I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Lemas


__ADS_3

Dennis dan Rara kini berada di Pantai Cafe. Yang di penuhi oleh penduduk setempat. Menceritakan


tentang Pantai Cafe ini tidak akan ada habisnya.


Pantai café ini tidak hanya terkenal karena keindahan naturalitas alam, ombak laut, rindang nya pepohonan, hamparan pasir Pantai nan eksotis serta tempat nya yang bersih namun juga karena Pantai ini menjadi


tempat yang khas untuk melakukan dinner romantis bak liburan di Maladewa atau


di Honolulu, Hawaii. Keindahan Pantai café yang bernuansa bak liburan eksotis


dengan lokasi nya tidak jauh dari pelabuhan singgah yacht mewah dan kapal-kapal


barang ini memang sangat pas sebagai tempat tujuan wisata sejenak dari


rutinitas yang membosankan dengan pemandangan natural biru laut, arus burung


laut hingga berbagai hamparan pasir putih dan jajaran pohon rindang yang


menghasi Pantai ini.


Pantai Café menghadirkan kemegahan wisata bahari yang


tiada habisnya mulai dari pemandangan alam, ombak laut yang masih natural,


kebersihan Pantai, hamparan pasir, pepohonan rindang dan masih banyak lagi hal


yang patut dikagumi. Selain itu, fasilitas umum yang terdapat di sini juga


termasuk halaman parkir yang luas, mushola, kamar mandi, rumah makan yang


menjual aneka makanan khas laut.


Obyek Wisata di Pantai Cafe


1. Spot


Dinner RomanticTempatnya yang


eksotis ditambah dengan nuansa bak negeri dongen lengkap dengan gazebo-gazebo


tepi laut dilengkapi hidangan mewah dari resort dan restoran mewah tak pelak


membuat lokasi ini dijadikan pilihan dinner romantis atau pun sekadar meminum


kopi layaknya di café namun tentu lebih menarik.


2. **Pemandangan Malam Berbeda**


Pantai-Pantai lain yang saat malam justru pemandangan tidak nampak, bonus bagi


pengunjung di Pantai Café yang akan disuguhkan kerlap-kerlip cahaya lampu nan


mempesona. Terletak setengah jam dari negara kecil yang sibuk yaitu Singapur


dan geografis nya sebagai pulau transit utama menjadikan posisi nya


menguntungkan dengan gemerlap lampu yang akan terlihat.


3. SunsetBagi pulau yang terletak di wilayah paling ujung Indonesia ini memang tidak heran bahwa sunset


nya akan begitu mempesona di tambah dengan kedamaian suasana yang dapat


dinikmati baik dari dermaga, resort mewah mau pun di bawah pohon kelapa.


4. Spot FotoSangat disayangkan apabila pengunjung tidak memanfaatkan momen. Setengah jam dari


Singapur, terlepas dari Pulau Sumatera, dikelilingi kapal mancanegara, ombak


laut, pasir putih, spot dinner romantic serta batu karang menjadikan Pantai ini


memiliki banyak spot foto yang luar biasa ditambah dengan kerlap-kerlip


pemandangan kota.


5. Sewa PerahuDi Pantai café


ini pengunjung juga dapat menyewa perahu untuk sekadar menikmati indah nya


pulau terluar di Indonesia ini.


Pantai Café


menghadirkan nuansa berbeda dari kebanyakan Pantai yang hanya dijadikan sebagai


sarana menengok keindahan alam yaitu dengan ciri khas nya sebagai spot dinner


romantis bak seraya dinner di Venice.


Rara tengah


duduk di salah satu meja sama memandangan lautan yang sebentar lagi matahari


terbenam. Masih dengan fisik lemas dan lesunya, rasa badmood mulai menjadi -


jadi. Dennis membawa beberapa makanan dari Pantai Cafe ini. Dengan menopang


dagu kedua tangan melipat di atas meja.

__ADS_1


"Ayo di makan dulu, mumpung masih hangat," bujuk Dennis kepada istrinya.


"Nanti saja, perutku belum terasa lapar," jawabnya lesu.


"Kenapa? Sakit? Mau ke dokter?" Dennis makin cemas keadaan istrinya tadi siang juga


begitu setelah berhubungan, sekarang apalagi.


"Nggak mau, mungkin kurang tidur saja." tolak nya bangun dari menopang dagunya.


Menarik sepiring makanan di depannya.


"Kamu demam ya? hangat wajahmu, pucat lagi." Dennis menyentuh bawah rahangnya


menyentuh leher tersebut terasa hangat panas.


"Tidak kok, mungkin tanganmu yang panas kali, orang dari tadi badanku tidak terasa hangat


malah dingin," ucap Rara merancau aneh.


"Dingin? Disini malah panas bilang dingin, nanti kita ke dokter saja ya." bujuk


Dennis mengharap menuruti.


"Nggak perlu, nanti tidur juga mendingan kok," tetap menolak untuk pergi ke


dokter


Dennis cari cara dulu untuk supaya istrinya mau ke dokter periksa. Atau ia mencari google


permasalahannya apa dulu.


****


Pada malamnya Rara berbaring tempat tidur dengan posisi mencueki suaminya. Dia benar ingin


tidur menghilangkan semua rasa resah, lelah, dan lemas nya.


"Kamu benar tidak mau ke dokter? Periksa saja takut kenapa - kenapa." Dennis terus


membujuk istrinya, Rara tetap bersih keras menolak memilih pejamkan kedua


matanya rapat-rapat.


Dennis menghela napas pendek menyerah lebih baik, membiarkan istrinya tidur di sana. Ia memilih


duduk di luar sambil membuka laptopnya.


