
Kembali ke kantor, Rara masih tetap mengekori Dennis dari belakang. Setelah kejadian tadi siang di minimarket, wajah buram dari pria bersipit itu menjadi ceria pengaruh permen di berikan oleh gadis aneh.
"Eh... Om, sebentar deh!" Rara menghentikan Dennis melanjutkan kakinya ke ruangannya.
Dennis awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan sikapnya yang cuek itu menjadi kaku. Soalnya sekeliling ada di gedung memperhatikan sikap gadis aneh ini.
"Sudah. Begini, kan, rapi," di tepuk-tepuk jas kerjanya kemudian Rara pergi tanpa mengucapkan akan pergi kemana.
Dennis masih memperhatikan seluruh kulit pada tubuh gadis aneh bin ajaib itu mengarah tempat ruangan pemilik perusahaan ini.
"Wah... Mr. Lee di perhatikan sama Nona Rara. Aduh ... saya jadi iri nih, sama Mr," cerocos suara mengundang kesadaran Dennis seiring kedua matanya memicingkan pada seorang wanita cantik namun biasa saja, tengah memegang gagang pel.
Dennis pun tidak pedulikan wanita itu yang biasa di sebut Office Girl. Ia memilih untuk masuk ke ruangannya. Ada yang berdesir aneh pada jantungnya. Aneh tapi merasa kehangatan ketika gadis absurd itu merapikan baju dan rambut serta penampilannya. Senyuman yang tersembunyi kembali di terbitkan tanpa ia sadari.
Sementara Rara tengah duduk di salah satu ruangan di mana Edy - sang Ayahanda tengah sibuk sama beberapa berkas di meja.
Rara malah keasyikan memutar - mutar kursi beroda itu, sambil mengemut permen bertangkai itu.
"Pa, Rara mau tanya ..." suara merdu bagai lebah madu tak buat Edy menghentikan pekerjaannya.
"Ya, tanya saja," responsnya
Kursi jarak beberapa meter itu, di dorong maju sampai menabrak meja ukuran besar dan kuat itu tidak luput untuk Edy menghentikan aktivitasnya.
"Om Oli, keponakan sahabat Papa, kan?" tanya Rara pelan namun tetap terdengar sangat jelas.
__ADS_1
"Hmm..." lenguhnya si Edy
"Boleh, nggak, Om Oli tinggal di rumah Papa? Soalnya, rumah Papa besar terus setiap hari merah saja Papa mau mesraan sama Mama asyik tertunda mulu karena Rara, ya, kan?" Pertanyaan dari Rara buat Edy benar terhenti sama pekerjaannya.
Kedua bola mata yang benar bikin Rara senyum jail, meskipun Papanya tipe yang begitu di kagumi semua para kaum hawa ada di gedung ini. Tetap saja setia Edy hanya untuk istri tercinta sekaligus putri kesayangan tak jauh beda dengan sifat barbar-nya itu.
"Bagaimana, Pa? Om Oli boleh tinggal di rumah kita, kan? Daripada dia asyik bolak-balik olahraga lewat kompleks rumah kita. Mendingan tinggal bareng, terus kalau ada apa-apa sama Om Oli, kan, ada si cewek manis penyelamat menolong sang pujaan hati." Cengiran maut dari Rara
"Tapi, kamu tidak buat macam-macam sama Lee? Kamu tahu usia kamu dan dia itu..."
"Tahu dong, Pa. Papa tenang saja, Rara bisa jaga sikap yang baik dan sopan. Tapi lihat konsekuensinya, kalau Rara rada eror tahulah .... oke sudah fix, ya, Pa. Om Oli boleh tinggal di rumah kita!" Rara bangkit dari posisi duduknya, sedangkan Edy belum selesai berbicara itu putrinya sudah keluar dari ruangan kerja.
Rara kembali masuk ke ruangan Dennis tanpa mengetuk pintu. Ketika pintu ia buka, tak ada siapa-siapa. Celangak-Celinguk kepalanya cari kemana sang pujaannya. Ia menutup kembali, terus menghampiri bagian resepsionis.
"Mbak, Om Oli, kemana ya?" tanyanya
"Maksud Rara, Om Lee. Tinggi, sipit, cuek plus oke. Kemana ya?" ulangnya sampai ciri-ciri dia peragakan.
"Oh, Mr. Lee, sepertinya dia keluar dari gedung ini sekitar lima belas menit yang lalu. Kalau kemana sih, saya tidak tahu," jawabnya si resepsionis itu.
Rara mengarah depan utama ada di lobi cukup lama banget, terus senyum kepada resepsionisnya. "Oke deh, Thanks, ya!" Dia kembali pergi arah keluar.
Pada saat di depan lobi utama sebelah kanan suara yang sangat familiar itu terdengar oleh gadis aneh ini. Rara menoleh arah suara itu, dan wajah berseri pun terlukis di wajahnya.
"Om Oli... Papa sudah izinkan Om tinggal di ...."
__ADS_1
Rara berhenti jarak lima meter dari posisi di mana Dennis sedang berargumentasi dengan seseorang. Posisi membelakangi itu benar buat gadis remaja ini penasaran apa yang didebatkan oleh pria tinggi bermata sipit itu.
Takut mengganggu pembicaraan manusia dewasa, Rara bersembunyi dan menguping pembicaraan manusia dewasa di balik tembok tebal dan besar.
"Untuk apa lagi, Lee? Sudah sekian kalinya akan menemui mereka. Tapi, apa? Mana buktinya? Kamu malah lari dan memilih untuk kerja di negara tidak berpendidikan ini!" suara wanita yang sedang kesal kepada Dennis
"Kamu salah paham, aku bisa jelasin. Aku bekerja di sini atas keinginanku. Oke, kamu boleh katakan aku pria pengecut, tapi sadarkah, aku lakui ini juga karena kamu. Aku menghindar agar kamu tahu aku masih sayang dan cinta. Tapi, aku belum bisa buktikan yang sesungguhnya. Bersabarlah," ucap Dennis kepada wanita itu.
"Bersabar kamu? Sampai kapan, Lee. Kamu tahu aku datang ke sini bukan hanya untuk mendengar kejelasan tidak penting! Lebih baik kita akhiri saja."
Om Oli sudah punya pacar, ya... Rara, elo keterlambat. Eh... tapi itu pacarnya pergi, pergi loh. Berarti ada kesempatan kedua dekati Om Oli dong? - Pertanyaan demi pertanyaan pada pikiran Rara berputar - putar.
Dennis menghembuskan napasnya panjang,kemudian kembali ketempat kerjanya. Langkahnya terhenti tidak sengaja menemukan sosok seorang tengah berdiri di balik tembok tebal dan kuat itu.
Apa dia mendengar semua pembicaraanku dengan Laura? - pertanyaan dari Dennis dalam hati
Dennis anggap tidak melihat gadis aneh itu ada di sana. Ia memilih melangkah seperti biasa, Rara yang sibuk dengan pikirannya tersadar dan mengekori pria tinggi bermata sipit itu masuk ke gedung ini.
Senyuman diam di balik wajah cuek pada pria itu tetap melangkah. Rara malah mengejar langkah kaki lebar dari pria tiang listrik itu.
**
**
__ADS_1
**Kalau ini Castnya Dennis Lawendra Lee.. atau Om Oli. ..
Sudah menarik atau suka? tunggu lanjutan dariku. Oke. Maaf lama update... 😂**