
"Sakit Om! Hiks..." rengek dan menangis Rara.
"Maaf, Om nggak sengaja," ucapnya pelan.
"Om, jahat! Aaah... sakit... pelan-pelan!" desisnya
"Om pelan kok, sudah jangan banyak gerak."
Didi dan Dina ada diluar kamar terdengar percakapan mereka, saling berpandangan bergantian. Ada apa dengan mereka didalam sana.
Ceklek!
Kamar pintu terbuka, Rara tertatih-tatih di bantu oleh calon suaminya itu. Pikirdua dua kembar sahabatnya ini sudah kemana-mana.
"Eh, kalian sudah pulang kemana saja sih. Rara cari terus, lapar nih!" celetuknya mengomel
"Iya, tadi ramai penjualnya, kaki kamu nggak apa-apa, kan?" Didi bertanya kepada Rara.
"Tadi sudah mendingan gara-gara Om Oli pakai acara SmackDown. Jadi bekas perban nya ikut berdarah. Ini baru ganti terus diobati lagi," jawabnya mengadu kesalahan kepada Didi
Dennis memilih diam tidak membalas, anehnya kenapa gadis cebol ini kalau bersamanya dia merengek, menangis, manja, terus sama cowok dengkil ini malah percakapan biasa saja.
Di meja makan, Didi meletakkan ayam goreng sama lauk di atas piring Rara sampai bantu kopek daging ayamnya untuk sahabat manis itu.
Dennis masih memperhatikan setiap detik-detik gerak-gerik dari cowok dengkil ini. Sedangkan Dina - sang kakak kembar melirik bermata sipit ini tengah ambang cemburu.
Soalnya Rara dan Didi melakukan kegiatan seperti masa kecil saling suap menyuap apalagi Didi suka banget mengupas daging ayam pisahkan dari tulangnya.
"Om, cemburu ya sama Rara dan Didi?" bisik Dina bertanya kepada Dennis
__ADS_1
"Nggak," jawabnya berbohong, kenyataan dia benar cemburu lebih dari itu.
"Oh, tapi mereka romantis banget loh, Om. Nggak takut kalau Rara di rebut sama adikku?" bisiknya lagi
"Nggak," jawabnya cepat
Dennis bangkit dari duduknya mengangkat piring selesai dari makan malamnya, setelah itu dia melangkah kaki kearah luar mencari angin. Rara mencuri perhatian dari jauh.
"Om, mau kemana?" tanyanya, "Mau cari angin," jawabnya.
"Ikut!"
"Makan saja sama cinta pertamamu."
Pria bermata sipit itu pun keluar suhu udara malam hari semakin dingin, dikeluarkan bungkusan rokok, selalu dia bawa untuk menghilangkan rasa kesal atau pikiran tercabik-cabik. Menyalakan api dengan marcisnya lalu mengisap sedalam-dalamnya mengempulkan asap. dari mulutnya itu.
Apa. cemburu banget sama cowok dengkil itu. Mereka sudah lama bersahabat, terus gadis cebol itu. . . benar ingin aku ikat dia...
Dia tidak ingin gadis itu mengetahui kalau dia memang tercandu rokok sejak lama.
"Om, nggak kasihan sama rokoknya? di isap begitu. Sakit loh Om daripada sakit di sini." Di tunjukin lututnya.
Dennis kembali tidak membalas kata-kata gadis aneh yang sudah jadi calon istri itu. Dia tidak ingin menunjukkan rasa cemburu yang sudah di tahannya dari siang.
"Om setelah nanti kita menikah, liburannya di sini saja ya?" ucapnya lurus kedepan melihat jalanan kampung
"Kenapa?" tanyanya penasaran
Jangan bilang mau ketemu terus sama cowok dengkil itu. Nggak aku izinkan!
__ADS_1
"Pengin main terus sama Kak Didi. Soalnya mengenang kembali masa kecil dulu. Soalnya Rara suka tempat ini," jawabnya
"Jadi nggak mau main sama Om? Ya sudah menikah saja sama dia," ucapnya datar bangun dari duduknya lalu masuk kedalam tidak berpaling kebelakang lagi.
Rara terpaku diam ketika mendengar atas ucapan dari calon suaminya.
Kok Om Oli ngomongnya begitu sih sama aku? Lah, memang aku ada salah menjawab ya?
Disusul masuk kedalam minta penjelasan sama pria bermata sipit itu. Untuk saat ini pria itu tidak ingin diganggu dia butuh menenangkan pikirannya.
"Om, marah ya? Kalau Rara asyik sebut nama Kak Didi?" tanyanya pelan takut calon suaminya marah banget.
"Kak Didi itu sudah Rara anggap abang angkat sendiri nggak lebih. Tadi siang Kak Didi ungkapin perasaan ke Rara. Kalau dia itu cinta pertamaku. Selama berteman dan bermain dengan Kak Didi, Rara memang jail suka bikin dia malu di depan semua teman-teman. Cuma Rara bangga punya keberanian seperti Kak Didi. Dia penyayang seperti menyayangi kakak kembarnya,"
".... Om pasti mengira kalau cinta pertama Rara itu Kak Didi. Cinta pertama Rara itu Om Oli sudah buat jantung Rara berdebar-debar kayak aliran listrik, terus kesetrum mendadak kadang Om itu cuek bikin hati Rara greget pengen banget buat tarik pipi Om."
Dennis mendengar celotehnya gadis aneh bin ajaib ini. Dia tidak dalam keadaan tidur suka saja cara bicaranya.
"Om sendiri nggak mau perjuangin cinta Rara, Rara capek terus ngejarnya sampai luka di lutut pun jadi korban. Rara tau usia kita sangat jauh seperti paman dan keponakan. Tapi, Rara cuma mau memilih yang terbaik. Kalau Om memang nggak mau nikah sama Rara. It's Okay setelah ini aku bilang ke Mama Papa membatalkannya. Terus kita jalan-jalan masing-masing saja, untuk perasaan, hati, cinta, anggap itu permainan anak - anak."
"Ya sudah, selamat tidur mimpi yang indah. ciuman terakhir."
Rara turun tempat ranjangnya keluar dari kamar itu. Perlahan pria yang tadi sempat tertidur membuka mata menatap pintu depan kamar tertutup rapat.
Saat ini gadis kecil itu tengah duduk diluar sedang menikmati alam malam hari, sudah subuh loh. Masih belum tertidur matanya terjaga ngeronda nih. Gimana nggak begadang anak orang menangis sedang patah hati. Dia mau berteriak ikut bergabung dengan para kodok dan jangkrik bernyanyi takut ganggu tidur para warga setempat.
Sedih banget, Om kesel, Om Oli resek! Kesel! Uh... masa pisah sih! Huaaa.... Mama Papa, Rara nggak mau pisah!!!
Hatchi!
__ADS_1
"Kenapa Pa? Papa sakit?" tanya Nella.
"Nggak tau Ma, mungkin sudah mulai musim hujan, tidur lagi, Ma. Mau di peluk manja." jawabnya mesranya.