" suara serak basah menendang telinga gadis remaja itu. "Siapa yang bilang playboy, orang - Rara bilang lifeboy kok dibawa kesini. Dikamar mandi banyak kok," elaknya
"Masa? Tadi aku dengar kamu bilang Kak Marcello Playboy. Aku bilang sama Om Dennis kalau kamu itu selingkuh," balas Marcello
"Enak saja! Siapa yang selingkuh. Mereka sahabat Rara!" protesnya
"Sama saja, buktinya kamu kenapa di sini? Kenapa nggak bangunin Om Dennis. Bilang saja mau dekat sama Didi biar bermesraan terus. Mau bikin Om Dennis cemburu ya?"
"Enggak! Om Oli nggak bakalan cemburu kok. Kan dia tau kalau Rara sama Didi itu cuma sahabatan. Iya, kan, Di." Rara mengedipkan matanya agar Didi kerja sama dengannya.
__ADS_1
Didi mengangguk, "Tuh kan, Bang. Dia saja nggak bakalan selingkuhi Rara. Soalnya dia juga sudah punya pacar."
"Benar ya, awas kalau kamu selingkuh. Benaran Abang bawa Om Dennis temui wanita lebih cantik dari kamu. Kalau bisa kawin sekalian!" Ancam nya.
"Coba saja abang berani, tak potong gajah abang!" Balasnya tidak mau mengalah.
Marcello masuk kembali ke kamar di bagian lantai dasar. Dina masih belum mengedip matanya sosok didepan mata sudah menghilang tetap tidak kembali ke alamnya.
"Gila, Ra... Itu abangmu, aku ingin jadi istri masa depannya deh." Dina mulai aneh seperti Rara.
"Aku saranin ya Din daripada kamu sama Abang Marcello, mending sama Lee Dong wook saja. Karena apa? Bang Marcello itu suka maini perasaan cewek. Lebih baik simpan perasaanmu untuk lelaki lain saja." Saran Rara kepada Dina.
Dina tetap ingin dekat dengan Marcello apa pun itu. Soal sakit atau bagaimana dia tetap harus mendapatkannya.
"Terserahlah apa katamu aku sudah katakan jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."
Rara kembali naik tangga menuju kamarnya, semantara Didi sedang menyusun barang di kamar sebelah Marcello berada.
Gadis remaja itu mengambil handuk untuk bersihkan diri, ternyata pria bermata sipit itu telah bangun dari tadi ketika sosok tubuh mungil menghilang dari pelukannya.
"Kamu mau kemana?" suara serak basah berat mengagetkan jantungnya itu.
"Mau mandi," jawabnya datar.
__ADS_1
"Ikut!"
"Tapi, Om..."
Rara belum sempat menolak, Dennis sudah mendorong tubuh mungil itu masuk kekamar mandi tersebut. Tidak lupa mengunci, kembali terdengar suara keanehan di kamar lantai dua itu.
"Om mau ngapain!" teriak Rara histeris
"Mandi dong!"
"Kita belum resmi Om!"
"Belajar, biar nggak gugup!
" NGGAK MAU! TUTUP! ITU NAMPAK OM!" "Sstt...."
"OM MATA RARA TERNODA!!"
Teriakan itu membuat para seisi rumah menggeleng kepala tidak ada rasa malu bagi dua pasangan itu. Didi senyum tipis paling suka lihat sahabatnya itu teriak tanpa melihat keadaan ditempat.
Marcello malah tidur sambil dengar lagu, Edy sudah dari tadi pagi berangkat ke kantor. Nella sedang memasak di dapur di bantu oleh Dina.
Suasana rumah ini bakalan lebih ramai, kemungkinan Dennis akan kembali cemburu ketika dia bertemu lagi dengan cowok tengil yaitu Didi.
__ADS_1