
Seharian Rara kembali tidak keluar kamarnya. Memilih untuk mengurung diri didalam apalagi kamar pria bermata sipit itu pun di kunci dari tempatnya.
Rara lebih dulu pulang kerumah dengan wajah sembab dan lesu banget, Nella yang baru saja akan menyiram bunga di taman depan terkejut dengan sosok putrinya penampilan sangat berantakan.
"Pa, bujuk Rara keluar dong? Mama takut dia sakit atau mengakhiri hidupnya," ucapnya kepada Edy
"Biarkan saja, Ma. Nanti juga dia keluar sendiri kalau lapar," kata Edy menarik pinggang Nella duduk di pangkuan.
"Nggak bisa, Pa. Sekaran atau jatahmu Mama potong sampai habis!" Ancam nya nggak main - main loh.
"Iya, iya, jangan potong habis dong, Ma. Kasihan adiknya tega amat sih. . ." Edy pun bangun dari duduk kemudian bersiap membujuk putri kecil yang paling dia sayangi.
Kalau Dennis sedang sibuk sama pekerjaan di hotel. Sejak pulang dari desa sahabatnya, hubungan mereka berdua sedikit jauh. Rara sungguh-sungguh nggak mau bicara sama dia. Pria bermata sipit itu tengah duduk dibalkon penginapan nya sambil memikirkan beberapa hari yang lalu ucapan gadis aneh itu.
Terlalu cemburu sama cowok dengkil itu atau terlalu gengsi ungkapin?
Ketika pulang dari sana, Rara benar nggak bersuara sedikit pun saat Dennis menanyakan ingin makan sesuatu, es krim dia beli juga tidak dimakannya. Jadi serba salah, kan, jadinya.
It's okay, setelah ini Rara akan beritahukan ke Mama Papa membatalkan pernikahan kita. Dan selanjutnya kita jalan masing-masing. Anggap perasaan, hati, cinta itu hanya permainan anak-anak. Kalau begitu selamat tidur mimpi yang indah, ciuman terakhir.
Ucapan terakhir dari gadis aneh, ditekan puntung rokok yang sempat dia isap atas asbak itu. Segera meranjak meninggalkan kamar penginapan itu. Para pekerja menyambut senyuman tidak dibalasnya.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Rara, Papa masuk ya?" Edy memegang gagang pintunya lalu di tekan kebawah berbunyi Ceklek! Edy mengintip sedikit takut putrinya melebar sesuatu bisa hancur wajah tampan untuk Mama tersayangnya.
Rara tengah berbaring tertidur menyamping belakangi pintu kamarnya. Edy buka sedikit melebar dan masuk ke kamarnya.
Gelap banget,
Tek!
Lampu menyala terang, Edy terkejut setengah mampus berantakan banget kamar putrinya ada gerangan apa gadis kecil suara petir receh ini jadi makin bingung oleh ayahandanya.
"Ra, bangun sayang..." Edy mencoba membangunkan putrinya.
Rara menoleh lalu menatapnya horor buat ayahandanya terperanjat mundur beberapa langkah. Di elus dadanya yang tidak bidang lagi. Tetap saja masih gagah, menurutnya begitu penilai orang lain.
Wajah Rara sangat menyeramkan, kedua matanya bengkak sembab karena kehabisan air mata berhari-hari, belum kantong matanya hitam melingkar di bawah matanya. Hidung merah seperti badut, kedua pipinya menyusut kedalam karena sering menahan lembab molornya. Bibir makin merah keterusan mengomel sendiri. Rambutnya berantakan semacam kesetrum listrik.
"Kamu kenapa?" tanya Edy kepada putrinya mendekat disisir rambutnya yang berantakan itu.
Edy jadi heran sama putrinya ini kenapa galau begini, ada apa sebenarnya.
"Ra, Om mau bicara sesuatu ..." Dennis masuk ke kamar gadis aneh itu tanpa mengetuk pintu menganggu kemesraan mereka berdua.
Dari persembunyian balik tubuh Edy, gadis itu mengintip sebentar dengan menakutkan seperti mata Suzanna kalau lagi mengamuk.
Pria bermata sipit itu menelan air ludah sangat pelan banget, ada yang nyangkut jagunnya.
"Itu Om Oli sudah pulang, kayaknya penting nih mau bicarakan bulan madu di mana ya?" Edy bertanya basa-basi. Tidak tahu dua pasangan aneh ini lagi berantem didalam bayangan masing-masing.
__ADS_1
"Kata Papa mau ajak Rara ke Mall, kan?" Gadis aneh ini malah mengalihkan pembicaraan tidak menghiraukan Dennis sedang memperhatikan calon istrinya super berantakan mata semuanya sangat hancur banget.
"Ehmm... Papa nggak... Aaa..." Edy tertahan cubitan pedas dari putrinya. Rara sudah beri kode kepada ayahnya menuruti saja daripada tangannya melayang sama Capitan seram.
"Ah, iya... Kamu mandi sana, Papa tunggu kamu di bawah ya, sayang," lanjut Edy berbicara senyuman manis pun terbit di bibirnya itu.
Rara pun turun tidak peduli pria tinggi masih perhatikan gerak gerik mengambil baju untuk bersiap keluar dengan Papa tercinta.
"Ra, Om..." Dennis dicueki sama gadis cebol ini.
Edy menghampiri keponakan sahabat baiknya. "Ikut aku sebentar," ucapnya kemudian keluar dari kamar putrinya itu.
Sekarang dua pria ini tengah duduk serius banget, Edy pasti sudah paham kenapa sikap putrinya jadi aneh begini sampai lesu beda dari biasanya. Setiap keluar kemana pun pasti terdengar suara petir recehannya.
"Apa dengan hubungan kamu dengan Rara?" Edy bertanya pada Dennis.
"Tidak ada, hubungan aku dan dia baik-baik saja," jawab Dennis tenang.
Dia tidak ingin menceritakan hubungan ini sedang retak seperempat. Dia bisa mengatasi sendiri tanpa bantuan siapa pun. Rara hanya emosional, semua berawal darinya.
"Benar tidak ada masalah apa - apa? Lalu kenapa putriku penampilannya semakin berantakan sejak pulang dari rumah sahabat kecilnya... Ah... Apa kamu cemburu dengan sahabat cinta pertama putriku?"
Skakmat!
Tepat sekali menuju ujung belati hatinya, tebakan yang sangat pas tanpa berkutik sedikit pun. Dennis tidak bisa berkata apa pun. Edy tertawa keras-keras, otaknya benar belum pensiun.
"Kamu juga ikut jalan-jalan, biar Om yang bereskan hubungan yang sedikit retak itu," ucap Edy bangun dari duduk bersiap untuk mengajak putrinya jalan-jalan.
__ADS_1
Rara memakai baju super seksi banget, celananya pendek memamerkan kedua paha putih mulus lalu baju longgar sampai menutupi celana yang di pakainya.
Sepertinya Dennis tidak suka calon istrinya pakai begituan, bisa-bisa banyak mata jelalatan di mall mencuri perhatian darinya.