
Dennis dan Rara kini berada di Pantai Cafe. Yang di penuhi oleh penduduk setempat. Menceritakan
tentang Pantai Cafe ini tidak akan ada habisnya.
Pantai café ini tidak hanya terkenal karena keindahan naturalitas alam, ombak laut, rindang nya pepohonan, hamparan pasir Pantai nan eksotis serta tempat nya yang bersih namun juga karena Pantai ini menjadi
tempat yang khas untuk melakukan dinner romantis bak liburan di Maladewa atau
di Honolulu, Hawaii. Keindahan Pantai café yang bernuansa bak liburan eksotis
dengan lokasi nya tidak jauh dari pelabuhan singgah yacht mewah dan kapal-kapal
barang ini memang sangat pas sebagai tempat tujuan wisata sejenak dari
rutinitas yang membosankan dengan pemandangan natural biru laut, arus burung
laut hingga berbagai hamparan pasir putih dan jajaran pohon rindang yang
menghasi Pantai ini.
Pantai Café menghadirkan kemegahan wisata bahari yang
tiada habisnya mulai dari pemandangan alam, ombak laut yang masih natural,
kebersihan Pantai, hamparan pasir, pepohonan rindang dan masih banyak lagi hal
yang patut dikagumi. Selain itu, fasilitas umum yang terdapat di sini juga
termasuk halaman parkir yang luas, mushola, kamar mandi, rumah makan yang
menjual aneka makanan khas laut.
Obyek Wisata di Pantai Cafe
1. Spot
Dinner RomanticTempatnya yang
eksotis ditambah dengan nuansa bak negeri dongen lengkap dengan gazebo-gazebo
tepi laut dilengkapi hidangan mewah dari resort dan restoran mewah tak pelak
membuat lokasi ini dijadikan pilihan dinner romantis atau pun sekadar meminum
kopi layaknya di café namun tentu lebih menarik.
2. **Pemandangan Malam Berbeda**
Pantai-Pantai lain yang saat malam justru pemandangan tidak nampak, bonus bagi
pengunjung di Pantai Café yang akan disuguhkan kerlap-kerlip cahaya lampu nan
mempesona. Terletak setengah jam dari negara kecil yang sibuk yaitu Singapur
dan geografis nya sebagai pulau transit utama menjadikan posisi nya
menguntungkan dengan gemerlap lampu yang akan terlihat.
3. SunsetBagi pulau yang terletak di wilayah paling ujung Indonesia ini memang tidak heran bahwa sunset
nya akan begitu mempesona di tambah dengan kedamaian suasana yang dapat
dinikmati baik dari dermaga, resort mewah mau pun di bawah pohon kelapa.
4. Spot FotoSangat disayangkan apabila pengunjung tidak memanfaatkan momen. Setengah jam dari
Singapur, terlepas dari Pulau Sumatera, dikelilingi kapal mancanegara, ombak
laut, pasir putih, spot dinner romantic serta batu karang menjadikan Pantai ini
memiliki banyak spot foto yang luar biasa ditambah dengan kerlap-kerlip
pemandangan kota.
5. Sewa PerahuDi Pantai café
ini pengunjung juga dapat menyewa perahu untuk sekadar menikmati indah nya
pulau terluar di Indonesia ini.
Pantai Café
menghadirkan nuansa berbeda dari kebanyakan Pantai yang hanya dijadikan sebagai
sarana menengok keindahan alam yaitu dengan ciri khas nya sebagai spot dinner
romantis bak seraya dinner di Venice.
Rara tengah
duduk di salah satu meja sama memandangan lautan yang sebentar lagi matahari
terbenam. Masih dengan fisik lemas dan lesunya, rasa badmood mulai menjadi -
jadi. Dennis membawa beberapa makanan dari Pantai Cafe ini. Dengan menopang
dagu kedua tangan melipat di atas meja.
__ADS_1
"Ayo di makan dulu, mumpung masih hangat," bujuk Dennis kepada istrinya.
"Nanti saja, perutku belum terasa lapar," jawabnya lesu.
"Kenapa? Sakit? Mau ke dokter?" Dennis makin cemas keadaan istrinya tadi siang juga
begitu setelah berhubungan, sekarang apalagi.
"Nggak mau, mungkin kurang tidur saja." tolak nya bangun dari menopang dagunya.
Menarik sepiring makanan di depannya.
"Kamu demam ya? hangat wajahmu, pucat lagi." Dennis menyentuh bawah rahangnya
menyentuh leher tersebut terasa hangat panas.
"Tidak kok, mungkin tanganmu yang panas kali, orang dari tadi badanku tidak terasa hangat
malah dingin," ucap Rara merancau aneh.
"Dingin? Disini malah panas bilang dingin, nanti kita ke dokter saja ya." bujuk
Dennis mengharap menuruti.
"Nggak perlu, nanti tidur juga mendingan kok," tetap menolak untuk pergi ke
dokter
Dennis cari cara dulu untuk supaya istrinya mau ke dokter periksa. Atau ia mencari google
permasalahannya apa dulu.
****
Pada malamnya Rara berbaring tempat tidur dengan posisi mencueki suaminya. Dia benar ingin
tidur menghilangkan semua rasa resah, lelah, dan lemas nya.
"Kamu benar tidak mau ke dokter? Periksa saja takut kenapa - kenapa." Dennis terus
membujuk istrinya, Rara tetap bersih keras menolak memilih pejamkan kedua
matanya rapat-rapat.
Dennis menghela napas pendek menyerah lebih baik, membiarkan istrinya tidur di sana. Ia memilih
duduk di luar sambil membuka laptopnya.
