
Sudah satu minggu berada di kota Batam sikap Rara semakin memburuk dengan keadaan murung
lemas dan tidak selera makan. Dennis kebingungan dengan tingkah laku aneh
istrinya. Setiap jalan-jalan mencari makan merasa lapar namun tidak pernah di
habiskan selalu dirinya menjadi penghabisan makanan.
Sekarang Rara tidak bisa ke mana-mana merasa mual mencium sesuatu di hidungnya padahal
perutnya sangat lapar sekali. Setelah apa yang di nanti kan oleh Dennis ini
akhirnya membuahkan hasil.
Rara benar sengsara dengan perutnya, serasa ingin mati. Begini rasanya jika datang
penghuni baru di perutnya itu. Muka pucat berat badan mulai menurut pastinya.
Kalau lihat suaminya mengunyah sesuatu pasti terasa enak banget.
"Bagaimana? sudah lebih baik?" Dennis duduk membawakan buah untuk istrinya.
"Nggak mau makan, bau!" Rara menutup mulutnya melihat buah semangka kesukaannya.
"Sedikit saja, biar terisi. Atau mau makan bubur? biar aku masakin." Dennis perihatin dengan kondisi istrinya.
Rara mengangguk dan kembali berbaring tidur. Dennis kembali ke dapur dan membuat bubur seadanya
saja. Sambil mengecek google untuk kehamilan apa saja yang boleh di makan oleh
ibu hamil muda.
Dua puluh menit kemudian bubur pun selesai masak, Dennis membawanya sementara Rara berbaring
tidur dengan lemas nya.
"Honey, bangun... makan bubur sedikit dulu, ya." Dennis membangunkan istrinya, Rara bangun
dibantu oleh suaminya.
Rasa kepalanya masih sakit apalagi mual itu benar tidak tertolong lagi. Dennis menyuapi
istrinya perlahan meskipun masih panas buburnya. Satu kali menelan bubur walau
tidak dapat merasa asin tetap saja Rara harus menahan untuk tidak mual lagi.
Lima suapan Rara mendorong jauhkan sendok dari mulutnya. Dia mulai merasa aneh pada perut
tersebut. Dennis tidak memaksa dan berikan teh hangat untuknya.
"Minum obat ya, untuk menghilangkan rasa mual."
Setelah selesai meminum obat dari dokter tersebut dia kembali berbaring. Tinggal beberapa hari
lagi kembali ke kota mereka. Begini rasanya kebahagiaan tidak terlupakan oleh
pengantin ini.
****
Lima hari kemudian...
Honeymoon telah berakhir waktunya mereka pulang ke kota asal. Kondisi Rara lebih membaik walau pun masih merasa pusing dan mual. Semoga sampai tujuan tidak mengganggu kehamilan yang masih muda itu.
Pukul 19.00 malam mereka sampai di rumah minimalis itu, Rara tidak berdaya semakin pucat
dan rasanya arwah telah hilang satu persatu. Dennis menggendongnya sedangkan
tas dan koper di bantu oleh supir pribadi Edy.
Nella turun memperhatikan mereka berdua apalagi yang lebih di khawatir kan adalah putrinya.
__ADS_1
"Kenapa dengan Rara?" Nella bertanya kepada Dennis.
"Sakit, Ma." jawab Dennis menurunkan tubuhnya atas tempat tidur dan menyelimuti
nya.
"Sudah periksa ke dokter belum? Kok bisa sampai sakit begini. Aduuh pucat sekali putriku." Nella duduk di tepi ranjang dan menyentuh keningnya.
"Sudah, dia perlu banyak istirahat dan kandungannya pun kuat kok." kata Dennis, Nella
menoleh tercengang dengan apa yang di katakan oleh menantunya.
"Maksud kamu, Rara hamil?" tebak Nella memastikan lagi Dennis mengangguk.
Wajah Nella shock dan keluar dari kamar mereka berdua. Kemudian masuk ke kamarnya
mengguncang tubuh suaminya yaitu Edy.
"Pa.. Papa... kita akan jadi nenek dan kakek!" seru Nella membuat kepala Edy
pusing karena guncangan hebat itu.
"Kakek nenek apanya sih, Ma! Sudah dong pusing kepala Papa bisa-bisa aku hamil!"
balasnya memegang kepala terbangun karena guncangan dari istri barbar.
"Ih... Mama serius juga!" di pukul bahunya kesal.
"Ya memang benarkan, kamu guncangan tubuh Papa, anak otak ku bisa di bagi jadi dua nantinya," ucapnya bisa lawak lagi.
"Mama serius loh, Pa. Rara putri kita sedang hamil.. Sekarang lemas di kamar terdampar atas tempat tidur muka kayak mayat hidup!" kata Nella lebih sadis lagi menghina putrinya sendiri.
"Hah? Putri kita meninggal? Ya Tuhan! Apa yang salah dengan putriku!" Edy makin aneh saja berkicau. Nella beritahukan putrinya hamil malah di sebut meninggal.
"Kok meninggal sih, Pa. Rara hamil kita akan kehadiran cucu di rumah ini. CUCU!!!" Nella meneriaki di telinga suaminya.
Sehingga di samping kamar terdengar jelas oleh Dennis tengah duduk menemani istrinya yang baru saja sadar dari tidurnya.
