
TENG... TENG... TENG...
bangun... bangun... bangun...!
teriakan petir recehan dari gadis remaja putih bersih bagaikan susu tisu tembok memegang benda panci dapur serta sendok kuah.
Seisi rumah minimalis bertingkat dua setengah lantai itu menutup telinga dengan bantal mereka masing-masing kebisingan dipagi subuh tanpa melihat jam dinding tersebut.
TENG... TENG... TENG...
bangun... bangun... bangun...
Sahur... sahur... sahur...
teriaknya lagi posisi tengah depan pintu terbuka lebar itu. Masing-masing telah terganggu suara bunyian petir bagai dunia gempa.
SAHUR.... SAHUR... SAHUR...
Sekarang menggunakan microfon entah dapat dari mana itu gadis cebol ini. Suaranya lebih kuat ketimbang letupan halilintar...
__ADS_1
Untung rumah minimalis ini gendap suara dari arah luar rumah. Jadi para tetangga aman tentram. Edy memang sengaja untuk mengendap suara agar tidak menganggu kebisingan nya itu.
Pada akhirnya mereka mau tak mau pun terbangun dengan suara recehan petir itu. Rara sudah berdiri mengacak pinggang mempelototi wajah ketiga manusia dewasa ini.
Dennis menguap karena masih mengantuk rambutnya bagai sapu kusut berantakan di mana-mana.
Edy - sang ayahnya berjalan sempoyongan sebagaian arwah belum kembali pulang kerumah, Nella - sang ibundanya memeluk bantal rambut seperti tersentrum listrik berdiri bagai durian.
Mereka bertiga berdiri dan berbaris tepat di depan gadis cebol ini. Rara telah memakai merah putih, ikat kepala juga, pokoknya pipi kirinya juga merah putih.
"Kalian ini sudah jam berapa? Sahur pun sudah lewat! Sekarang kalian cepat mandi 3 menit! Setelah itu berkumpul di taman! Ayo, cepat!" suara lantang cempreng memekakkan telinga mereka bertiga.
"Jalankan, kalau nggak lari sepuluh putaran dari depan rumah sampai komplek taman surya! Teriak sambil bernyanyi! Mau pilih yang mana?" tanyanya kepada sang ayahnya.
"Gila kamu, ya sudah Papa mandi, tapi Mama juga ikut mandi bareng ya!" jawabnya.
"Terserah, nggak pakai belah durian!" peringatan lagi kepadanya.
Dua jam kemudian para tiga manusia dewasa ini kelelahan berlari. Hanya putaran di taman rumah saja. Rara duduk sambil menikmati es krim Alice.
__ADS_1
"Ra, sudah lima putaran ini," ucap Dennis terengah-engah mengatur napasnya itu.
"Oke, sekarang waktunya lomba makan kerupuk tanpa minuman!" kata Rara bangkit dari duduknya sudah menyediakan kerupuk berbaris.
"Gila, kamu, tanpa minuman keselek gimana dong?" protes Dennis
"Sudah ada tanda peringatan di kertas ini. Makanlah penuh perasaan, jangan mengebut karena perasaan benci dengan kecepatan! jadi artinya makan pelan - pelan sambil menghayal, Om!" ucap Rara menjelaskan kepadanya.
"Mana boleh begitu, kenapa kamu tidak ikut makan juga?" protes Dennis
"Ini peraturan dari Rara genius, sudah Rara peringatkan bangun jam 5 pagi tapi Om malah bangun jam?" Kembali Rara mengulang
"Jam 6 pagi," jawabnya "Nah yang salah sekarang siapa?" tanyanya lagi.
"Om Oli," jawabnya
"Bagus, sekarang laksanakan! Siapa yang menang dapat ciuman gratis dari Rara untuk yang kalah, siap dapat hukuman melanjutkan makan ini!"
Rara meletakkan sebuah mie samyang super pedas di meja mereka. Ketiga manusia ini menelan ludah susah payah.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, tak lama kemudian mereka pun menyelesaikan pertandingan ini. Dennis kalah dari dua orang tua itu. Kecurangan tidak adil baginya. Dia harus melaksanakan makanan super pedas itu. Rara malah santai menikmati es krim itu tanpa peduli pria yang sebentar lagi pingsan itu.