Hari semakin larut malam kedua mata milik pria berkata sipit ini masih terjaga oleh malam


yang dingin. Menoleh arah tempat ranjang Rara sangat lela dalam tidurnya.


lebih baik dari sebelumnya.


****


Hari sudah pagi matahari mengganggu kedua mata yang tertutup itu dari jendela tersebut. Dennis


tertidur di badan sofa selama berjam-jam ketika tengah malam istrinya merengek


karena sakit perut.


Tengah malam itu pula memasak  nasi goreng seadanya saja untuk Rara.. Setelah habiskan nasi


goreng itu, kembali tidur. Dennis yang baru akan melanjutkan alam mimpinya.


Terdengar lagi rengek manja dari istrinya.


Waktu tidurnya tersita lima jam karena keanehan istrinya menjadi-jadi. Sekarang ia begitu


lelah dan kepalanya pusing efek kurang tidur.


"Om! Bangun! Kok malah tidur sih! Hari ini kita jadi kan ke mal?" Rara


membangunkan suaminya yang masih memeluk bantal sofa.


"Ehm..." lenguhnya namun staminanya belum bangun dari alam mimpinya.


Cup!


"Om!"


Rara mencium bibir suaminya, biasanya kalau suami tidak bangun harus kiss morning dulu biar


stamina nya bangun dan semangat lagi. Ini tidak ada reaksi apa pun. Dennis


masih sibuk dengan alam mimpinya.


Rara sudah mencium berulang kali sampai mengeritik pun tidak ada efek apa pun. Dengan cara


kasar "AAARRGGGHHH!!" Dennis membuka lebar kedua matanya terduduk


muka kusam dan berminyak apalagi rambutnya berantakan.


"Kamu sudah bangun, masih sakit? Mau masak apa?" racau Dennis masih belum terkumpul


arwahnya.

__ADS_1


"Sakit apaan sih, Om. Ayo cepat mandi. Kita Mal, nanti keburu ramai terus hujan!"


Rara menarik tangannya untuk berdiri dari posisi duduknya.


Bukan badan Dennis bangun malahan tubuh kecil Rara tertarik maju ke depan dan pria itu


memeluk istrinya kembali tidur ke dunia mimpinya.


Rara terbengong dan menatap wajah suaminya kelelahan. "Om! Ke mal yuk!" bujuk Rara.


Tidak ada sahutan sama sekali, sehingga ia lelah sendiri perlahan membuka kedua tangan


melingkar pinggangnya. Ia pun beranjak pergi meninggalkan suaminya seorang diri


di kamar.


***


Pukul 14.00 siang Dennis baru saja bangun sepertinya stamina kembali full. Dia pun bangkit


dari posisi baring atas sofa itu. Kemudian menuju ke kamar mandi.


Dua puluh kemudian Dennis keluar dengan pakaian santainya. Sekarang ia mencari keberadaan


istrinya, di kamar tidak terlihat wujudnya, menuju ke kolam renang juga sama.


Kembali lagi masuk ke ruang tamu juga tidak sama.


Lalu dia mengaruk kepalanya tidak gatal mengingat kemana perginya si istri aneh itu.


Kedua matanya mendelik dan menelepon istrinya.


"Halo?" tersambung suara manja dari seberang.


"Kamu ada di mana?" Dennis bertanya


"Aku ada di market dekat Mal batam, kenapa? Sudah kenyang tidurnya?"


"Kenapa tidak bangunkan aku kalau mau pergi ke Mal?"


"Aku sudah banguni Om, Om sendiri molor kayak babi!"


"Ya sudah kamu tunggu disana, aku menyusul!"


Panggilan telepon berakhir, Dennis pun pergi menyusul menggunakan kendaraan online.


Sementara Rara tengah duduk menikmati sajian makanan ringan di tempat duduknya.


Terik matahari yang panas memang buat tenggorokan gadis remaja ini kehausan. Dan makanan


ringan seperti kerupuk, roti, kue, dan lain sebagainya penuh dengan bungkusan


plastik sudah habis itu.


Lima belas menit kemudian Dennis menemukan sosok mungil si istrinya sedang menikmati jus di


mejanya.


"Om mau makan?" Langsung Rara menawarkan suaminya makanan.


"Memang kamu sudah makan?" Dennis bertanya kembali


"Sudah, ini mau tambah lagi, makanya tunggu Om datang biar yang habiskan suamiku,"


jawabnya.


Pesanan makanan Rara pun datang, ada sate, lontong sayur, beraneka macam makanan. Dennis


melongo tidak percaya ini penyiksaan atau bagaimana.


"Ini semua kamu yang pesan?" Dennis bertanya


"Iya, kenapa? Om nggak suka makanan yang berat?" jawab Rara balik bertanya.


"Nggak, suka kok," jawabnya mulai memakan pesanan istrinya yaitu sate.


Anehnya Dennis tidak bisa menolak entah bawaan apa menuruti dan menghabiskan pesanan istrinya.


Di lirik kembali wajah Rara kembali memucat, Dennis semakin khawatir ada apa -


apa dengan kondisi kesehatan istrinya.


"Kamu tidak apa-apa?" Dennis menyentuh keningnya, hangat.


"Nggak, cuma pusing. Mungkin efek terik matahari terlalu panas," ucapnya lesu.


"Kalau nggak kita ke dokter saja ya! Aku takut kamu kenapa-kenapa." bujuk


Dennis.


"Nggak suka ke dokter nanti di suntik." menolak lagi si Rara


"Pasti di suntik dong, daripada begini terus. Ya ke dokter, aku temani nanti kita bilang ke


dokternya jangan suntik." Dennis mengharap istrinya mau menuruti.


"Nggak usah, mau tidur saja." ucapnya lesu menyandarkan kepalanya di bahu

__ADS_1


suaminya.


__ADS_2