"Biasa orang tua bahagia mendapatkan kabar baik kalau kamu hamil," jawab Dennis
menyiisirkan rambut istrinya.
"Oh."
Di samping kamar masih belum kelar dengan perdebatan orang tua somplak itu. Membuat dua pasangan
pengantin ini memilih untuk tidur saja.
Sementara Marcello baru saja pulang dari acara futsal nya. Keributan di rumah minimalis
tidak akan pernah sepi karena memiliki keluarga humoris.
****
Semasa kehamilan Rara, Dennis merasa tersiksa tiada tara. Penyiksaan pertama adalah ketika Rara
menikmati makanan bergizi dan di buat oleh ibunya sendiri yaitu Nella.
Dennis bolak balik dari kamar mandi membuang isi perutnya serasa mual, pusing dan benar tidak bisa di sebut lagi. Istrinya yang hamil dia yang morning sickness. Rasanya ingin mati lemas tidak bertenaga.
"Om, mau buah semangka?" Rara menawarkan suaminya bentuk kuning berbintik hitam di
mana-mana telah di potong bentuk kotak-kotak.
"Nggak kamu makan saja, untuk kandunganmu. Om tidur sebentar ya, sakit kepala,"
ucapnya merebahkan badannya di atas kasur.
"Om yakin? Mau aku panggilan dokter?" Rara malah perihatin sama suaminya dia yang
hamil kenapa suaminya terdampar tidak berdaya.
__ADS_1
Baru juga satu bulan bagaimana nanti sembilan bulan apa suaminya bisa bertahan sampai pasca
melahirkan.
"Nggak perlu tidur saja, asal kau di sini temani Om ya," ujarnya menyandarkan
kepala di kedua paha istrinya.
Rara tidak bertanya lagi, masih sibuk dengan buah semangka di beli oleh Marcello ke pasar gara-gara perintah dari tante Nella..
***
Malam telah tiba Rara duduk di meja makan menikmati sajian makan yang sehat untuk stamina dan
kandungannya. Nella dan Edy sangat bahagia bahwa putrinya tidak rewel jika masih hamil muda. Beda dulu kehamilan Nella buat suaminya kewalahan banyak aneh dan macamnya waktu hamil tepat di honeymoon. Ingin ketemu pria ganteng lah, di periksa dokter Hendra lah.
Rara malah enjoy lahap dengan makanan di depannya. Tidak banyak memilih cuma yang di perhatikan
adalah suaminya Rara terdampar di atas sofa di temani oleh Marcello sebagai baby sister merawatnya. Wajah pucat begini kah ngidam suami ketiga istri hamil.
"Bagaimana sudah lebih baik?" Marcello bertanya memijat pundak Dennis
"Sudah lebih baik, sampai kapan ini berakhir menyiksa banget," ucap Dennis ingin
bebas dari dunia morning sickness.
"Sabar saja, kata dokter sih paling sampai tiga bulan tergantung stamina Om kuat
mental nggak?" jelas Marcello.
"Iya bisa jadi.. Tapi lihat gadis cebol itu makannya lahap, aku yang lihat mual. Bawaan anak kali ya? Kalau bisa anakku tidak bertingkah aneh kayak dia. Bisa stress masalahnya." omel Dennis panjang lebar
"Mudahan saja, Om!" senyum Marcello kembali nonton film bolanya.
Rara akhirnya selesai makan kenyang dan di ambil buah - buahan penyegar cuci mulut dibawa ke
ruang tengah bergabung dengan suaminya dan juga abang sepupunya.
"Ini aku bawakan buah, di makan ya! Om masih pusing?" Rara bertanya duduk di
sampingnya perut masih rata belum muncul bulat.
"Sudah mending," jawabnya
"Btw, Bang Marcello tidak kangen sama Dina? Sudah sampai mana nih perkembangan hubunganasmara kamu dengan sahabatku?" Rara mulai bertanya pembahasan tentang Dina
"Tidak ada jawaban dari nya, mungkin tidak ada harapan bagiku untuk dekat dengannya,"
jawab Marcello datar
"Berjuang dong, Bang! Masa dapatin seorang cewek tomboy seperti Dina saja susah banget
sih? Percuma Playboy tapi skillnya cuma warrior," ejek Rara mencomot buah
ke mulutnya.
Dennis mengunyah pelan-pelan di cari buah yang super asam untuk mencegah rasa mual.
"Om, besok kita ke rumah pak Raden, ya!" seru Rara mencomot lagi buah di piring
"Ngapain kesana? Kan, tidak ada musim rambutan?" Dennis bertanya
"Ada deh, aku mau tanya sesuatu sama Pak Raden. Bang Marcello juga, ya!" jawabnya lirik Marcello sedang sibuk dengan film Bolanya.
"Loh kok aku juga ikut?" Tunjukin diri sendiri.
"Cadangan Bang! Biar nanti ada yang bantu Om Dennis, masa kamu tega Om Dennis sekarat di
pohon jambu lilin sih!" tuturnya
"Iya deh, demi keponakan ku, dan juga Om Dennis. PUAS!" kesal juga Marcello
__ADS_1
"Gitu dong! Baru abangku yang baik sayang keponakan." cicit Rara senyum.