
Duduk manis di sebuah minimarket memang kegemaran Rara. Setiap hari malahan tidak pagi, siang, sore, malam. Tetap saja ada yang di nikmati olehnya, memang kebiasaan turun menurun dari ibundanya si Nella.
Dennis sedang berbelanja beberapa kebutuhan stok untuk sehari-hari di hotel. Kenapa harus beli segala sih, kan kebutuhan hotel banyak.
"Om, benaran nggak mau tinggal di rumah Papaku? Om, anggap saja itu sewa kamar sama halnya sewa hotel sebulan. Terus makan juga tersedia, kalau bosan bisa makan di luar. Makanan di pinggir jalan juga higenis," celoteh Rara setelah permen batangan ludes di gigit langsung tanpa ada sisa rongga mulutnya.
Dennis tidak menanggapi, masih sibuk sama ponselnya. Lama-lama Rara benaran rampas itu ponsel dari pria super cuek.
"Om, please deh, kalau ada gadis cantik, manis itu lagi ajak bicara di sahuti, respons, atau kasih kode gitu. Ini malah asyik sama ponselnya. Ponsel saja nggak bisa bicara terkecuali nada panggilan," lanjutnya celoteh tanpa ada titik koma di mulutnya.
Dennis melangkah kaki sedikit menjauh dari gadis absurd itu. Dia sedang menerima panggilan telepon sepertinya benar sangat penting dan serius. Dari cara Rara perhatikan ekspresi pria sipit, tiang listrik itu berbicara.
Sepertinya ada masalah deh sama itu Om Oli... Dia bicara sama siapa sih. Terdengar sedikit saja sih, walau logatnya kurang gue pahami. katanya dalam hati menyimpulkan sendiri.
__ADS_1
Rara memasang daun telinga sebelah kiri lebar-lebar alias menguping pembicaraan dari pria tiang listrik itu.
"Dengari aku dulu, kamu bisa datang ke sini. Atau perlu aku jemput dirimu. Apa perlu aku buktikan kepadamu, kalau aku benar serius. Aku bekerja di sini juga untukmu bukabersenang-senang ... Come on, baby... kamu jangan buatku semakin pusing. Believe me, okay! I'm really love you...?"
Hanya itu dapat Rara dengar dari pembicaraan Dennis dengan si penelepon.
Dennis menutup matanya dengan satu tangan kosong. Dia benar pusing dengan hubungan seorang wanita.
Hembusan napas panjang dan kasar membuatnya tidak akan menyerah, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semua. Rara duduk seperti biasa pura-pura memutarkan permen batang pada mulutnya. Namun sudut bola matanya melirik, wajah pria itu sangat kesal, jengkel, dan galau.
Dennis menyadari kalau gadis aneh ini sedang memperhatikannya, dia pun membalas menatap gadis itu tepat di hadapan dengan permen batang itu.
__ADS_1
Rara tidak merasa takut dengan tatapan tajam seperti serigala malahan lebih menantang untuknya.
"Om, ada masalah, ya?" Rara memulai percakapan tanpa merasa ragu.
Tak ada jawaban, Rara membuka permen batangan bungkusan biru, tapi isinya merah ada pegangan juga.
"Biasanya kalau lagi banyak pikiran atau masalah serius, permen ini bisa meringankan otak, Om. Gue yakin Om pasti fresh sama permennya. Rasanya boleh di bilang mantap. Permen ini tidak melihat usia, seperti rasa suka gue sama Om." Di berikan permen terbuka kepada Dennis.
Dennis malah meratapi permen warna merah merona itu, Rara merasa pegal pegang permen itu.. dengan rasa kesal, dia pun langsung memasukkan permen itu secara paksa kemulut pria sipit.
Dennis terkejut bukan main, soalnya itu permen mengenai gigi depannya sakit sih, cuma ada rasa manis-manisnya.
"Sudah di bilang rasanya mantap juga, masih di lihati terus. Itu permen nggak bakal gue taruh racun. kalau pun ada, palingan jatuh di pangkuanku. Nanti gue kasih napas buatan untuk Om," omelnya si Rara buat Dennis membatu tidak dapat berkata-kata.
__ADS_1
Terlalu menikmati permen di mulut rasa buah semangka, terasa manis. Ada benarnya pikiran pun lenyap setelah mengemut permen ini.