
Central Park Kota Jakarta selalu dikunjungi berbagai kalangan manusia anak sampai orang tua. Rara, Edy, Dennis sampai di tujuan. Gadis cebol ini terus memeluk lengan sang ayahandanya. Sementara Dennis anak ayam mengawasi Raja dan tuan putri.
Ketika memasuki area gedung besar ini, dengan bayangan Dennis katakan para cowok-cowok dari remaja hingga dewasa mengalihkan pemandangan sosok gadis putih cantik pendek terpampang jelas banget paha mulus seperti susu. Bergeming menatap Rara sulit untuk di lepas ada pula bersiul, berbisik.
Cuma dari arah belakang Rara dan Edy ini sepasang mata tajam mengarah para jelalatan ingin di congkel keluar itu dua bola matanya. Cowok-cowok itu pun alihkan pandangan lain, seram tatapan mata dari pria bermata sipit itu.
"Pa, kita makan dulu, yuk?" ajak Rara
Edy turuti saja saat ini putrinya lagi marahan sama Dennis. Pria bermata sipit itu buntuti terus mereka berdua. Berada di meja makanan khas Jepang. Biasa sih makanan Jepang gitulah ada sushi, wasabi, dan lainnya deh.
Dennis duduk di sampingnya gadis cebol ini malahan Rara pindah duduk bersebelahan dengan ayahnya. Padahal pria bermata sipit itu mau rujuk juga.
Rara minta pelayannya catat sesuai dengan dia inginkan, sementara Edy bangun dari duduknya ada telepon mungkin dari bisnis lain. Dia tinggali dulu dua pasangan ini. Rara cuek Bebek saja lebih milih lihat gadgetnya.
Dennis mencuri pandangan arah calon istrinya ini, kalau dia lagi ngambek atau marahan pengen rasanya dia cium atau cubit kedua pipinya. Tidak mungkin dia lakukan tempat umum.
"Ra, Om... "
"Mbak!" Rara memanggil pelayannya, seorang wanita datang menghampiri meja mereka berdua.
Dennis benar menahan sabar sikap calon istrinya ini. Apa dia nggak mau bicara lagi sama dia.
"Mbak, ada tempat lebih nyaman nggak? Soalnya di sini panas sekali," tanya Rara sambil berakting mengipas wajahnya.
Padahal di sini sudah dingin masa bisa panas. Panas karena pria bermata sipit perhatikan sikap gadis cebol ini mencoba menghindar.
__ADS_1
"Mungkin dia lagi Peemes, biasa kalau wanita, bawaannya agresif," sambung Dennis minta pelayannya segera pergi dari sini.
"Bisa saja, Pak," senyum wanita itu, pria itu juga senyum kepada pelayan ini. Sudut bola matanya dia yakin Rara mencebik bibir nggak suka sama pelayan ini senyum - senyum.
Edy pun kembali dan akan duduk, Rara malah bangkit dari tempatnya. Edy jadi makin heran sama sikap putrinya ini.
"Kamu mau kemana?" tanya Edy kepada putrinya.
"Mau jalan-jalan!" ketusnya tidak hiraukan sekitarnya.
"Makan dulu, Ra. Nanti kamu sakit loh." Dennis mencekal calonnya itu. Malah di tepis sama Rara.
"Apaan sih! Bukan urusanmu!" ketusnya lagi kali ini nadanya sedikit meninggi yang ada di tempat pada memperhatikannya.
Rara pun keluar dari tempat makanan khas Jepang, Dennis terdiam. Malahan Edy menatapnya tajam sudah kasih kode kejar putrinya.
Dennis pun mengejar Rara kemana dia pergi. Cepat banget menghilangnya padahal mall sebesar ini nggak mungkin dia menghilang. Bunuh diri nggak mungkin calon istrinya sebodoh itu.