Hari semakin larut malam kedua mata milik pria berkata sipit ini masih terjaga oleh malam
yang dingin. Menoleh arah tempat ranjang Rara sangat lela dalam tidurnya.
lebih baik dari sebelumnya.
****
Hari sudah pagi matahari mengganggu kedua mata yang tertutup itu dari jendela tersebut. Dennis
tertidur di badan sofa selama berjam-jam ketika tengah malam istrinya merengek
karena sakit perut.
Tengah malam itu pula memasak nasi goreng seadanya saja untuk Rara.. Setelah habiskan nasi
goreng itu, kembali tidur. Dennis yang baru akan melanjutkan alam mimpinya.
Terdengar lagi rengek manja dari istrinya.
Waktu tidurnya tersita lima jam karena keanehan istrinya menjadi-jadi. Sekarang ia begitu
lelah dan kepalanya pusing efek kurang tidur.
"Om! Bangun! Kok malah tidur sih! Hari ini kita jadi kan ke mal?" Rara
membangunkan suaminya yang masih memeluk bantal sofa.
"Ehm..." lenguhnya namun staminanya belum bangun dari alam mimpinya.
Cup!
"Om!"
Rara mencium bibir suaminya, biasanya kalau suami tidak bangun harus kiss morning dulu biar
stamina nya bangun dan semangat lagi. Ini tidak ada reaksi apa pun. Dennis
masih sibuk dengan alam mimpinya.
Rara sudah mencium berulang kali sampai mengeritik pun tidak ada efek apa pun. Dengan cara
kasar "AAARRGGGHHH!!" Dennis membuka lebar kedua matanya terduduk
muka kusam dan berminyak apalagi rambutnya berantakan.
"Kamu sudah bangun, masih sakit? Mau masak apa?" racau Dennis masih belum terkumpul
arwahnya.
__ADS_1
"Sakit apaan sih, Om. Ayo cepat mandi. Kita Mal, nanti keburu ramai terus hujan!"
Rara menarik tangannya untuk berdiri dari posisi duduknya.
Bukan badan Dennis bangun malahan tubuh kecil Rara tertarik maju ke depan dan pria itu
memeluk istrinya kembali tidur ke dunia mimpinya.
Rara terbengong dan menatap wajah suaminya kelelahan. "Om! Ke mal yuk!" bujuk Rara.
Tidak ada sahutan sama sekali, sehingga ia lelah sendiri perlahan membuka kedua tangan
melingkar pinggangnya. Ia pun beranjak pergi meninggalkan suaminya seorang diri
di kamar.
***
Pukul 14.00 siang Dennis baru saja bangun sepertinya stamina kembali full. Dia pun bangkit
dari posisi baring atas sofa itu. Kemudian menuju ke kamar mandi.
Dua puluh kemudian Dennis keluar dengan pakaian santainya. Sekarang ia mencari keberadaan
istrinya, di kamar tidak terlihat wujudnya, menuju ke kolam renang juga sama.
Kembali lagi masuk ke ruang tamu juga tidak sama.
Lalu dia mengaruk kepalanya tidak gatal mengingat kemana perginya si istri aneh itu.
Kedua matanya mendelik dan menelepon istrinya.
"Halo?" tersambung suara manja dari seberang.
"Kamu ada di mana?" Dennis bertanya
"Aku ada di market dekat Mal batam, kenapa? Sudah kenyang tidurnya?"
"Kenapa tidak bangunkan aku kalau mau pergi ke Mal?"
"Aku sudah banguni Om, Om sendiri molor kayak babi!"
"Ya sudah kamu tunggu disana, aku menyusul!"
Panggilan telepon berakhir, Dennis pun pergi menyusul menggunakan kendaraan online.
Sementara Rara tengah duduk menikmati sajian makanan ringan di tempat duduknya.
Terik matahari yang panas memang buat tenggorokan gadis remaja ini kehausan. Dan makanan
ringan seperti kerupuk, roti, kue, dan lain sebagainya penuh dengan bungkusan
plastik sudah habis itu.
Lima belas menit kemudian Dennis menemukan sosok mungil si istrinya sedang menikmati jus di
mejanya.
"Om mau makan?" Langsung Rara menawarkan suaminya makanan.
"Memang kamu sudah makan?" Dennis bertanya kembali
"Sudah, ini mau tambah lagi, makanya tunggu Om datang biar yang habiskan suamiku,"
jawabnya.
Pesanan makanan Rara pun datang, ada sate, lontong sayur, beraneka macam makanan. Dennis
melongo tidak percaya ini penyiksaan atau bagaimana.
"Ini semua kamu yang pesan?" Dennis bertanya
"Iya, kenapa? Om nggak suka makanan yang berat?" jawab Rara balik bertanya.
"Nggak, suka kok," jawabnya mulai memakan pesanan istrinya yaitu sate.
Anehnya Dennis tidak bisa menolak entah bawaan apa menuruti dan menghabiskan pesanan istrinya.
Di lirik kembali wajah Rara kembali memucat, Dennis semakin khawatir ada apa -
apa dengan kondisi kesehatan istrinya.
"Kamu tidak apa-apa?" Dennis menyentuh keningnya, hangat.
"Nggak, cuma pusing. Mungkin efek terik matahari terlalu panas," ucapnya lesu.
"Kalau nggak kita ke dokter saja ya! Aku takut kamu kenapa-kenapa." bujuk
Dennis.
"Nggak suka ke dokter nanti di suntik." menolak lagi si Rara
"Pasti di suntik dong, daripada begini terus. Ya ke dokter, aku temani nanti kita bilang ke
dokternya jangan suntik." Dennis mengharap istrinya mau menuruti.
"Nggak usah, mau tidur saja." ucapnya lesu menyandarkan kepalanya di bahu
__ADS_1
suaminya.