
"Masih sakit?" Dennis bertanya sambil mengusap-usap kepalanya itu. Rara sedang menikmati minuman buatan dari calon suaminya. Dia hanya mengangguk pelan terlalu enak minuman itu.
"Maafi, Om ya," ucap Dennis pelan di selipkan rambut terbang menutupi wajahnya itu. Rara mengangguk lagi angin sore hari sepoi-sepoi sepertinya akan turun hujan dari langit bisa di lihat oleh mata kepala sendiri gelap sebagian arah selatan.
Nella ikut bergabung dengan mereka, dia membawa beberapa buah-buahan waktu beli di pasar bersama suaminya. Rara menyomot buah itu di letakkan minuman sirup samping kanannya.
"Masih sakit?" Nella bertanya kepada putrinya melirik benjolan biru pada keningnya.
"Lumayan, Ma," jawabnya pelan.
Sementara Dennis sedang berbincang-bincang dengan Edy sangat serius. Mungkin sedang membahas pekerjaan. Buktinya Nella sengaja bawa buah untuk putrinya.
"Apa kamu tulus cinta sama Om Oli?" Nella mulai mengalihkan topik pembicaraan.
"Cinta banget, memang kenapa? Mama mau coba pisahin Rara dari Om Oli? Rara nggak seperti masa lalu Mama sama Papa menunggu dua tahun baru menikah," jawabnya serius dan tegas banget.
"Mama nggak bilang begitu loh. Mama kan cuma tanya doang. Kok kesimpulan kamu begitu?" ucap Nella menggigit jambu merah.
"Bisa, kan, Mama mau pisahin Rara dari Om Oli. Dari cerita Papa waktu kemarin. Rara sudah membayangkan bagaimana kalau benar hubungan ini bakalan pisah," katanya pelan sedikit sedih sih. Ya dia saja tidak rela harus pisah. Dua tahun itu sangat lama apalagi belum tentu perasaan Dennis bisa setia sama gadis remaja ini.
Nella menghembus napas pendek, di usap pundak putrinya itu. Sifatnya benar beda darinya. Putrinya bisa berpikiran lebih dewasa daripada pikiran waktu mudanya.
"Mama juga nggak mau kamu pisah dengan Om Oli. Mama rasa kamu benar sudah yakin dan serius dengan keputusan kamu. Mama harap setelah keluarga kita selalu rukun, bahagia dan harmonis." Senyum Nella kok kata-katanya lebay banget sih.
"Mama kok makin lebay begini, pastilah keluarga kita selalu bahagia. Yang menciptakan kebahagiaan adalah kekonyolan Mama dan Papa," ujarnya membuyarkan semua keheningan.
Suara petir mulai terdengar dan rintihan air hujan berjatuhan satu persatu di daratan taman serta bunyian genteng pun ikut bernyanyi.
__ADS_1
Nella dan Rara sibuk tak menentu mengangkat gelas minuman dan piring masih berisi buah-buahan itu. Hujan pun turun semakin deras, mereka berdua tergesa-gesa masuk kedalam tanpa alas kaki lagi.
Basah kuyup akibat air hujan menghujani mereka. Nella dan Rara tertawa bersamaan, sepertinya Rara menyukai air hujan. Kembali lagi Rara keluar membiarkan tubuhnya basah keseluruhan.
Dennis membawa payung berikan kepada gadis remaja itu eh, bukannya masuk ke rumah malah dapat jebakan batman. Rara menarik tangan pria bermata sipit Sekuat-kuatnya ikut masuk ke dalam kolam renang.
byurrr
Keduanya bersama-sama mandi hujan sekaligus bermain air. Tubuh sekecil itu hanya sampai dada air kolam renang, sedangkan Dennis setengah dada.
"Nanti kamu sakit!" teriak Dennis
"Hah? Apa?" teriak Rara suara air hujan mempekakan telinganya belum lagi petir tiba-tiba mengejutkan gadis remaja itu.
"Kyaaa...!!!"
Dennis balas memeluknya bukannya menghibur tapi menertawakan gadis cebol ini, keras banget buat gadis itu merengut terus menggigil. Dia berenang menjauhi pria bermata sipit itu.
Tidak menemukan gadis remaja aneh itu dari kolam berenang, dia menyelam mencari - cari tidak ketemu. Kalang kabut menghantuinya seketika.
"Rara...!" teriaknya keluar dari air saat menyelam, muncul sosok yang bingung melihat calon suami seperti kesetanan.
"Aaaaa argghhh!!" kagetnya
"Om kenapa sih?" tanyanya, "Justru aku bertanya kamu kemana! Jangan buat aku khawatir begini!" teriaknya menjawab
"Tadi aku ambil minum, mama letakkan di sana, ya, maaf kalau buat Om Oli cemas," rengut Rara jadi serba salah. Eh... Dennis main peluk segala.
__ADS_1
Akan tetapi Rara mendengar degupan detak jantungnya loh. Sangat jelas, sebaliknya dia juga. Huh... benar romantis deh. Nggak bisa bayangi kalau sudah sah jadi suami istri.
Pria itu melepaskan pelukan gadis remaja itu. Tidak peduli yang lagi menonton gratis dari kejauhan. Sekarang adalah keromantisan berdua mereka, Rara sih menutup mata dan rasa dingin bersentuhan menjadi hangat.
Nella dan Edy kembali tontonan gratis, mereka mengingat kembali masa muda ketika Nella kehujanan dan jatuh pingsan karena patah hati.
****
"Jadi kapan kalian merencanakan pernikahan? Akan di selenggarakan dimana? Hotel Papa? Atau hotel lebih besar punya Papa?" pertanyaan bertubi-tubi untuk Rara dan Dennis tengah duduk menikmati makan malam.
"Terserah Papa saja, Rara tinggal menanti hamil saja, nggak perlu menikah juga nggak apa-apa langsung kawin saja!" jawab gadis aneh itu.
Dennis kembali tersedak untuk kedua kalinya, "Aduh Om kenapa sih! Makan yang pelan dong, kan Rara gak minta?" di bantu memukul pundaknya Dennis minum satu gelas ada di depannya.
Nella dan Edy senyum-senyum tidak heran sama sikap absurd putrinya.
"Tidak bisa begitu dong, sayang. Menikah yang resmi baru sesuka kalian lakukan apa saja, mama nggak minta banyak kok cucunya cukup satu saja sudah senang." kata Nella bersuara.
"Nah itu, Om... Kata mama bilang cukup satu ronde saja bisa buat anak langsung jadi. Bagaimana Om, kuat sanggup berapa?"
Edy, Nella dan Dennis melongo dengan pertanyaan dari gadis cebol aneh bin ajaib ini. Perkataan dari ibunda jauh beda dengan pertanyaan putrinya. Tanpa ada rasa malu kata demi kata terlontar dari mulutnya.
"Kenapa? Ada salah sama pertanyaan Rara?" dia bertanya lagi kepada tiga dewasa ada di tempat meja makan.
Sepertinya putriku otaknya terbalik sebelah - batin Nella
Kayaknya salah minum obat putriku - batin Edy
__ADS_1
Apa karena benturan kepala tadi ya jadinya dia tergeser sedikit otaknya? - batin Dennis.
"Apa aku salah bertanya?"