Rara malah santai duduk sambil menikmati es krim di sana. Benar enak baginya, kalau dia lagi bete atau marah cukup es krim saja buat dia hilang segalanya.
Sementara si Dennis kalang kabut mencarinya. Terdengar suara manja dari jauh, ternyata gadis di cintainya duduk sambil menikmati es krim ngobrol dengan seseorang cowok malahan.
"Jadi kamu di sini sendirian?" tanya cowok itu entah siapa berani duduk bersebelahan lagi.
"Nggak, aku kesini sama Papaku," jawabnya.
__ADS_1
"Terus Papa kamu kemana?" tanyanya itu jari tangannya gatal banget sih mulai menyentuh kulit gadis remaja itu.
"Papa aku ada tuh di..."
"Sayang, ternyata kamu di sini ya." Dennis tiba mencium bibirnya sekaligus mencicipi es krim miliknya.
Rara tidak berkutik, pria bermata sipit ini maksudnya apa datang cium tanpa izin. Sedangkan cowok duduk di sebelahnya mundur dan pergi dari sana. Soalnya dia takut sama mata tajam seperti serigala pria tinggi itu.
Dennis duduk di sampingnya menatap wajah gadis aneh ini, dua bola matanya siap menerkam hidup - hidup. Pria itu tidak takut kalau pun gadis aneh ini marah, tidak peduli rasa malu di depan umum menganggap dirinya mesum.
"O..."
Rara belum sempat mengeluarkan semua unek-unek memarahi calon suaminya, Dennis sudah menyosor kembali mencium kali ini tidak lepas. Rasa durian plus jagung meleleh di mulut mereka berdua. Rara membalas walau cuma dua kali terus langsung menunduk karena malu di lihatin semua orang ada di sini.
"Maafin Om, ya. Om terlalu cemburu berlebihan, tapi kita tetap menikah. Apa pun itu. Kalau Om cemburu lagi, sesuka hatimu maki Om, pukul, tapi nggak cara pisah. Om nggak mau pisah, Om cinta kamu. Jadi kamu mau kan jadi istriku, Tiara Adilla Kusuma?" Dengan satu lutut bertumpu di lantai, Dennis mengeluarkan sebuah cincin tanpa kotak merah menujukan kepadanya.
Bisikan mulai ber heboh seperti nyamuk berkumpul, para pengunjung ikut menonton momen dimana seorang pria melamar seorang gadis cebol yang terperangah antara percaya atau tidaknya, pria yang sudah anggap lenyap malah membawa semua romantis tak terduga olehnya sendiri.
"Tiara Adilla Kusuma, selaku namaku sendiri Dennis Lawendra Lee berlutut untuk melamar dirimu menjadi istriku sekaligus pendamping ku selamanya hingga anak masa depan kita kelak. Maukah kamu menikah denganku?" Suara lantang, tegas, dan lelaki banget sekitar terdiam.
Tiba suara dari mana, sampai sebuah lagu pun terdengar. Rara masih tidak berkedip mata menatap cincin masih di tangan pria bermata sipit itu. Es krim di tangannya sudah meleleh. Ini kedua kali buat degupan jantung gadi cebol aneh ini terpaku diam.
"Terima, Terima, Terima!" teriak pengunjung.
Semua pun bersorak meminta Rara menerima, Edy juga menyaksikan momen lamaran itu. Anggukan kepala dari gadis itu bergerak naik turun Dennis senyum lebar dan dipasangkan cincin itu di jari manis kanannya. Satu kecupan kening untuk calonnya itu.
__ADS_1
"Om..." panggilnya, Dennis menjauhkan kepalanya dari kening gadis itu, "Ya?" sahutnya.
"Es krim Rara meleleh! Tanggung jawab!" pekiknya buat Dennis membatu, dia tak sadar. Segera dia bangun dari sana dan minta penjual es krim buatkan lebih besar untuk rasa di campur asal calon istrinya tidak mengamuk bahaya.