
Perjalanan menuju makanan khas Korea, ponsel Rara berbunyi tanpa ragu dia pun mengangkatnya.
"Ya, Di, ada apa?" sapanya langsung
"....."
"Benarkah? Oke aku kesana sekarang!"
Langsung di matikan ponselnya kemudian menoleh suaminya "Om kita ke Tea Garden, saja!" perintahnya.
"Loh nggak jadi makan khas Korea?" tanyanya balik makin heran
"Lain kali saja, sekarang ke Tea Garden mereka sudah menunggu Rara!" jawabnya.
Tanpa pikir panjang langsung deh Dennis banting setir membelok arah tujuan tersebut. Hampir mobil belakang rem mendadak.
****
"Selama itu?" Kaget Rara suaranya jauh lebih kerasa dari punya musik ada di Kafe ini.
"Sesuai janji yang di tetapkan, mungkin aku dan Didi bakal tinggal negara sana. Sekaligus menjadi warga di sana. Surat-suratnya sudah di urus oleh sahabat Papa," jelasnya lagi oleh Dina.
"Sepuluh tahun itu sangatlah lama, Dina. Aku yakin kamu bakal lupa diriku, eh... tidak ding..."
"Kamu tenang saja, aku sama Didi sering komunikasi sama kamu lewat aplikasi tercanggih."
"Benar, ya! Awas kalau nggak telepon-telepon.. Terus Didi? Jangan cuek sama cewek, kasihan nanti malah somplak kayak aku makin di cuek malah makin cantol ke hati orang lain loh, perjuangin cinta itu berat. Harus semangat biar anakku nanti punya teman dari luar asing." celoteh nya panjang lebar.
"Iya, bawel!" Bukannya jawab sopan.
__ADS_1
Dennis masih diam duduk menyimak percakapan mereka bertiga. Cowok tengil yang pernah di cemburui gara-gara cium permainan kartu.
Dua jam berada di Kafe Tea Garden akhirnya mereka bisa pulang ke asal masing-masing. Dennis bersiap starter mobilnya sedangkan Rara harus berpisah dengan dua sahabat kembarnya itu. Rasanya tidak rela berpisah.
Gadis itu tidak bisa mengantar mereka berdua ke bandara. Dina dan Didi tidak permasalahkan jemput atau tidaknya.
"Kamu benar tidak mau antar mereka sampai ke bandara?" Dennis mencoba mengingatkan lagi.
"Tidak, kalau aku antar malah sulit pisah dari sahabat baikku. Nanti situnya cemburu kalau aku lengket terus sama dia." jawab Rara memasangkan sabuk pengaman.
"Loh, memang siapa yang cemburu?"
"Situ yang cemburu, dari tadi kan aku sama dua sahabat kembar berbincang-bincang kamu diam terus," jawabnya santai.
"Hmm... memang aku terlihat cemburu ya?" tanyanya lagi. "Ya pasti dong, suami mana sih kalau istrinya lagi bincang-bincang sama seorang lelaki padahal itu sahabat sendiri tetap saja kalau diam itu tandanya cemburu walau tidak di ekspresikan," jawabnya lagi menggurui.
Dennis mangut-mangut, "Pintar banget sih istriku ini, siapa ajari tata bahasa seperti itu?" Di elus rambut kepalanya.
***
SATU BULAN TELAH BERLALU....
Masa pernikahan Dennis dan Rara tidak merasakan hidup sebagai suami istri dan rumah tangga baru. berjalan liku-liku tidak arah, masih belum mendapat anugerah dari atas berikan momongan untuk gadis berusia delapan belas tahun ini.
Dennis telah mendiskusikan kepada dua orang tua gadis serta mertua, untuk momongan sementara di tunda dulu sampai gadis ini bersiap menerima konsekuensi menjadi orang tua. Sifatnya masih labil walau otaknya absurd aneh banget.
Bulan madu untuk mereka berdua tetap di laksanakan, rencana mereka akan honeymoon tidak jauh dari kota metropolitan ini. Tapi tetap harus memilih suasana super romantis. Kata Nella honey moon di Paris. Ya memang di sana tempat romantis akan tetapi gadis remaja ini ingin kunjungi ke Korea.
Tapi di urungkan nya sesuai suara terbanyak akhirnya mereka memutuskan untuk honeymoon di Negara Kanguru. Tempat itu boleh juga romantis ada salju, bisa ketemu kembaran istrinya yaitu Koala. Suka lengket di punggung suaminya.
__ADS_1
"Setelah sampai di sana, kita cari kuliner dulu ya, Om," celoteh Rara tanpa henti mengoceh tidak jelas.
Dennis masih sibuk merapikan baju kedalam koper, "Ini buat apa di bawa?" tanya pria bermata sipit itu mengangkat kostum beruang.
"Untuk di pakailah, kalau misalkan nanti kita kedinginan bisa pakai itu!" jawabnya santai menggoyangkan kaki.
"Jangan aneh-aneh deh, bawa tidak penting begini, kalau kamu kedinginan, aku bisa peluk dirimu menghangatkan." balasnya memisahkan barang tidak penting dari kopernya.
"Kan, kurang Om. Nanti hangat tubuh aku, terus Om siapa yang menghangat tubuhmu?" Rara bertanya.
"Pancing ini ceritanya?" Dennis menghentikan aktivitas susun menyusun.
"Bukan, jangan salah macam-macam... Aku cumaammph..."
Tingkah aneh Dennis yang mesum kumat lagi, akhir - akhir ini dia terlalu agresif sama istrinya. Setiap Rara mengucap kata sedikit saja pasti sensitif dari Dennis membuatnya hampir gila.
"Ahhh... Om, sudah..." Rara tidak sanggup menerima ciuman panas dari suaminya.
"Belum, tanggung..." ucap Dennis pelan masih mencumbu leher istrinya
Rara bisanya memejamkan kedua mata merasa sensasi jilatan dan ciuman panas dari suaminya.
"Hmm.. Omm..." Rara tidak bisa menahan rasa sentuhan agresif dari pria ini.
Dennis semakin lincah mencumbu, mencium dan sentuhan dari jari telunjuk bagian sensitif milik istrinya itu.
"Aahh..." Rara mendesah pelan takut mengganggu penghuni lain di rumah ini.
"Oo--mmm...." Lirik Rara
__ADS_1
Dennis membalasnya, hubungan suami istri di kamar milik mereka berdua suara raungan desah memanas di dalam sertai malam hari yang dingin dan sejuk.
"Segera hadirkan suara bayi di sini, sayang.." bisik Dennis tidak sabar menginginkan momongan.